Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Keluarga Hermawan


__ADS_3

Gia sedang berada di sebuah rumah mewah bak istana. Gia tidak menyangka jika Kevin adalah anak seorang konglomerat. Rumahnya saja sangat luas dan mewah. Kalau diukur mungkin sebanding dengan luas lapangan sepak bola. Meski Ayahnya Grego juga termasuk dalam barisan para kaum elite tapi mereka selalu tampil sederhana.


Tidak terlalu suka menonjolkan diri dihadapan khalayak ramai. Sekalipun ujung-ujungnya selalu mendapat sorotan tajam dari orang-orang disekitarnya.


Gia masih menikmati desain arsitek rumah mewah itu. Meski ada rasa kagum dengan interior designnya, tak membuat Gia iri atau cemburu atau bahkan menarik hatinya untuk tinggal. Cukup hanya untuk mengagumi saja.


" Silahkan duduk dulu Gi, aku panggil Keenan sebentar ya! Gia menganggukkan kepalanya. Kevin menaiki tangga rumah itu sampai dia menghilang di balik pilar besar yang berdiri megah di dalam rumah itu.


Gia membayangkan seandainya dia tinggal di rumah itu, betapa pusing tujuh keliling kepalanya. Banyak sudut dan ruang yang terhubung oleh pintu ke pintu. Gia membandingkannya dengan museum sejarah. Memberikan kesan misterius. " Apa mungkin keluarga Kevin adalah keturunan bangsawan? Benda-benda yang ada di rumah ini juga tergolong unik dan antik.


Syukurlah Kevin dan Keenan segera muncul. Gia tak perlu lagi bergidik karena merasa aura di dalam rumah ini yang sedikit mistis.


" Kakak,! panggil Keenan dengan teriakan kecil sambil berlari ke arah Gia.


Gia menyambut Keenan dengan lengan terentang dan membawanya kedalam pelukannya.


"Apa kabar adik manis? tanya Gia dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dibelainya rambutnya Keenan yang hitam lebat dan halus. Jujur sesungguhnya sejak hari Dia menyelamatkan Keenan, Gia sudah jatuh hati dengan pria imut tampan itu.


" Kakak, Keenan rindu kakak.! ucapnya dengan jujur dan tulus.


" Kakak juga rindu dengan Keenan! balas Gia.


" Sebenarnya Gia ingin bertemu kakak, tapi Mami tidak mengijinkan Keenan untuk bertemu kakak! jujurnya dengan sedih. Seorang anak kecil memang tidak bisa berbohong. Hatinya yang putih bersih dan jujur tidak dapat menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


Gia lalu mengusap wajah imut dengan lembut. "Tapi sekarang kan kakak sudah ada disini. Keenan nggk boleh sedih lagi. Oke! bujuk Gia menenangkan hati Keenan.


Keenan membalasnya dengan mengangguk. Tak lupa dengan senyumannya yang menggemaskan. Kevin yang sejak tadi hanya berdiri melihat interaksi kedua kesayangannya itu nampak tersenyum bahagia. Kehadiran Gia memang sepertinya sangat dibutuhkan di rumah ini. Karena sebenarnya aura di dalam rumah ini sudah sejak lama seakan tak bernyawa. Orang-orang didalamnya begitu dingin dan kaku.


Kevin sendiri terkadang tidak betah dan kurang nyaman. Namun sebagai Putra sulung ahli waris utama dia harus terikat dengan segala situasi dan keadaan di istana megah ini. Sudah sejak lama dia ingin keluar dari rumah dan tinggal di apartment sendiri. Tapi hatinya tidak tega meninggalkan Keenan sendiri. Bocah kecil itu pasti akan semakin kesepian dan menderita. Meski jarak usia mereka terpaut cukup jauh, tapi Kevin sangat menyayanginya.


Gia lalu menggendong tubuh mungil itu dan membawanya duduk diatas sofa. Lihatlah wajah imut itu begitu bahagia sekali setelah melihat kedatangan Gia.


" Hari ini Keenan buat apa aja di rumah? Tanya Gia mencairkan suasana.


" Nggk buat apa -apa. Tadi di sekolah Keenan bermain bersama teman-teman. Tapi pulang sekolah mereka selalu dijemput mami papi mereka. Keenan hanya dijemput sama sopir.! ucap anak itu dengan rasa sedih.


" Mungkin mami papi Keenan lagi sibuk kerja sayang jadi nggk bisa jemput.! Gia berusaha menutup-nutupinya agar Keenan tidak menyalahkan orang lain.


Mendengar ucapan Keenan, Gia bisa mengerti dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak itu. Hatinya sepi dan penuh kerinduan. Kasihan, anak sekecil Keenan yang seharusnya diperhatikan, diberi kasih sayang, dilindungi dan dirawat dengan baik, harus mengalami penderitaan seperti ini.


Kekurangan kasih sayang, perhatian, sentuhan lembut dan juga dukungan membuatnya sekali kesepian dan menderita. Hatinya selalu merindukan kehadiran orang tuanya sekarang fisik. Bukan sekedar dipenuhi kebutuhan hidupnya dengan harta atau materi. Contact dan kasih sayang tidak bisa diukur hanya dengan berdasarkan materi, harta atau uang. Lalu menganggap semaunya baik-baik saja.


Gia menggenggam dengan lembut kedua tangan Keenan, lalu berkata kepadanya.


" Tapi, mami dan papi Keenan kan bekerja untuk masa depan Keenan juga. Kelak setelah Keenan mulai dewasa dan sekolah tinggi-tinggi agar di masa depan Keenan jadi orang yang pintar dan sukses.! nasehat Gia.


" Tapi Keenan tidak mau menjadi seperti mami dan papi. Tidak peduli dengan Keenan. Bahkan Kakak juga sering kali dimarahi papi.! Keenan malah bercerita tentang kakaknya Kevin.

__ADS_1


" Keenan, ngomong apa sih. Jangan ngomong sembarangan dong,! Kevin menjadi sedikit malu dan tidak nyaman. Gimana penilaian Gia nanti kepadanya jika sampai dia tahu jika dia hanyalah seorang anak yang penurut kepada orang tua. Padahal di kampusnya dia berlagak seperti pangeran yang disegani oleh banyak orang.


Tapi justru reaksi Gia berbeda dengan yang dipikirkannya. Gia malah tersenyum lucu. Gia sepertinya senang dan gembira mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Kevin malah jadi salah tingkah. Dihadapan gadis itu dia seakan tidak bisa berkutik. Kemudian Gia dan Keenan sibuk berceritra dan seakan mengabaikan kehadiran Kevin disana. Kevin yang merasa dikacangin oleh Gia dan Keenan memilih untuk tetap berada disana menyaksikan mereka bersuara asyik dengan dunia mereka sendiri. Baginya itu sudah cukup menyenangkan bisa melihat mereka berdua bahagia.


Moment seperti ini langka menurutnya. Dan harus diabadikan dalam memori ingatannya. Tapi tidak cukup dengan ingatan saja. Kevin mengeluarkan ponselnya kemudian merekam peristiwa antara Gia dan Keenan dalam memori telpon selulernya itu.


Gia yang fokus dengan Keenan tidak menyadari jika Kevin sedang merekam dirinya dan Keenan. Tanpa terasa hangat dua jam lebih Gia bermain dengan Keenan. Langit sudah mulai senja. Matahari mulai nampak jingga kemerahan. Gia melirik arloji di tangan kirinya.


" Sepertinya aku harus pulang. Sudah sore. Kak Gio nanti malah kecarian.! pamit Gia.


" Kakak mau pulang ya? sela Keenan.


" Iya sayang. Kakak harus pulang. Nanti orang tua kakak khawatir karena Kakak nggk pulang-pulang.! jelas Gia memberi pengertian kepada bocah itu.


Ekspresi Keenan berubah menjadi sedih. Dan sedikit rasa kecewa, karena waktu berlalu begitu cepat. Padahal dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Gia. Bersama Gia hatinya merasa lebih bahagia dan senang. Kelembutan dan kebaikan hati Gia benar-benar telah merebut hatinya yang selama ini rindu akan kasih sayang dari orang tuanya.


Gia sangat mengerti apa yang dirasakan oleh bocah imut itu. Kesepian hatinya dan kerinduannya yang sudah mengakar dalam dirinya. Kasihan. Anak sekecil dia sudah mengalami penderitaan karena kekurangan kasih sayang. Materi atau harta duniawi tidak menjamin kebahagiaan seseorang.


Gia lalu memeluk Keenan dengan erat. Seandainya dia bisa membawa Keenan kembali ke rumah keluarganya dia pasti akan membawanya. " Kakak janji, akan meluangkan waktu untuk datang kemari lagi! bisiknya Di telinga Keenan. Dan Keenan hanya bisa mengangguk pasrah. Dia tahu, dia tidak punya kekuatan untuk menahan kakaknya itu untuk tinggal bersamanya.


Gia bangkit dari duduknya dan pamit pulang kepada Keenan dan Kevin. Kevin juga tidak punya alasan untuk menahan Gia untuk tinggal lebih lama lagi. Dia sudah sangat bersyukur karena Gia masih mau memberikan waktunya untuk memenuhi permintaan adiknya itu.


Kevin lalu memanggil pengasuh Keenan dan membawa Keenan masuk ke kamarnya. Gia melangkah lebih dulu kemudian Kevin menyusul dari belakang. Gia pun langsung masuk ke dalam mobil Kevin yang sudah terparkir dihalaman rumah mewah itu. Padahal Kevin berharap Gia menunggunya membukakan pintu mobil untuknya. Tapi sayangnya Gia yang sudah terbiasa hidup mandiri tidak pernah berharap untuk diperlakukan istimewa apalagi untuk dilayani.

__ADS_1


Mobil mewah itu melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai temaram warna-warni lampu jalanan. Membelah langit malam yang kosong dan hampa.


__ADS_2