Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Badai Cinta


__ADS_3

Eva sedang menyiapkan sarapan pagi untuk kedua buah hatinya itu sekaligus menyiapkan bekal Gio untuk dibawa ke sekolahnya. Saat dia sedang sibuk, Grego yang muncul dengan sudah berpakaian rapi langsung memeluknya dari belakang.


" Pagi sayang! sapanya lembut ditelinga Eva yang dibalasnya dengan senyuman.


" Gio mana mas? Eva balik bertanya. Grego menoleh ke arah pintu dan wajah Gio langsung nongol dengan memperlihatkan senyuman manisnya. Dengan gagah Gio melangkah sambil memikul tas sekolahnya. Melihat tingkah Gio yang menggemaskan Eva tak bisa menahan rasa bahagia di hatinya. Bibirnya tersenyum tiada henti-hentinya.


" Bunda, hari ini Gio ada latihan pentas seni di sekolah! kata Gio sambil menikmati sarapan paginya. Bukannya menimpali perkataannya Gio Eva malah menegur Gio.


" Gio sayang, kamu tidak berdoa ya? Kok sarapannya langsung di makan aja tanpa berdoa dulu! Ditatapnya Gio dengan tatapan keibuannya. Gio yang senang jika melihat senyuman ibundanya jadi tersenyum manja tapi sadar jika sikapnya kurang baik lalu mengucapkan maaf pada Bundanya.


" Maaf Bunda, Gio lupa! Dan tanpa disuruh dia segera meletakkan makanan di tangannya lalu berdoa. Tidak lupa dengan tanda salib di dahinya, dada dan bahu. Setelah selesai berdoa dilanjutkannya memakan sarapannya. Grego dan Eva tersenyum bangga. Betapa bangganya mereka berdua. Gio merupakan anugerah terbesar yang Tuhan berikan kepada mereka.


" Memangnya sekolah Gio ada kegiatan apa? tanya Grego menanggapi ucapan Gio.


" Acara ulang tahun sekolah Yah,! jawabnya


" Gio ikut kegiatan apa sama ibu gurunya? tanya Bunda menunjukkan antusiasnya sebagai tanda bahwa mereka perhatian dan peduli.


" Gio ikut pentas drama "Putri Salju" Bunda! jawabnya dengan bangganya.


" Oh ya? Wah hebatnya anak Bunda! ucap Eva dengan pujian.


" Trus dapat peran apa anak Bunda? tanya Grego dengan rasa penasaran.


" Coba Ayah dan Bunda tebak, Gio dapat peran sebagai apa? tanya Gio seperti bermain tebak-tebakan dengan Ayah dan Bundanya itu.


" Ayah tahu Gio dapat peran apa? ucap Grego dengan percaya diri. Gio menaikkan kedua alis matanya sambil menatap ayahnya itu.


" Anak ayah pasti dapat peran sebagai Pangerannya Putri Salju. Iya kan?! ucap Grego dengan sangat yakin.


Gio yang mendengarnya terlihat terkejut. Dia tidak menyangka Ayahnya bisa menebak dengan benar.

__ADS_1


" Kok Ayah tahu sih? ucapnya dengan tidak percaya. Eva yang mendengarkan percakapan keduanya pun ikut tertawa.


"Iya dong Ayah paling tahu. Anak ayah kan paling tampan tentu saja harus jadi pangerannya." ucap Grego memuji Gio dengan bangganya. Gio pun memperlihatkan senyum tampannya, kedua tangannya berkacak pinggang. Dengan percaya dirinya dia berjalan, bergaya layaknya seorang Pangeran nan gagah perkasa. Melihat tingkah lucunya itu Grego dan Eva pun tertawa bahagia sekali.


Joe sedang duduk menikmati udara pagi di balkon kamarnya. Secangkir kopi hitam menemani waktunya yang sepi dan sendiri. Pandangan matanya tak lepas menatap photo Eva yang ada di tangannya. Photo Eva saat masih SMA yang sudah lama disimpannya. Dulu photo itu dia dapat ketika saat perpisahan sekolah salah seorang sahabatnya yang sangat menyukai photography sengaja mengambil gambar teman-teman sekelasnya untuk dijadikan album kenangan. Setelah photo dicetak dan Joe melihat ada photo Eva dia langsung mengambilnya tanpa minta ijin terlebih dahulu dari yang empunya. Kemudian disimpannya dalam buku diarynya.


Hingga sampai kini photo itu dia simpan. Dan ketika rindu melanda hatinya Dipandanginya photo itu sebagai pengobat rindu. Seperti saat ini, dikala hatinya merasakan kesepian dan kerinduan hanya photo itu yang menemaninya menghapus rasa rindu.


Tanpa disadarinya ternyata sejak tadi ada seseorang yang berdiri dibelakangnya. Memperhatikannya dengan tatapan tajam serta kebencian ketika melihat wajah di dalam photo itu. Bara kebencian nampak jelas di bola matanya. Dan gelora amarah membara dalam hatinya. Dan dalam gejolak yang berapi-api dia sudah tidak sabar ingin membalas dendam. Tentu saja balas dendam kepada sosok Eva yang ada di dalam photo itu.


Gara-gara Eva, dia harus kehilangan cinta seorang Joe. Tidak hanya cinta tetapi juga sahabat masa kecilnya. Dia tidak bisa menerima jika Joe mencintai perempuan lain. Seumur hidupnya dia selalu mendapatkan segala keinginan hatinya. Apa pun yang dimintanya akan selalu terpenuhi. Dalam kamus hidupnya tidak ada kata penolakan atau kata tidak. Dan ketika saat ini sesuatu hal yang besar dan sangat berharga dalam hidupnya tidak dapat diperolehnya, membuatnya sangat marah dan tidak bisa menerimanya. Sehingga hatinya hanya diliputi oleh kebencian, amarah dan dendam.


Dengan hati yang panas dan galau ditinggalkannya Joe yang masih sibuk dengan kerinduan hatinya. Diambilnya telvon genggam dari dalam tasnya kemudian dihubunginya seseorang.


" Aku ingin kalian segera melaksanakan tugas yang kuperintahkan kepada kalian! ucapnya dengan tegas dan keras.


" Dan, ingat jangan sampai gagal atau kalian tidak akan mendapatkan bayarannya. Dia harus cacat dan menderita."! ancamnya kepada orang yang ada dibalik suara telvon.


Siang itu, Eva ingin menjemput Gio dari sekolah. Memang beberapa hari ini Eva selalu berusaha menjemput sendiri Gio dari sekolah. Sopir pribadi mereka akan menjemputnya dari kantor lalu pergi menjemput Gio di sekolah. Tapi hari ini Eva berencana menjemput Gio dengan menggunakan bus trans. Sudah lama sekali dia tidak lagi pernah menaiki bus kesayangannya itu. Dan hari ini untuk mengobati rasa kangennya dia akan pergi naik bus trans.


" Mas, aku jemput Gio dulu ya.! ijinnya pada suami sekaligus bossnya itu.


" Pak Doni sudah datang ya? tanya Grego.


" Pak Doni tidak datang hari ini, aku sudah bilang kalau hari ini jemput Gio naik bus.!" jawabnya.


Mendengar itu ada perasaan tidak senang di dalam hatinya Grego.


" Kok naik bus sih sayang? Tanya Grego lagi.


" Aku kangen pingin naik bus sayang! ucap Eva bermanja ria. Melihat tingkah manja Eva membuat Grego jadi tergoda untuk mengganggu istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang, kalau kamu bertingkah seperti itu membuat aku tidak tenang loh." ucapnya dan langsung memeluk mesra wanitanya itu.


" Sayang, ini dikantor loh, nanti ada yang masuk trus lihat kan malu." ujar Eva berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.


" Sayangku, ini kantorku. Tanpa ijinku tidak ada seorang pun yang boleh masuk.! ucap Grego dengan angkuhnya.


Dan Eva hanya tersenyum manis mendengar ocehan suaminya itu.


" Aku harus pergi sekarang Mas, Nanti Gio menunggu kelamaan kasihan dia sendirian! Eva merapikan rambut pakaiannya yang sedikit kusut akibat pelukan Grego.


" Tapi sayang, hatiku merasa tidak tenang. Mending hubungi Pak Doni ya biar temani kamu jemput Gio. " Grego berusaha membujuk istrinya itu supaya menuruti perkataannya.


" Tidak usah khawatir sayangku. Kami kan sudah biasa sejak dulu naik bus trans. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Eva juga berusaha meyakinkan suaminya itu.


Dengan hati yang masih ragu-ragu dan tidak tenang akhirnya Grego terpaksa menyetujui keinginan istrinya itu.


Dengan refleks diciumnya bibir suaminya itu dengan lembut dan segera dibalas oleh lelaki itu yang tentu saja tidak ingin melepaskan sebuah kesempatan manis yang ditawarkan oleh istrinya itu. Seakan tidak ingin melepaskannya dilahapnya bibir istrinya itu dengan penuh gairah. Dan Eva yang sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya jika kegiatan itu tidak dihentikan, langsung meloloskan dirinya dari pelukan suaminya dan segera meninggalkan Grego yang masih merasakan gairah dari istrinya itu.


" Nanti malam kita lanjut ya Mas." ucapnya dengan kerlingan mata dari balik pintu. Grego yang terpaksa menahan gairahnya sendiri hanya bisa pasrah melepaskan kepergian wanitanya itu.


Gio berlari kecil keluar dari dalam kelasnya bersama-sama dengan teman-temannya. Jam sekolah sudah usai, anak-anak berlarian menuju pintu gerbang sekolah menemui orang tua mereka masing-masing. Ada juga beberapa anak yang hanya dijemput oleh sopir pribadi atau baby sitter mereka, mungkin karena orang tua mereka yang masih sibuk bekerja dan tidak punya waktu untuk menjemput mereka.


Eva sudah menunggu diluar gerbang sekolah, untung bus yang ditunggunya datang lebih awal sehingga bisa sampai di sekolah lebih cepat. Dilihatnya Gio dengan wajah gembiranya berlari-lari ke arahnya.


" Bunda! teriak mulut kecilnya.


Eva berjongkok menyambut putra kesayangannya itu. Gio langsung memeluk Bundanya itu dengan tawa riangnya.


" Bunda kok sendiri? Pak Doni nggk ikut ya Bunda ? tanya Gio melihat tidak ada mobil atau sopir yang biasa menjemputnya.


" Hari ini kita pulang naik bus seperti dulu. Bunda tadi sudah bilang sama Ayah. " ucap Eva menjawab pertanyaan Gio. Dan ekspresi senang terlukis diwajahnya Gio.

__ADS_1


__ADS_2