Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Aku Akan Menjagamu


__ADS_3

" Kakak, apa sebenarnya yang terjadi?" Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Gia setelah melihat kakaknya itu mulai lebih tenang. Namun belum sempat Gio menjawab, seorang ibu paruh baya ditemani seorang pria muda muncul dihadapan mereka. Ibu itu adalah korban perampokan yang di tolong oleh Zara tadi. Bermaksud untuk menolong malah Zara yang menjadi korbannya. Wanita paruh baya itu nampaknya menaruh simpatik atas kejadian yang menimpa Zara. Meski sebenarnya itu wajar karena Zara terluka karena menolong ibu itu. Wanita paruh baya itu terlihat menunjukkan wajah sedihnya.


" Ibu minta maaf, karena kejadian tadi malah mencelakakan gadis itu!" Wanita paruh baya itu meminta maaf karena merasa bersalah.


Meski sebenarnya peristiwa itu terjadi bukan karena kesalahannya. Hanya karena gara-gara ingin menolong ibu tersebut akhirnya Zara yang terluka dan harus bertarung antara hidup dan mati.


" Nggk papa kok Bu, itu bukan kesalahan Ibu. Ibu juga korban.!" Gio berusaha agar tetap terlihat tegar dihadapan wanita paruh baya itu. Meski hatinya begitu sakit dan perih karena terluka melihat Zara yang berjuang antara hidup dan mati. Bagaimana tidak, gadis yang baru saja diakuinya sebagai gadis istimewa dalam hatinya itu sedang tak berdaya di dalam sana. Dihadapan matanya, penjahat itu dengan tega melukai gadis yang dicintainya itu dengan kejam dan tidak berperikemanusiaan hingga hampir meregang nyawa. Seandainya bisa diputar ulang, Gio berharap dirinya yang berada di posisi itu. Tapi yang terjadi sudah terjadi, tak dapat diputar kembali.


" Sebagai bentuk rasa simpati dan terima kasih kami, dari keluarga besar kami berjanji akan membiayai seluruh biaya operasi rumah sakit dan biaya pengobatannya. Dan mohon jangan ditolak, karena itu adalah sebagai bentuk rasa tanggung jawab keluarga kami. Kami sekeluarga merasa berhutang nyawa atas pertolongan kekasih anda!" Si pria muda yang mendampingi wanita paruh baya itu menyampaikan rasa simpatik mereka kepada Gio.


" Terima kasih atas simpati dan perhatiannya. Kami sangat menghormatinya!" balas Gia mewakili suara kakaknya itu yang masih terlihat sedih meski selalu berusaha untuk tetap tegar dan kuat.


Setelah beberapa jam kemudian, lampu merah di atas pintu ruang UGD akhirnya mati. Artinya operasi telah selesai dan masa krisis sudah lewat. Tak berapa lama kemudian beberapa dokter keluar dari dalam ruang operasi, diikuti beberapa perawat. Gio segera menemui mereka berharap ada jawaban yang bisa mengurangi kecemasan dan kekhawatiran dalam hatinya.


" Bagaimana keadaannya Dok?" todong Gio kepada salah satu dokter.


" Syukurlah, nyawa pasien dapat tertolong. Masa kritisnya sudah lewat. Dan sekarang pasien hanya butuh pemulihan lebih lanjut!" Jawaban si dokter memberi sedikit kelegaan di hati Gio. Meski hatinya belum sepenuhnya tenang sebelum dirinya melihat langsung keadaan Zara. Tak berapa lama, tubuh Zara yang terbaring lemah diatas tempat tidur dan belum sadarkan diri, di dorong oleh beberapa perawat keluar dari ruang operasi karena operasi telah selesai maka Zara akan dipindahkan ke ruang rawat inap.


Gio meraih tangan Zara, menggenggamnya erat dan hangat sambil berjalan di sisi tempat tidur Zara, mendampinginya menuju kamar ruang inap. Wajah pucat pasi dan mata yang masih tertutup karena Zara masih belum sadarkan diri akibat operasi. Hati Gio begitu sedih melihat keadaan Zara yang tak berdaya sama sekali. Pertama kalinya bagi Gio melihat dengan lekat dan jelas wajah gadis yang telah meluluhkan hatinya itu diam dan membisu seperti itu. Hatinya perih seperti tertusuk pedang tajam menembus jantungnya.

__ADS_1


Tapi semakin diperhatikan semakin terlihat garis kecantikan di wajah itu. Meski nampak pucat dan lemah. Gia yang juga ikut memperhatikan wajah gadis cantik itu lewat sekilas pandang, Gia bisa menilai kalau wanita cantik itu memang terlihat cocok dan serasi dengan sang kakak. Tanpa diminta pun, Gia akan merestui hubungan mereka berdua.


Zara ditempatkan di ruang VIP Anggrek. Gio dengan penuh perhatian dan kasih sayang menemani Zara. Mungkin ini adalah bagian dari ujian cinta untuk menguji sedalam apa rasa cintanya untuk Zara. Apakah cintanya benar-benar tulus untuk Zara atau hanya sekedar saja. Ketulusan cintanya sungguh-sungguh diuji untuk saat ini. Gia turut bahagia dan bangga untuk kakaknya itu, melihat sang kakak yang penuh perhatian dan hati yang tulus menunjukkan kasih sayangnya kepada wanita yang dicintainya itu.


Hati kakaknya itu memang sangat tulus, lembut dan hangat. Kemudian Gia pamit kepada kakaknya itu, karena kebetulan hari ini dia ada kuliah " Kak, Gia pamit dulu ya, ada kelas hari ini. Habis kelas Gia balik lagi kesini kok!" pamitnya. Gio mengangguk, mengijinkan Gia untuk pergi. Gio sangat senang karena adiknya itu selalu ada saat dibutuhkan. Dan adiknya itu sangat pengertian dalam keadaan apapun.


Sepeninggalan Gia, Gio duduk disamping tempat tidur Zara. Digenggamnya tangan Zara yang masih terasa dingin. Ditambah AC di dalam ruangan itu memang cukup dingin. Diberinya kehangatan agar Zara merasa lebih nyaman dan aman. Karena sentuhan dan belaian kehangatan serta kasih sayang Gio sepertinya memberikan reaksi kepada tubuh Zara. Tubuh Zara memperlihatkan adanya reaksi. Kelopak matanya terbuka perlahan-lahan. Gio pun nampak bahagia karena Zara sudah mulai sadar dan menunjukkan reaksi.


" Zara, kamu sudah sadar?" ucap Gio dengan hati yang begitu gembira.


" Gio, aku ada dimana?" Tanya Zara seperti kebingungan melihat sekelilingnya.


" Kenapa aku ada di rumah sakit?" tanya Zara yang masih kebingungan. Sepertinya dia lupa akan kejadian tadi.


" Apa kamu sudah lupa dengan kejadian tadi pagi?" Tanya Gio mengingatkan Zara atas peristiwa yang telah menimpanya tadi.


Zara memandang langit-langit kamar sambil merenungkan sesuatu.


" Oh iya, aku ingat. Bagaimana dengan ibu itu? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Zara yang malah mengkhawatirkan orang lain dari pada memikirkan dirinya sendiri yang sedang berjuang antara hidup dan mati.

__ADS_1


" Ibu itu baik-baik saja. Mereka tadi sempat mengunjungi kamu. Setelah itu baru mereka kembali.!" jawab Gio menenangkan hati gadis itu. " Sekarang yang penting kesehatan kamu. Jangan memikirkan orang lain dulu. Oke!" lanjut Gio mengingatkan Zara akan kondisinya saat ini.


Melihat dan merasakan perhatian Gio kepada dirinya, membuat Zara merasa sudah lebih baik. Hatinya sangat bahagia dan semakin membuatnya lebih bersemangat lagi untuk tetap hidup lebih lama lagi.


" Terima kasih ya Gi, aku sangat senang dan bahagia karena ada kamu bersamaku disini. Aku sangat bahagia sekali kamu masih menemaniku disaat seperti ini. Aku sangat - sangat bahagia. Terima kasih!" ucap Zara dengan perasaan hati yang berbunga-bunga indah. Sungguh, di saat ini tiada kebahagiaan lain yang bisa menandingi dengan apa yang sedang dirasakannya.


Kedua tangan mereka saling menggenggam dengan sangat erat penuh kehangatan, kemesraan, dan kasih sayang. Tangan mereka seakan saling mengalirkan kekuatan cinta dalam hati mereka masing-masing. Mata mereka saling menatap dengan penuh kelembutan dan tatapan cinta yang begitu mendalam.


Tanpa berkata-kata, tanpa suara dan tanpa berbicara, tapi seolah-olah pandangan mata merekalah yang telah bercerita dan mengutarakan perasaan mereka masing-masing.


Sementara itu di kampus Gia.


" Gia.... Gia.... Gia...!" panggil Kevin berulang-ulang memanggil nama Gia. Namun Gia seolah tak mendengarnya. Dia berjalan terus tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kevin. Malah ketika bertemu dengan Varen, Gia langsung mengajak pria itu pergi dari sana. Varen yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mengikut saja kemana Gia membawanya.


Dengan hati yang berat dan tidak ikhlas, Kevin menghentikan langkahnya. Melihat Gia dan Varen berjalan berdua meninggalkan dirinya sendiri tanpa memperdulikannya sama sekali membuatnya sedikit kecewa dan sedih.


Kevin hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya apa yang sedang terjadi dengan Gia? Kenapa gadis itu tiba-tiba mengabaikannya begitu saja. Tanpa ada sebab, Gia seakan ingin menghindarinya. Semenjak terakhir kali Gia berkunjung ke rumahnya dan bertemu dengan orang tua serta tante Via sejak saat itu Gia terus menghindarinya.


Mungkinkah saat itu ada sesuatu yang kurang mengenakkan yang terjadi dengan Gia sehingga dia merasa tidak nyaman? Ataukah ada perkataan orang tuanya yang menyakiti hatinya? Jika memang ada setidaknya dia bercerita kepadanya. Bukan malah menghindar darinya atau bahkan melarikan diri jika bertemu dengannya. Bahkan Gia seakan-akan ingin memutuskan hubungan keduanya begitu saja. Meski pada saat ini hubungan mereka hanyalah sebatas teman.

__ADS_1


Padahal Keenan sudah berkali-kali meminta kakaknya itu untuk membawa Gia kembali ke rumah mereka. Tapi bagaimana caranya sekarang supaya Gia mau menemuinya dan mendengarkannya. Untuk bertemu dengan dirinya saja sangat susah karena Gia selalu menghindar darinya.


__ADS_2