Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Hanya Tinggal Kenangan.


__ADS_3

Kevin merasa sangat menyesal sekali. Ketika mendengar Keenan bercerita tentang perjumpaannya dengan Gia di danau tadi. Sungguh dirinya tidak menyangka jika Gia dan keluarganya akan ada di tempat itu. Bodohnya dirinya hanya karena demi protesnya kepada orang tuanya dia menolak untuk ikut rekreasi keluarga. Dan kini dia hanya bisa menyesalinya. Kevin pun berniat besok dikampus dia harus menemui gadis itu. Sekalipun gadis itu akan terus menghindarinya, dia tidak akan menyerah. Sebelum berjuang dia tidak akan pernah menyerah.


Keesokan harinya, sesampainya di kampus, Kevin langsung mencari Gia disetiap sudut kampus. Di kelas, di kantin, perpustakaan, laboratorium. Tapi Gia tak ada dimanapun juga. Apa mungkin hari ini Gia tidak ada kelas? Seingatnya hari ini Gia ada kelas karena mereka pernah satu kelas. Sudah hampir menuju tengah hari, sosok Gia belum juga kelihatan. Kevin hampir putus asa.


Dengan wajah lesu, Kevin duduk dibangku yang ada di koridor kampus. Para mahasiswa lalu lalang dihadapannya. Tak sedikitpun Kevin terusik dengan kehadiran mereka. Pikirannya masih fokus mencari keberadaan Gia. Entah kemana gadis itu menghilang. Keberadaannya telah mengacaukan suasana bathin dan hati seorang Kevin.


Dalam suasana kegelisahan hatinya, Kevin tidak menyadari jika Gia baru saja muncul bersama dengan teman-temannya. Disaat dirinya terbelenggu keresahan dan kegelisahan, Gia yang ingin menghindar dari sana, merasa tidak tega melihat kondisi Kevin yang terlihat menyedihkan. Gia pun memutuskan untuk menemui pria berhati lembut itu. Didatanginya Kevin yang duduk tertunduk lesu.


" Hai!" sapa Gia.


Kevin spontan mendongakkan kepalanya setelah mendengar suara Gia yang begitu merdu menggema di telinganya. Ketika dilihatnya sosok Gia berdiri persis dihadapannya Kevin langsung bangkit dari duduknya dan dengan refleks dipeluknya Gia mencurahkan kerinduan hatinya yang terpendam beberapa hari ini. Gia yang sebenarnya sedikit terkejut dengan perlakuan Kevin tak kuasa menolaknya. Dibiarkannya Kevin memeluknya tanpa berniat untuk menolaknya. Perbuatan mereka berdua menjadi pusat perhatian bagi para mahasiswa tapi Kevin tak peduli sama sekali. Karena yang terpenting saat ini adalah dia tidak akan membuang kesempatan yang mungkin saja tidak akan terulang untuk kedua kalinya.


Kevin seakan tidak ingin melepaskan Gia. Hatinya tidak rela harus kehilangan Gia lagi. Tak peduli anggapan orang lain tentang dirinya, tak peduli dengan keluarganya yang tidak merestui dirinya untuk berhubungan dengan Gia. Gia pun hanya pasrah berada dalam pelukan Kevin. Dalam benaknya saat ini hanyalah ingin memberikan kenyamanan bagi Kevin. Gia berharap semoga Kevin menjadi lebih tenang, kesedihannya berkurang.


Setelah merasa cukup puas, Kevin melonggarkan pelukannya. Ditatapnya kedua bola bening yang indah itu. Tatapan yang begitu dalam.


" Gi, aku tidak bisa lagi harus menahan perasaanku lebih lama lagi. Aku tidak sanggup lagi jika harus berpura-pura tak ada perasaan, berpura-pura tak peduli. Karena semua itu hanya menyakitinya hatiku.!" Kevin mengutarakan ungkapan hatinya. Meski bukan kali pertama dirinya menyampaikan isi hatinya kepada Gia. Namun kali ini dengan debaran yang berbeda. Jika diawal dia hanya merasa penasaran dengan sosok Gia, tapi kali ini murni dan tulus sebagai rasa cinta dan sayangnya kepada Gia.

__ADS_1


Gia tertunduk kemudian membalas tatapan Kevin. Tarikan napasnya sedikit berat. Pikirannya sudah merangkai kata-kata apa yang harus disampaikannya kepada Kevin. Kata-kata yang semoga tidak melukai hatinya.


" Jujur, hatiku bahagia karena kamu memiliki perasaan yang tulus kepadaku. Aku merasa sangat beruntung bisa dicintai olehmu. Dan aku yakin kamu pasti akan membahagiakan wanita yang kamu cintai dengan sepenuh hati. Tapi......!" Gia diam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. Ditariknya napasnya seakan sedang menghimpun kekuatan untuk mengungkapkan semua isi hatinya. Sedangkan Kevin terlihat sangat sabar menunggu untuk Gia menyelesaikan pembicaraannya.


Lalu Gia menangkup wajah Kevin dengan kedua tangannya. Ditatapnya lekat bola mata hitam dan tajam itu. Gia merasa nyaman ketika menatapnya.


"Aku....minta maaf.!" suara itu terdengar sedih. Kevin menjadi gelisah. Dia bisa merasakan jika makna dari nada kesedihan itu pasti tidak menyenangkan untuk didengarkan. Namun dia berusaha untuk tetap diam mendengarkan.


" Bukan karena aku meragukan cinta dan kasih sayangmu. Hanya saja mungkin takdir cinta kita tidak bisa dipersatukan.!" Mendengar perkataan Gia sudah pastinya mengiris-iris perih hati Kevin. Dia bisa mengerti apa arti dari perkataan tersebut. Bukan penolakan tapi menyerah. Ya, menyerah pada takdir yang menorehkan tinta perpisahan antara mereka berdua.


" Apakah kamu tidak ingin menemaniku berjuang mempertahankan cinta antara kita berdua? Kevin berusaha meneguhkan keyakinan hati Gia. Mungkin saja dia merasa ragu dan kurang percaya diri.


" Apakah kamu juga mencintaiku?" Tanya Kevin untuk memperjelas bagaimana perasaan sebenarnya gadis itu kepadanya.


" Aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan cinta tapi hatiku ketika bersamamu merasa nyaman, bahagia dan tenang.!" ungkap Gia mendeskripsikan suasana hatinya saat bersama dengan Kevin.


" Apakah hatimu tidak punya keinginan untuk menjalani kehidupan ini bersama-sama dengan diriku? Berjuang bersama menggapai masa depan kita.!"

__ADS_1


Gia terdiam mendengarkan kata-kata Kevin. Dia seakan-akan sedang merenungkan setiap perkataan Kevin. Mencoba menelaah setiap kata dan menguraikannya dalam benaknya. Perasaanya saat ini memang tidak jelas. Apakah mencintai Kevin dengan setulus hati dari kedalaman jiwanya, atau hanya sekedar menaruh kasihan dan haru karena kebaikan hati pria lembut itu.


Melihat Gia terdiam, Kevin mengerti jika gadis itu belum bisa menentukan pilihan hatinya. Dia belum bisa mendengarkan keputusan suara hatinya. Resah dan gelisah yang mengiringi hatinya menunggu jawaban Gia perlahan mulai memudar dan sirna.


Kevin kini mencoba untuk lebih percaya diri dan menilai positive segala sesuatu. Dengan demikian dia bisa berpikir dengan lebih baik dan mampu membuat suatu keputusan tidak lagi hanya menuruti ego sendiri. Tapi demi kebahagiaan bersama. Tidak hanya berpusat pada kebahagiaan diri sendiri tetapi kebahagiaan semua orang yang hidup bersama-sama dengannya.


Karena kita hidup bukan sekedar mencari kebahagiaan diri sendiri. Setiap orang layak untuk menikmati kebahagiaan dalam hidupnya. Tetap kita juga diharapkan untuk memberikan kebahagiaan kepada sesama. Cinta kasih yang sejati tidaklah mencari kenikmatan sendiri, tidak cinta diri, tidak angkuh dan menyombongkan diri.


Cinta kasih yang sejati itu, murah hati, sabar meski dalam penderitaan, tidak memegahkan diri. Bahkan rela berkorban. Kevin pun belajar untuk menerima dengan ikhlas. Bukan berarti menyerah tetapi berpasrah. Menyerahkan segalanya kedalam kehendak dan rencana Sang Maha Kuasa.


Lalu Kevin menyunggingkan senyum terbaiknya. Dibelainya rambut Gia dengan lembut dan penuh kasih sayang.


" Seberat apapun aku harus berjuang demi cintaku kepadamu aku akan terus berjuang. Namun aku tidak akan memaksakan kehendakku sendiri. Jika aku harus berkorban demi cinta kita, semoga aku bisa melakukannya. Tapi aku tidak akan membiarkan cinta kita hanya tinggal kenangan semata.!" Kevin dengan percaya diri dan meyakinkan Gia agar tidak merasa ragu untuk mempercayai cinta yang ada dalam hati Kevin untuk dirinya.


" Aku percaya dengan semua perkataanmu. Hatiku bisa merasakan kejujuran dan ketulusan dari hatimu. Semoga saja Tuhan memberikan yang terbaik!" Gia memberikan peneguhan.


Langit cerah kali ini begitu bersih. Awan-awan tak nampak mengapung seperti biasanya menutupi keindahan birunya cakrawala. Matahari menantang dengan teriknya yang membakar. Untunglah sang pawana masih meniupkan kesegaran dan sejuknya sehingga panasnya sedikit terobati.

__ADS_1


Ujian cinta ternyata tak akan pernah berakhir bagi setiap pecinta di dunia ini. Karena cinta sejati perlu diuji dan diasah untuk mempertajam kesetiaan dan kesuciannya. Kembali mereka berdua saling mendekap. Menyalurkan perasaan-perasaan yang ada dalam diri mereka masing-masing.


Hati dan raga mereka yang berbicara mengungkapkan bentuk cinta yang mereka rasakan saat ini. Alam semesta menjadi saksi.


__ADS_2