
Setelah makan malam yang terjadi di malam itu, Gio menjadi lebih manja dan pendiam. Dia bertingkah seolah-olah ingin lebih diperhatikan oleh Bundanya.
Gio memang tidak mengatakan apapun tapi dari sikap dan tindakannya menunjukkan hal tersebut.
Eva sedikit terheran dengan perubahan sikap Gio. Bangun pagi yang biasanya tidak banyak tingkah kini mulai rewel dan sulit untuk dibangunkan.
Saat makan makanannya pun tidak pernah mengeluh namun kini mulai banyak permintaan. Yang dulunya sudah terbiasa mandiri menyiapkan keperluan sekolahnya kini harus diurus oleh Eva.
Gio sama sekali tidak mau melakukan semua hal yang sudah pernah dikerjakannya sendiri tanpa bantuan dari ibunya.
Melihat sikap Gio yang sangat berbeda dari biasanya menimbulkan banyak pertanyaan dalam benaknya. Karena mereka sudah terbiasa saling terbuka dan bercerita, Eva pun mencoba untuk memulai percakapan dari hati ke hati dengan pria kecil yang sudah menjadi napas kehidupannya itu.
Eva pun meminta Gio untuk duduk berdua dan mengajaknya berbicara. Saat ini mereka berdua duduk di kursi ruang makan saling berhadapan.
Gio duduk dengan sopan dan manisnya. Sungguh menggemaskan melihat tingkah dan gayanya yang sedikit kekanakan tetapi masih memancarkan sikap dewasanya.
" Gio, Bunda pingin tanya deh sama Gio. Kok akhir-akhir ini Bunda lihat sikapnya Gio kok aneh.? Tanya Eva memperlihatkan wajah seriusnya.
"Sekarang Bunda lihat Gio kok jadi suka bermalas-malasan, makanannya sering terbuang-buang, semangat belajarnya juga menurun. Dan Gio kok sikapnya jadi lebih manja gitu sama Bunda.! ucap Eva tanpa henti memperhatikan wajah Gio.
Sedangkan Gio hanya terdiam tanpa reaksi mendengarkan kata-kata Bundanya itu.
__ADS_1
Melihat sikap diam Gio, Eva kembali memberikan pertanyaan.
"Kakak Gio kok tidak jawab Bunda sih? Apa Bunda buat salah sama Kakak Gio ya? Tanya Eva sambil tersenyum. Digenggamnya tangan bocah tampan itu.
Lalu keduanya hanya terdiam karena Gio sama sekali tidak menjawab.
Tapi tiba-tiba Gio membuka mulutnya dan bersuara, " Bunda, Gio pingin punya Ayah seperti teman-temannya Gio!
Mendengarkan hal itu, Eva terkejut. Entah roh apa yang merasuki pikirannya sehingga tiba-tiba saja dia mengatakan hal itu kepada ibunya itu.
"Apa Bunda tidak salah dengar? Tanya Eva kepada Gio untuk meyakinkan dirinya. Memastikan bahwa pendengarannya sedang tidak bermasalah.
"Gio ingin punya Ayah Bunda. Gio rindu dengan Ayah! jawabnya dengan wajah tertunduk.
"Gio juga ingin punya Ayah seperti teman-temannya Gio di sekolah Bunda! ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ada nada kesedihan terdengar dari suaranya.
Eva bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Gio. Langsung dipeluknya jantung hatinya itu. Ternyata selama ini diam-diam pria kecil yang malang ini menyimpan perasaan rindu akan sosok seorang Ayah.
Makan malam yang begitu hangat dan bahagia bersama Grego malam itu telah membangkitkan perasaan itu yang mungkin selama ini telah dikuburnya dalam hatinya dalam-dalam.
Dalam dekapannya itu Eva bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh buah hatinya itu.
__ADS_1
Lalu Gio memandang Bundanya itu dengan tatapan penuh harapan jika Bundanya itu akan mengabulkan permintaannya tersebut.
"Bunda, Gio ingin punya Ayah seperti Om Grego! ucapnya yang membuat Eva terkejut bagaikan tersengat listrik.
Entah apa yang membuat bocah itu berani memikirkan hal yang sangat mustahil. Eva sendiri tidak pernah berani untuk membayangkannya sekalipun.
"Sayang, kamu kan tahu Om Grego itu bosnya Bunda di kantor. Mana mungkin bisa jadi Ayahnya Gio? ucap Eva dengan harap-harap cemas apakah anaknya itu mengerti apa yang dikatakannya.
"Kenapa tidak bisa Bunda? Tanya Gio dengan polosnya.
"Karena Om Grego tentu saja tidak bisa jadi Ayahnya Grego. Om Grego tidak suka dengan Bunda dan tidak mau menikah dengan Bunda.!
Mendengar hal itu wajah Gio semakin bersedih. Jawaban Bundanya itu memutuskan harapannya untuk mempunyai Ayah seperti Grego.
"Sayang,...! lanjutnya sambil membelai rambut anak itu dengan penuh kasih sayang.
".....Bunda tahu kamu sangat sedih karena tidak punya Ayah selama ini. Bunda akan berusaha untuk mencari Ayah baru untuk Gio, tapi bukan Om Grego. Bagaimana? ucapnya dengan harapan anaknya itu bisa mengerti
"Apa Gio bisa punya seorang Ayah Bunda? Tanya Gio dengan penuh semangat dan terpancar sinar kebahagiaan dari bola matanya. Eva mengangguk mengiyakannya. Dia hanya ingin anaknya itu merasa lebih bahagia. Dia tidak tahan melihat jika anaknya itu bersedih atau kecewa.
Yang terpenting saat ini adalah memberikannya rasa nyaman dan bahagia.
__ADS_1
Saat berada di kantorpun Eva masih terngiang-ngiang dengan permintaan Gio. Sampai-sampai dia melamun dan pekerjaannya tertunda. Grego yang memperhatikan dari jauh penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.
Sejak peristiwa makan malam tersebut, Grego mulai mengalihkan perhatian dan pandangannya kepada Eva. Pak Ardian yang diam-diam menangkap gerak-gerik yang aneh dari sikap bosnya itu mulai menaruh rasa curiga. Beberapa kesempatan Pak Ardian melihat ketika Grego menatap Eva dengan tatapan mendalam. Dan ketika Pak Ardian menanyakan hal itu langsung kepada Grego, tentu saja dengan berbagai dalih Grego tidak berani berkata jujur. Harga dirinya yang begitu tinggi sebagai seorang bos besar mengalahkan perasaan hatinya yang sesungguhnya. Dan juga Grego masih merasa belum yakin dengan apa yang dirasakannya saat ini. Dia tidak ingin terburu-buru mengakui sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Dia masih ingin mengenal dan merasakan lebih dalam lagi apa yang hatinya rasakan dan yang ingin hatinya lakukan. Mengakui perasaan dengan jujur memang sangat sulit dibandingkan menghadapi musuh-musuh perusahaannya yang banyak tantangannya.