
Keesokan harinya. Joe datang berkunjung ke rumah Grego. Sudah beberapa minggu ini dia tidak datang seperti biasanya. Urusan pekerjaan di luar kota mengharuskan dia untuk pergi dan tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Joe sedang bercengkerama dengan Grego, Eva dan Gio. Sedangkan Gia belum kembali dari kampusnya. Tak lama kemudian, Gia muncul. Wajahnya sumringah apalagi ketika melihat Joe ada disana.
" Yeee.... ada om Joe.! teriaknya gembira. Gia berlari kecil lalu memeluk Joe dengan girang. " Om Joe kemana aja sih. Gia kan kangen om! rengeknya manja. Dengan Joe, Gia seakan ingin bermanja ria. Pria paruh baya itu selalu memperlakukan dirinya seperti putri kecilnya yang sangat istimewa. Kasih sayang Grego juga tidak kalah besarnya untuk putri kandungnya itu. Tapi tetap saja rasanya berbeda.
" Gimana kuliahnya? Tidak membosankan kan? tanya Joe.
" Nggk dong om. Gia malah senang. Gia juga punya banyak teman yang baik. Mata kuliahnya juga menarik dan yang paling penting Gia sudah sejak lama bercita-cita ingin bersekolah tinggi.! curhat Gia.
" Bagus dong. Om bangga sama kamu.! puji Joe.
" Tapi om mau tanya dech, sepertinya kemarin sore Om lihat kamu di rumah seseorang. Awalnya Om nggk yakin kalau itu kamu, tapi semakin Om perhatikan ternyata itu kamu. Itu teman kamu ya? tanya Joe sedikit menyelidik.
" Iya Om dia itu teman kampus Gia. Itu loh kakaknya Keenan, anak kecil yang Gia tolong tempo hari. Gia awalnya nggk tahu kalau dia itu punya adik.! jawab Gia. " Kemarin itu, Gia ke rumahnya karena Keenan pengen ketemu Gia. Keenan rindu sama Gia dan kebetulan Gia juga rindu dengannya.! sambungnya lagi. Mendengar perkataan Gia, Joe terdiam sejenak. Benaknya sedang memikirkan sesuatu.
" Oh iya, Bunda juga rindu dengannya. Anak itu menggemaskan. Dan kebetulan sekali Keenan mengingatkan Bunda kepada kakakmu waktu masih seumuran dia.! lanjut Eva kemudian mencoba mengenang masa lalu bersama Gio kecil. " Kapan-kapan kamu ajak dia kemari lagi, boleh kan. Setidaknya kita bukan orang asing lagi baginya. Apalagi Gia yang sudah menolongnya waktu itu.! ucap Eva antara meminta dan berharap.
" Iya Bund, Gia juga berpikir demikian. Tapi sepertinya itu susah Bund. Karena orang tuanya melarang Keenan untuk keluar dari rumah kecuali pergi sekolah ! jawab Gia dengan mimik sedih.
" Kok dilarang! Emang kenapa? tanya Bundanya penasaran.
" Nggk tahu juga Bund, Gia hanya dengar waktu Keenan keceplosan ngomong.! ucap Gia.
" Kamu ketemu sama orang tua mereka? tanya Eva lagi.
" Nggak Bund. Gia nggk sempat bertemu mereka. Sepertinya mereka orang sibuk, jarang dirumah. Makanya Keenan sangat senang waktu ketemu Gia. Keenan Sepertinya anak kesepian yang merindukan kasih sayang orang tuanya. Gia jadi kasihan Bund! curhat Gia dengan sedih.
Eva pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya yang mengartikan bahwa dia mengerti maksud perkataan Gia. Bahkan Grego ikut mengangguk mengikuti istrinya itu. Sedangkan Gio masih duduk tenang mendengarkan cerita Gia.
__ADS_1
Sedangkan mimik wajah Joe sedikit berubah. Yang tadinya masih cerah sumringah, berubah menjadi serius dan sedikit tegang. Yang ditakutkannya mungkin belum terjadi. Tapi jika dibiarkan bisa saja suatu saat akan terjadi hal buruk yang akan melukai keluarga Grego. Yang sudah menjadi keluarga baginya.
Melihat ekspresi Joe yang berubah seketika mendapat perhatian dari Grego.
" Ada apa Joe? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu! tanya Grego.
" Oh, nggk kok. Nggk mikirin apa-apa.! sanggahnya mengelak. " Oh ya Greg, aku mau tanya soal pekerjaan sama kamu. Boleh bicara di ruangan kamu nggk? lanjutnya kemudian.
" Oh, boleh-boleh. Ngomong soal pekerjaan memang harus di tempatnya. Yuk kota ke kantor ku aja! ajak Grego. Lalu mereka berdua beranjak menuju kantor Grego yang khusus di pakai saat kerja dari rumahnya.
Setelah masuk di kantor Grego, Joe pun mengatakan yang sejujurnya kepada Grego.
" Sorry Greg, sebenarnya aku tidak ingin m membicarakan soal pekerjaan. Tetapi ini soal Gia.!
Grego menatap Joe dengan ekspresi penasaran. " Kenapa dengan Gia?
Joe menghembuskan napasnya. Terasa berat dan sesak.
" Via? Mantan pacar kamu itu kan.? Yang bertunangan sama kamu ? Tanya Grego memastikan.
" Hampir. Belum jadi tunangan! jawabnya keberatan dengan ucapan Grego.
" Ada apa dengan dia? Apa hubungannya dengan Gia kita? Grego semakin penasaran.
"Kemarin itu, tanpa sengaja aku melihat Gia masuk ke dalam rumah keluarga Hermawan. Kebetulan aku sedang lewat berkunjung ke salah satu rumah kolegaku di sekitar perumahan itu.! Joe berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya.
" Via itu adalah keluarga Hermawan. Kemungkinan besar teman Gia itu adalah anak dari saudara Via. Atau dengan kata lain keponakan dari Via Hermawan. Dan kamu pasti tahu apa maksud aku!
__ADS_1
Grego terdiam sejenak. Seakan sedang menganilis ucapan-ucapan Joe barusan. Kemudian dia mengangguk seolah menjawab dan mengatakan jika dia sudah mengerti apa maksud dari perkataan Joe.
" Tapi, apa yang harus kita katakan kepada Gia untuk menjauhi teman nya itu? Kamu tahu kan aku tidak ingin Gia merasa terkekang atau bahkan merasa kehidupannya terlalu kita atur bahkan urusan pertemanannya juga harus kita batasi.! Aku tidak ingin Gia menjauh dari kita bahkan sampai membencinya kita hanya gara-gara persoalan ini!
Joe terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Kemudian Joe berkata, " Aku juga tidak ingin terjadi seperti yang kamu katakan tadi. Tapi walau bagaimanapun kita harus melakukan sesuatu. Jangan sampai Gia terlibat terlalu jauh dengan keluarga itu. Meski kedua bocah itu terlihat begitu baik terhadap Gia. Namun kita tahu seperti apa keluarga Hermawan itu! ucap Joe mengingatkan Grego.
" Ya, kamu benar. Keluarga Hermawan bukanlah keluarga baik-baik. Bagaimana dulu mereka melakukan perbuatan yang jahat terhadap Eva, bahkan hampir saja merenggut nyawa Eva. Jika sampai mereka tahu identitas Gia dan menjadikan Gia sebagai korban pelampiasan kejahatan mereka. Aku tidak bisa membayangkannya seperti apa amarahku terhadap mereka kelak! ucap Grego sembari mengingat peristiwa buruk yang pernah dialami oleh Eva dahulu akibat perbuatan jahat Via Hermawan. Dan ketika mengingatnya amarahnya mulai mendidih.
" Karena itu kita harus bertindak secepatnya. Jangan sampai Gia terlalu dekat kepada keluarga itu. Bahkan menjadi akrab. Karena akan semakin sulit melepaskannya.!
Mereka berdua pun saling memikirkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan ini.
Sementara itu Gia sedang berbincang-bincang dengan Bundanya itu.
" Bund, kok ada sih orang tua yang tidak peduli dengan anak-anaknya? Tanya Gia tiba-tiba mengingat situasi yang terjadi di dalam rumah keluarga Kevin.
" Mungkin mereka bukannya tidak peduli hanya saja cara mereka menunjukkan kepedulian mereka yang salah! jawab Eva dengan bijak.
" Kok bisa Bund? Tanya Gia kurang mengerti.
" Karena ada beberapa orang tua yang ingin menunjukkan kepeduliannya dan kasih sayangnya kepada anak-anaknya dengan bentuk perhatian cukup hanya dengan materi semata. Uang, harta dan materi dianggap sebagai ukuran kebahagiaan manusia.!
Mereka lupa bahwa kebahagiaaan itu sebenarnya hanya bisa didapat lewat perhatian, dukungan, kebersamaan, belaian ataupun hanya sekedar pelukan hangat.!
Gia mendengarkan Bundanya itu dengan perasaan haru dan bangga.
" Gia senang karena memiliki Bunda, Ayah, kakak dan juga om Joe di dalam hidup Gia. Gia berharap selalu bersama dengan kalian semua sampai kapanpun bahkan sampai tua dan maut memisahkan.! ucapnya dengan perasaan haru.
__ADS_1
Eva lalu membelai rambut Gia dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kasih sayang seorang ibu yang begitu besar. Kemudian dikecupnya kening Gia. Lalu berkata, " Bunda selalu berdoa dan berharap, anak-anak Bunda hidup bahagia selamanya. Sehingga kelak Bunda bisa pergi dengan tenang dan damai.! Gia pun langsung memeluk Bundanya itu.
" Bunda tidak boleh pergi meninggalkan Gia.! rengeknya manja. Tiba-tiba saja sikap manjanya datang dan membuatnya bermanja ria kepada sang Bunda. Eva pun tersenyum dengan senyum yang hangat dan manis. Betapa bahagianya dirinya dan sangat bersyukur karena Tuhan telah menganugerahinya dengan anak-anak yang luar biasa dan istimewa. Sungguh ini adalah anugerah terbesar dalam sepanjang sejarah hidupnya.! Tuhan sayang!