Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Diantara Dua Pilihan


__ADS_3

Flash off.......


Ternyata sepanjang khayalan Eva tadi Grego berada di belakang punggung Eva. Memperhatikan setiap sikap dan gerakan aneh yang sedang terjadi dalam diri Eva. Grego bisa melihat jika Eva sedang tidak fokus. Raganya memang berada ditempat ini tetapi hati dan pikirannya berada di tempat lain. Aletta yang dari tadi juga sudah memperhatikan sahabatnya itu, mencoba untuk mengalihkan perhatian Eva agar tersadar dari lamunannya. Namun dia tidak tahu harus berbuat apa. Takutnya boss nya itu malah akan balik memarahinya.


Aletta malah mengetuk-ngetuk pena yang ada di tangannya ke atas meja. Berharap dalam hati Eva mendengarkannya dan menoleh ke arahnya. Namun yang diharapkan sepertinya tidak akan terwujud sama sekali.


Grego pun juga berusaha menyadarkan Eva dari lamunan dan khayalannya. Dia mencoba mengeluarkan suara dengan berpura-pura batuk.


" Ehem.... ehem.....ehem...!


Tapi usahanya itu hanyalah sia-sia. Eva sama sekali tidak terpengaruh. Dia masih sibuk dalam khayalannya.


Grego semakin memperbesar volume suara batuk pura-puranya.


" EHEM... EHEM....!


Dan Eva pun merasa terkejut dan tersadar dari lamunannya. Dicarinya sumber suara yang mengganggu lamunannya itu. Ketika wajah itu memandanginya dengan tatapan dingin dan amarah Eva yang sudah kembali sadar dan tahu jika dirinya sekarang ada dalam bahaya ancaman kemarahan dari sang boss. Nyalinya langsung ciut. Diliriknya Aletta yang menatapnya dengan tatapan kasihan. Matanya seakan mencari pertolongan untuk dapat menyelamatkannya dari amarah si boss. Eva tertunduk tetapi pandangannya masih menatap kearah sang presidir.


Bola matanya memancarkan aura ketakutan dan mohon belas kasihan. Grego yang memperhatikan mata dan wajah Eva yang berharap belas kasihan menjadi luluh juga. Tapi dia tetap bersikap sebagaimana seorang boss bersikap terhadap karyawannya yang ketahuan sedang tidak fokus dengan pekerjaannya.


" Tolong segera datang ke ruangan saya." ucapnya dengan tegas dan setelah mengatakannya Grego langsung beranjak dari sana dan masuk ke ruangannya.


Eva tahu jika dia akan mendapatkan masalah akibat kelalainnya itu. Ditatapnya Aletta dengan wajah penuh belaskasihan minta tolong. Sedangkan Aletta hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu sahabatnya itu. Eva pun segera bergegas menuju ruangan sang presidir. Dia tidak ingin si Boss bertambah marah karena menunggunya terlalu lama.


Dengan langkah perlahan-lahan Eva memasuki ruangan si boss. Di tutupnya pintu dengan ragu-ragu, dilangkahkannya kakinya menuju meja si boss. Kedua tangannya saling diremas-remaskannya untuk menghilangkan sedikit rasa takut dalam hatinya.


Dia berdiri tepat di hadapan si boss, diberanikannya dirinya untuk bertanya kepada si boss.

__ADS_1


"Ada apa ya Tuan Muda? Apa ada pekerjaan yang harus saya kerjakan? Tanya Eva dengan suara pelan tapi sedikit bergetar karena rasa takut.


Tapi Grego malah menjawabnya dengan suara lembut dan hangat.


" Kamu duduk dulu Va, aku mau mengatakan sesuatu sama kamu!


Mendengar suara si boss yang tiba-tiba lembut dan hangat tidak seperti intonasi bernada marah ketika bicara di luar tadi.


Eva pun segera mengatur duduknya di kursi yang ada dihadapan bossnya itu.


" Maaf ya Va, kalau tadi suaraku sedikit keras! ucapnya dengan suara teduhnya.


Eva yang mendengarnya tentu saja merasa terkejut dan heran. Kok tiba-tiba saja si bossnya itu malah minta maaf. Padahal seharusnya boss nya itu kan memarahinya karena tadi dia tidak bekerja dengan baik. Tapi ini kok malah dia yang meminta maaf karena sudah menegurnya tadi.


Eva pun tidak tahu harus menjawab apa. Dia jadi bingung sendiri tidak tahu dimana letak kesalahan si boss yang minta maaf pada dirinya.


" Kenapa Tuan Muda meminta maaf? Harusnya kan saya yang harus meminta maaf karena tadi tidak bekerja dengan baik! ucap Eva dengan wajah masih kebingungan.


" Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara hal sangat pribadi, apalagi masih berada di kantor, tapi hatiku merasa kalau aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi jika aku tidak mau menyesal dikemudian hari." ucap Grego dengan mimik serius.


Eva pun dibuatnya penasaran. "Wah, sepertinya ini memang sesuatu yang sangat penting sekali. Apa jangan-jangan aku akan segera dipecat karena kinerja pekerjaanku tidak memuaskan." bathin Eva berkecamuk.


Rasa takut, khawatir, gelisah bercampur aduk menjadi satu.


Terlihat Grego menarik napasnya cukup dalam. Ditariknya tangan Eva yang berada di atas meja kerjanya, digenggamnya jari-jemari Eva yang mungil dengan penuh kelembutan.


"Va, saya mau jujur sama kamu, kalau selama ini aku sudah jatuh hati sama kamu! ucap Grego dengan tegas dan yakin.

__ADS_1


Sedangkan Eva yang mendengarnya bagaikan tersengat serangan jantung. Godaan apalagi ini? Belum lagi persoalannya dengan Joe tuntas, muncul persoalan baru dari bossnya itu. Mulut Eva terkunci tak dapat berbicara. Hati dan pikirannya tak tahu lagi sedang berkelana entah kemana.


Dia hanya ingin menghilangkan diri dari hadapan bossnya itu, menghilang ke kutub selatan membekukan diri agar tak lagi berhadapan dengan mereka yang sudah membuatnya sangat pusing.


" Kamu tidak perlu menjawabnya hari ini. Tapi aku berharap, kamu mau menerima cinta dan kasih sayangku yang ingin kuberikan kepadamu dan juga Gio." ucap Grego dengan percaya diri.


" Aku sangat ingin bisa berbagi kebahagiaan bersama kamu dan Gio, karena aku merasa sangat bahagia saat melihat kalian berdua." lanjutnya lagi sambil tetap menatap Eva dengan tatapan cinta.


Eva pun hanya bisa tertunduk pasrah. Tak satupun kata melekat di kepalanya saat ini untuk menjawab ungkapkan hati dari bossnya itu.


Tiba-tiba saja bayangan Joe muncul di pikirannya. Dalam waktu bersamaan kedua wajah itu muncul dalam benaknya. Kemudian muncul bergantian bagaikan slide foto yang menari-nari di kepalanya.


Antara Joe dan Grego. Eva kini berada dalam dua pilihan. Dan kedua pilihan itu sangatlah begitu sulit sekali untuk dipilih.


Haruskah dia berada dalam pilihan yang sulit ini? Yang tak pernah di bayangkan olehnya. Bahkan sama sekali tak pernah sekalipun terlintas di benaknya akan mengalami situasi yang sangat sulit ini.


Eva kini sedang merenung sendiri di dalam kamarnya. Pikirannya benar-benar sangat kacau. Entah jawaban apa yang harus di berikannya untuk menjawab permintaan kedua lelaki yang telah jatuh cinta kepadanya disaat yang hampir bersamaan.


Hatinya tidak sanggup untuk menolak salah satu dari mereka karena pasti akan menyakiti hati mereka. Dan tidak mungkin juga untuk menerima keduanya. Apa kata dunia jika hal ini sampai terjadi.


Lalu Gio pun muncul dan ketika melihat Bundanya dia mengerti jika Bundanya itu sedang memikirkan sesuatu.


Didekatinya sang Bunda, kemudian di sentuhnya punggung sang Bunda. Eva yang merasakan ada sentuhan di tubuhnya langsung berbalik dan melihat Gio yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sayang Bunda! sapanya lembut.


"Bunda lagi memikirkan apa? tanya Gio dengan sikap dewasanya.

__ADS_1


"Tidak mikirkan apa-apa sayang! jawab Eva sambil tersenyum.


"Gio bisa merasakan kalau Bunda sedang memikirkan sesuatu." ucap Gio dengan polosnya. Eva mengerti kalau anaknya itu sangat kritis dan pintar. Gio bisa mengerti dengan baik apa yang sedang dirasakan olehnya. Karena itu Eva tidak bisa berbohong pada anaknya itu. Dan Eva tahu, jika sudah saatnya baginya untuk memberitahukan Gio. Walau bagaimanapun hal ini menyangkut masa depan mereka berdua. Sudah saatnya Eva mendengarkan pendapat dari putranya itu.


__ADS_2