
Dokter telah memberikan ijin kepada Eva untuk beristirahat di rumah. Kondisinya sudah membaik dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Lagi pula Eva juga memang ingin segera pergi dari rumah sakit karena dia memang tidak suka dengan situasi di rumah sakit.
Eva bersama Gia akhirnya di bawa pulang ke rumah mereka yang sebenarnya. Grego tak sedikit pun melepaskan genggamannya dari tangan Eva. Dirangkulnya Eva dengan sangat erat. Dia seolah takut jika istrinya itu akan menghilang lagi. Gio yang mengendarai mobil dengan Gia yang duduk disampingnya, merasa senang sekaligus lucu melihat tingkah ayahnya itu.
Tapi yang terpenting saat ini adalah mereka telah berkumpul kembali.
Saat mobil memasuki gerbang rumah itu, Eva mencoba mengingat-ingat kenangan apa yang ada ditempat ini yang bisa memulihkan ingatannya. Namun ingatannya belum bisa diajak kompromi.
Setelah mobil berhenti, Grego turun dan menuntun istrinya itu masuk ke dalam rumah bersamanya. Eva berhenti sejenak, memandang bagian depan rumah itu dengan seksama. Mungkin ada sesuatu yang bisa mengingatkannya. Tapi yang diharapkan tak kunjung datang jua dalam memorinya.
Grego pun mengajaknya masuk. Pintu dibukakan, Eva melangkahkan kakinya dengan sedikit meragu. Tapi Grego menuntun langkahnya agar tidak perlu merasa takut atau ragu. Karena rumah ini adalah rumahnya yang sebenarnya. Di dalam rumah ini banyak kenangan indah yang mereka rajut bersama. Eva melangkahkan kakinya sambil netranya memandang menyapu seluruh ruangan. Dan bola matanya tertuju pada bingkai photo besar. Di photo itu terlukis wajah Grego, Gio kecil dan wajah wanita yang mirip dengannya. Bukan mirip. Tapi itu memang wajahnya. Wajah itu terlihat cantik, muda dan cerah. Sorotan matanya terpancar sinar kebahagiaan. Itu adalah wajahnya sebelum dia menghilang 17 tahun yang lalu.
Ditatapnya lekat photo itu, diputarnya memori dalam kepalanya mencoba mengingat peristiwa yang terjadi kala itu. Kepalanya terasa sakit karena memaksa untuk mengingat memori itu. Grego yang melihat jika istrinya itu merasa kesakitan, dibawanya Eva untuk duduk di sofa. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang dijaganya istrinya itu agar dia tidak merasa kesakitan lagi. Karena ketika dia melihat istrinya itu menderita kesakitan seperti itu dia pun seperti merasakan sakitnya. Perih dan pedih.
" Sayang jangan dipaksakan. Pelan-pelan saja. Nanti ingatan kamu pasti akan kembali lagi seperti dulu lagi. Tapi jangan menyiksa diri dengan memaksakan untuk mengingat semuanya. Aku akan setia menunggu sampai kapanpun. Bahkan sampai seumur hidupku aku akan bersamamu sayang. Membantumu untuk mengingat kenangan indah kita bersama.! Eva tersenyum bahagia mendengar perkataan Grego.
Gio dan Gia yang masih berdiri di belakang mereka dan mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya itu, mencoba untuk menata hati mereka agar mereka pun bisa membantu Bundanya itu untuk keluar dari trauma lupa ingatannya.
Keesokan harinya Joe datang berkunjung. Setelah diberi kabar oleh Gio jika Bundanya telah kembali dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu. Dirinya sangat penasaran seperti apa keadaan Eva sekarang ini. Selama 17 tahun ini pastinya banyak hal yang telah berubah.
Joe terlihat tergesa-gesa memasuki rumah itu. Hatinya yang tak sabar ingin segera menemui Eva. Joe yang sangat antusias sekali bukanlah suatu masalah bagi Grego. Karena sejak dulu mereka telah berdamai. Joe sudah seperti saudara bagi Grego dan sudah dianggap sebagai Om oleh Gio.
" Eva... Eva...! teriak Joe memanggil nama Eva. Berharap Eva segera muncul di hadapannya.
Gio yang mendengar suara teriakan Omnya itu segera menghampiri Joe.
" Apa kabar Om! sapa Gio.
" Gio, Bunda kamu dimana? Om tidak melihat Bunda mu ada disini! Bukannya membalas sapaan Gio, Joe malah menanyakan keberadaan Eva.
" Sabar Om, Bunda sedang ada di kamar dengan ayah. Sebentar lagi pasti turun. Sekalian kita sarapan bersama-sama. Oke! jawab Gio menenangkan hati Om nya itu.
Tak lama kemudian Grego turun bersama dengan Eva yang digandengnya dengan mesra.
Joe memandang Eva tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari wanita itu. Itu memang Eva. Wajahnya tidak berubah sama sekali hanya gaya rambutnya yang sedikit berbeda. Tapi Joe mencoba mengingat kembali bukankah wanita itu adalah pemilik toko roti?
Joe juga merasa heran karena Eva memandang ke arahnya biasa saja. Seperti tidak mengenali dirinya.
__ADS_1
" Apa kabar Joe? Tanya Grego
" Kabar baik Greg...! balas Joe.
Joe semakin heran karena Eva tidak bereaksi sama sekali. Eva seakan tidak mengenalnya sama sekali.
Grego yang memahami situasi, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Joe.
" Joe, kamu ingat wanita yang kita jumpai di toko roti? Tanya Grego mengingatkan Joe. Joe menjawabnya dengan anggukan.
" Dia adalah Eva. Hanya saja Eva saat itu mengalami amnesia sehingga tidak mengenali kita sama sekali.!
Joe melirik ke arah Eva. Eva pun melihat ke arahnya. Mata mereka beradu pandang. Lalu Eva mengalihkan pandangannya ke arah Grego.
" Apakah Eva masih juga tidak mengingat sama sekali? Joe memastikan rasa penasarannya.
" Untuk beberapa hal dia sudah mulai mengingat. Tapi ingatannya belum pulih sepenuhnya. Masih banyak hal yang dia belum ingat sama sekali.!
Joe pun menyimpulkan dalam hatinya jika Eva pasti masih juga melupakannya. Karena dilihat dari wajahnya tak ada reaksi sama sekali.
" Jadi, Eva belum mengingat dengan diriku? ucapnya tak bersemangat. Hatinya sangat bersedih karena Eva tidak mengingatnya sedikitpun.
Joe tertunduk lesu.
Joe yang mendengar namanya disebut oleh Eva merasa kaget sekaligus senang.
" Kamu ingat aku kan? Tanya Joe dengan penasaran.
" Iya. Aku ingat.!
Mendengar jawaban Eva hati Joe sangat bahagia sekali. Dia senang ternyata Eva mengingatnya. Bibirnya tersenyum lebar karena bahagia.
" Aku ingat. Karena tadi malam Mas Grego menceritakan tentang kamu! ucap Eva kemudian. Dan Joe mendadak lemas. Hatinya yang tadi sangat bahagia berubah menjadi kecewa setelah mendengarkan penjelasan Eva kemudian.
Ternyata Eva mengingatnya hanya karena baru diceritakan oleh Grego. Bukan karena ingatannya sendiri.
" Oh..! serunya tak bersemangat. Wajahnya seketika berubah dari mode ceria dan bahagia menjadi lesu dan kusut berkerut.
Gio bisa merasakan kesedihan Om nya itu. Karena selama ini Om nya itu yang paling bersemangat membantunya untuk mencari tahu keberadaan sang Bunda. Dan betapa rindunya Omnya itu ingin bercerita dengan sang Bunda.
__ADS_1
Dan tentu saja hatinya sedikit kecewa ketika dia telah dipertemukan dengan sosok yang sangat dirindukannya itu, dirinya bahkan tak diingat sama sekali.
Gio duduk mendekati Omnya itu. Dipegangnya pundaknya seakan memberi peneguhan supaya Omnya itu sedikit bersabar lagi.
Gia pun muncul lalu tak lupa menyapa Joe.
" Hai Om. Pa kabar? Kenalkan nama saya Gia.! Sapa Gia sekaligus memperkenalkan dirinya kepada Joe.
" Hi, kabar baik. Nama om Joe! balas Joe menjawab sapaan Gia.
Gia tersenyum manis. Persis senyuman Eva.
Gio pun memperkenalkan kepada Joe siapa Gia itu sebenarnya.
" Om Joe, Gia ini adalah adik Gio. Putri ayah dan Bunda yang ikut menghilang 17 tahun yang lalu.!
" Adik kamu? Bagaimana bisa? Tanya Joe yang masih bingung.
" Waktu Bunda menghilang 17 tahun yang lalu, Bunda saat itu sedang mengandung adik Gia. Syukurlah adik Gia baik-baik saja. Seperti yang Om lihat adik Gia tumbuh dengan sehat dan cantik! ucap Gio memuji adik kecilnya itu. Gia yang dipuji tersenyum senang dan gembira.
Joe tersenyum bahagia melihat wajah ceria Gia.
" Sini, duduk dekat Om! pinta Joe kepada Gia.
Gia tanpa canggung duduk manis disamping Joe. Seolah sudah mengenal lama.
" Bagaimana keadaanmu gadis kecil Om yang manis? Joe berusaha bersikap lebih akrab. Dan Gia pun senang diperlakukan seperti itu.
" Gia baik Om. Sangat baik! jawab Gia tak lepas dengan senyuman manisnya.
" Syukurlah. Kamu pasti gadis yang kuat dan pemberani. Om jadi tidak perlu khawatir dan cemas.!
"Iya Om. Gia harus kuat dan berani. Karena Gia kan harus bisa melindungi Bunda. Hanya Gia yang Bunda punya.!
Mendengar penuturan Gia hati Joe terenyuh. Selama 17 tahun ini pasti banyak hal yang telah dilalui oleh gadis kecilnya itu. Sendiri tanpa ayah dan kakaknya.
Gio dan Grego pun tak dapat menahan kesedihannya. Betapa kasihan gadis kecil mereka itu. Harus berjuang sendirian membantu Bundanya. Dengan gerakan tangan Grego memanggil Gia mendekat kepadanya dan diikuti oleh Gio.
Grego pun memeluk kedua anaknya itu dalam pelukannya yang hangat dan kekar. Dan ada tetesan air mata jatuh membasahi pipinya. Eva dan Joe turut larut melihat pemandangan yang mengharukan itu.
__ADS_1
" Ayah janji, ayah tidak akan membiarkan anak-anak ayah sendirian lagi. Ayah akan selalu ada untuk kalian. Ayah akan membayar semua waktu yang telah ayah lewatkan selama ini untuk menjaga dan melindungi kalian. Ayah sangat menyayangi kalian dengan seluruh hidup ayah. Ayah tidak akan membiarkan anak-anak ayah menderita lagi. Maafkan ayah jika selama ini tidak ada untuk kalian!
Pelukan itu semakin erat. Ingin rasanya tak lepas lagi. Eva pun ikut merangkul mereka. Sedangkan Joe tak hentinya memandang dengan tatapan haru. Bahagianya hatinya bisa menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Keluarga yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Kebahagiaan yang dirasakannya saat ini sudah lebih dari cukup baginya. Hatinya tidak menginginkan yang lain lagi. Karena jika dia berharap lebih dari ini, dia tahu jika yang terjadi adalah ketidak puasan dan membuatnya menjadi serakah. Bersyukur adalah kata yang tepat untuknya saat ini.