Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Kembalinya Masa Lalu.


__ADS_3

Gia yang merasa semakin grogi dan tidak nyaman karena sejak tadi seperti sedang di interogasi oleh orang tua Kevin. Terlebih dengan Tante Via. Pertanyaannya seperti seorang pejabat dinas sosial yang sedang melakukan sensus penduduk. Bahkan ada pertanyaan yang Gia sendiri tak tahu harus menjawab apa. Tapi untung saja Gia berpikir kritis sehingga tidak semua pertanyaan dijawabnya dengan benar.


Ada beberapa pertanyaan yang dijawabnya dengan asal karena Gia berpikir jika pertanyaaan tersebut terlalu sensitif untuk dijawab karena sangat pribadi. Untuk apa coba Tantenya Kevin mengetahui segala ***** bengek yang terjadi dalam keluarganya? Emangnya dia siapa dan apa kepentingannya?


Karena merasa tak nyaman lagi, Gia lalu mencolek bahu Kevin. Kevin pun mengerti situasinya. Dia lalu meminta ijin pada orang tuanya untuk mengantar Gia pulang karena waktunya Gia harus kembali ke rumahnya.


Dan syukur orang tua Kevin tak menahan Gia untuk tinggal lebih lama lagi. Gia pun segera pamit dari sana. Meski Keenan masih menginginkan Gia berada di sana dan bermain bersamanya, tapi dia juga tak bisa memaksa Gia untuk menemaninya. Baru saja keluar dari pintu rumah itu tapi Gia sangat merasa lega dan nyaman. Sesak yang dirasakannya tadi langsung menguap, menghilang ditelan alam semesta.


" Sorry ya Gi, keluarga ku sepertinya tadi membuatmu tidak nyaman!" ucap Kevin dengan sesal.


" Nggk papa kok Vin, aku bisa mengerti. Hanya saja aku sedikit gugup dan grogi. Sehingga tidak siap dengan pertanyaan-pertanyaan keluargamu tadi! " sahut Gia.


Gia lalu segera masuk ke dalam mobil setelah Kevin membukakan pintu untuknya. Waktunya untuk pulang karena ketika bersama dengan keluarga Kevin tiba-tiba hatinya merindukan keluarganya juga. Rindu yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Rindu itu berat kata Dylan, tapi bagi Gia rindu itu tak sekedar berat tapi menjadi pemyemangat yang mencambuk dirinya untuk semakin menyayangi keluarganya dan tak ingin jauh dari mereka.


Sepeninggalan Gia, Via langsung meminta Keenan untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Padahal Keenan masih ingin bersama menghabiskan waktu dengan orang tuanya karena jarang-jarang mereka pulang ke rumah secepat ini. Meski hati kecilnya mencoba menolak tapi dia tidak ingin membantah orang tua dan tantenya itu. Apalagi orang tua mereka sangat tidak suka dibantah.


Maka dengan berat hati, Keenan masuk ke dalam kamarnya.


" Mas, kamu bisa ngerasain nggk apa yang aku rasakan saat ini! " ucap Via setelah Keenan tak ada lagi disana.


" Maksud kamu tentang gadis itu? " sahutnya.


Via mengangguk mengiyakannya.


" Apa yang kamu rasakan dan pikirkan itu juga yang Mas rasakan saat ini. Tapi Mas masih ragu dan tidak percaya kalau gadis itu adalah putri mereka." ucapnya dengan penasaran.


" Aku juga ragu dan bingung Mas. Bahkan aku jadi khawatir. Jika benar-benar gadis itu adalah putri mereka, itu artinya Eva masih hidup. Dan jika dia masih hidup takutnya dia akan membalas dendam kepada kita!" ujar Via dengan hati yang mulai was-was dan cemas.


" Tapi kejadian ini sudah lewat hampir 18 tahun. Jika memang dia masih hidup dan mengingat peristiwa waktu itu seharusnya dia sudah melaporkan kita. Buktinya sampai sekarang tidak ada apa-apa." ujarnya menenangkan hati Via.

__ADS_1


" Ucapan Mas memang benar. Tapi tetap saja perasaanku tidak tenang setelah melihat gadis itu. Tatapan matanya itu persis sekali dengan tatapan mata wanita itu.!" ucapnya dengan rasa takut.


" Jangan terlalu dipikirkan. Sampai sekarang semua baik-baik saja. Mungkin saja gadis itu hanya memiliki nama keluarga yang mungkin sama persis. Mas sangat yakin tidak mungkin wanita itu bisa selamat dari tempat yang mengerikan seperti itu. Seribu persen Mas jamin.! ucapnya dengan penuh kepercayaan dan meyakinkan.


" Tapi Mas, gimana jika wanita itu memang benar-benar masih......!"


Belum selesai Via berbicara sudah disela terlebih dahulu oleh kakaknya itu.


" Sudah..... sudah..... sudah.... jangan berpikir macem-macem. Kejadian itu adalah masa lalu dan mereka layak untuk menerimanya. Itu balasan untuk mereka yang sudah membuat hidupmu menderita. Oke!


Via pun mengangguk mendengarkan ucapan kakaknya itu. Sekalipun hatinya masih tak bisa diajak kompromi. Wajah sangarnya yang diperlihatkannya kepada Gia tadi, kini berubah menjadi wajah takut dan cemas, gelisah dan khawatir. Sangat berbanding terbalik dan dapat berubah dalam sekejap.


Sesampainya di dalam rumah, Gia langsung mencari Ayah dan Bundanya. Hatinya memerintahkan dia untuk menceritakan peristiwa hari ini kepada orang tuanya itu.


Saat melewati ruang kerja Ayahnya, terlihat cahaya terang, artinya Ayahnya pasti sedang ada di dalam. Gia pun mengetuk pintu dan tanpa menunggu jawaban dia langsung membuka pintu dan segera masuk.


" Kok baru pulang sayang! " tanya Grego.


" Iya Ayah, tadi singgah sebentar dari rumah Kevin.!" sahutnya.


" Ngapain ke rumah Kevin?" Om Joe turut bertanya.


" Ketemu Keenan Om. Biasalah!" sahutnya sambil menunjukkan senyum manisnya.


Joe melirik ke arah Grego. Pandangan mata mereka seakan saling berbicara tanpa suara.


Grego mendesah pelan. Kemudian dimintanya Gia duduk disampingnya lewat gerakan tangannya. Gia pun langsung duduk manis disamping sang Ayah.


" Sayang, bukannya Ayah melarang kamu, tapi kalau boleh jangan terlalu sering berkunjung ke rumah mereka ya!" pinta sang ayah dengan suara lembutnya. Grego mengira Gia akan sedikit membantahnya atau sekedar memprotes permintaannya itu. Tapi Gia malah seakan menyetujui perkataannya itu.

__ADS_1


" Iya ayah benar. Gia nggk boleh terlalu sering ke rumah mereka. Tapi Gia kasihan dengan Keenan Yah!" ujarnya dengan ekspresi sedih.


" Emang kenapa sayang? Ayah kira kamu akan protes dengan permintaan Ayah!" ucap Grego tak menyangka Gia akan berkata seperti itu.


" Tadi Gia bertemu dengan orang tua Kevin dan ada tantenya juga. Tante Via namanya!" Mendengar Gia menyebut nama Via, Joe dan Grego lalu saling bertatapan. Gia lalu melanjutkan ceritanya.


" Gia rasa sedikit takut dengan Tante Via. Orangnya serem, cantik sih tapi wajahnya menakutkan. Baru aja ketemu tapi pertanyaannya banyak sekali. Yang ditanya malah tentang Ayah dan Bunda.!"


Mendengar cerita Gia, Grego pun menjadi tak tenang.


" Dia tanya apa saja sama kamu sayang? " tanya Grego penasaran.


" Tante Via nanya semua hal tentang Ayah dan Bunda. Tapi Gia jawab asal-asal aja, karena Gia pikir untuk apa Tante Via harus tahu tentang Ayah dan Bunda. Pasti ada maksud tertentu dan itu pasti bukan hal yang baik.!"


Grego dan Joe tersenyum bangga melihat sikap Gia yang ternyata lebih bijaksana dari seusianya. Mereka tak menyangka jika gadis kecil ini punya pikiran yang lebih dewasa dan mampu menilai sesuatu dengan bijak dan positif.


" Gia, mulai saat ini, kamu adalah idola Om." puji Joe dengan bangga.


" Maksud Om.?" tanya Gia sedikit bingung.


" Om bangga sama kamu. Kamu itu persis kayak Om, pintar, cerdik dan bijak. Om bangga sama kamu.!" ucap Joe memuji Gia tetapi sekaligus memuji dirinya sendiri. Grego yang mendengarnya pun seperti merasa mual dan jijik. Tak disangkanya Joe bisa senarsis itu.


" Joe, sejak kapan kamu jadi narsis seperti itu? Kamu belajar dari mana? " Grego pura-pura bertanya.


" Tapi memang kenyataannya seperti itu kan Greg, kamu tak bisa menyangkalnya kalau aku lebih segalanya dari kamu!" ujar Joe dengan menyombongkan diri.


" Orang mabuk karena alkohol, tapi kamu mabuk karena kopi.!" ejek Grego.


Gia malah tersenyum lucu melihat kedua pria kesayangannya itu beradu argumen. Jarang-jarang melihat mereka berdua saling berdebat seperti ini. Setidaknya memberi hiburan bagi Gia setelah tadi menyaksikan film horor di rumah Kevin.

__ADS_1


__ADS_2