Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Suara Hati


__ADS_3

Gio merenung sendirinya di dalam kamarnya. Pikirannya sedang kacau saat ini. Mengingat kejadian di kantornya tadi, Gio menjadi serba salah. Dia bingung dengan apa yang sudah diperbuatnya tadi. Dia mengira jika dirinya sudah tidak waras lagi. Bagaimana mungkin dirinya dengan santainya memeluk Zara seperti itu. Seolah-olah memberi kesempatan dan penguatan kepada gadis itu. Seharusnya dia tidak perlu bertindak segitunya karena akan membuat gadis itu menjadi salah paham kepadanya. Seakan-akan Gio telah membuka hatinya untuk Zara. Bahkan ekspresi wajah Zara tadi nampak sumringah. Dia pastinya merasa bahagia karena bisa menyentuh hati Gio.


Gio seperti orang yang frustasi, tak dapat berpikir dengan jernih. Gia lalu datang ke kamarnya dan ingin meminta sesuatu. Tapi melihat gelagat kakaknya yang sedikit aneh itu, ia mengurungkan niatnya. Didekatinya Gio, dipandanginya dengan lekat wajahnya. Gio yang sedang memejamkan matanya tak menyadari akan kehadiran Gia di sana.


" Kak Gio kenapa.?" Mendengar suara Gia, Gio pun terkaget dan langsung membuka matanya. Ditatapnya Gia dengan tatapan kesal karena sudah mengagetkan dirinya. "Wajah kakak kok seperti wajah frustasi gitu. Kakak kenapa?" tanya Gia tanpa merasa bersalah melihat kakaknya itu yang sudah kesal dibuatnya.


" Gi, bisa nggk sih kalau masuk ke kamar kakak itu jangan bikin kaget gitu. Jantungku lama-lama bisa copot tahu!" ucap Gio menasehati adiknya yang usil itu.


" Makanya kakak tuh jangan keseringan mengkhayal. Kan gitu jadinya. Padahal Gia tenang aja kok nggk sampai bikin kakak terkejut gitu!" ucap Gia menyalahkan Gio dan membela dirinya.


" Kamu itu ya, selalu aja ada jawabannya. Sudahlah, kamu ngapain ke kamar kakak. Pasti ada maunya ini!" Gio menatap tajam adiknya itu.


" Aiiihhhh.... santai aja kali Kak. Emang nggk boleh ya Gia main ke kamar kakak. Lagian Gia juga udah biasa kan main ke kamar kakak. Malah pake nanya lagi.!" ujar Gia. Gio hanya membalasnya dengan hembusan napas panjang. " Tapi Gia penasaran deh kak. Wajah kakak frustasi gitu. Lagi mikirin apa sih kak?" Tanya Gia dengan rasa penasaran. Karena tak biasanya Kakak kesayangannya itu bersikap seperti itu.


" Meskipun kakak cerita, kamu juga pasti tidak bisa membantu kakak.!"


Mendengar ucapan kakaknya yang seakan meremehkan kemampuannya, Gia merasa tidak terima. Kakaknya ini memang selalu memperlakukan dirinya seperti anak kecil saja. Menganggap Gia belum cukup dewasa untuk memahami masalah yang dialaminya.


Gia yang tak terima perlakuan dari kakaknya itu langsung melancarkan protes.


" Kakak, Gia ini bukan lagi anak kecil. Gia ini udah dewasa. Bahkan usia Gia sudah bisa untuk menikah.!"


Bukannya mendengarkan perkataan Gia, Gio malah berkata sebaliknya. " Usia tidak menjadi jaminan bahwa seseorang itu dewasa.!"


" Karena itu, Kakak nggk bisa menilai kalau Gia belum dewasa hanya karena usia Gia lebih muda dari yang Kakak pikirkan.!" Ucap Gia membenarkan dirinya sesuai dengan perkataan kakaknya itu. Membuat Gio tak mampu lagi berkata-kata untuk membantah perkataan adiknya itu.

__ADS_1


" Ya, baiklah perkataanmu memang benar. Tapi tetap saja masalah kakak itu rumit. Kakak sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa?


" Makanya Kakak cerita dong sama Gia, siapa tahu Gia bisa kasih solusi!." ucap Gia dengan percaya diri. Gio berpikir dari pada berdebat dengan Gia dan membuang waktu dengan percuma karena adiknya pasti tidak akan pernah mengalah maka Gio pun dengan setengah hati bercerita.


Mendengar curhat sang kakak Gia sambil berpikir sambil manggut-manggut. Seolah-olah dia mengerti persoalan kakaknya itu dan punya solusi untuk itu.


" Gitu ceritanya,!" Gio mengakhiri ceritanya.


Melihat Gia dengan wajah seriusnya seperti professor yang sedang berpikir, Gio mengira jika adiknya itu cukup pandai berakting.


" Kamu tuh kayak professor linglung tahu nggak. Sok berpikir padahal pasti mikirin yang lain-lain.!" ucap Gio meremehkan kemampuannya adiknya itu


" Tuh kan, Kakak itu pasti menganggap sepele sama Gia." ujarnya sedikit kecewa. " Tapi Gia tidak akan putus asa dan menyerah hanya karena omongan Kakak. " ucap Gia dengan semangat dan percaya diri. Melihat tingkah adiknya itu sebenarnya Gio senang dan bahagia. Tapi karena adiknya itu dianggapnya masih kecil, sehingga tidak menganggap serius omongan Gia.


" Kak, Gia mau nanya deh sama Kakak. Sekarang ini apa yang sedang Kakak rasakan? Tanya Gia beraksi seperti seorang detektif cinta yang sedang menginterogasi kliennya.


" Apa kakak saat ini sedang merasakan ada sedikit rasa rindu nggak dengan dia?" tanya Gia lagi. Gio menatap Gia dengan mimik wajah kebingungan. " Kakak nggk tahu. Kakak aja bingung dengan perasaan Kakak sendiri!" ujarnya dengan jujur.


Gia manggut-manggut seperti mengerti dengan perasaan kakaknya itu. " Kalau saran Gia sih, untuk beberapa hari kedepan ini sebaiknya kakak jangan bertemu dulu dengan dia. Bagaimanapun caranya sebisa mungkin Kakak jangan menemuinya atau usahakan untuk menghindar darinya.!" saran Gia kepada kakaknya itu.


" Lalu, setelah itu!" Tanya Gio


" Kalau dalam beberapa hari ini Kakak masih kepikiran terus dengannya, atau merasa ingin bertemu dan ingin melihat wajahnya, itu artinya Kakak memang sudah ada perasaan dengannya.!" kata Gia mengingatkan Gio.


" Kamu yakin dengan tebakan kamu itu?" Tanya Gio ragu.

__ADS_1


" Itu bukan tebakan Gia kakak. Tapi memang seperti itu tanda-tandanya. Secara logika akan terjadi seperti itu.!" Yakinkan Gia pada kakaknya itu.


" Emang kamu pernah jatuh cinta?" Sok tahu aja, jatuh cinta aja belum pernah.!" sindir Gio. Meski sebenarnya dia juga pernah melihat gelagat adiknya itu ketika sedang naksir dengan seorang cowok di kampusnya. Meski dia tidak yakin apakah adiknya itu jatuh cinta atau hanya sekedar naksir doang.


" Kakak, meski Gia belum pernah jatuh cinta, tapi Gia tahu soal begituan. Pergaulan Gia kan luas. Emangnya Kakak, hanya sibuk kerja. Rumah, kerja, rumah, kerja. Dunia Kakak kan cuman itu doang. Jelas aja nggk tahu soal begituan.!" ucap Gia mengejek sang Kakak yang sepertinya memang kurang pergaulan.


" Hemmmmm, kamu ngejek Kakak ya!"


" Bukan ngejek loh Kakak. Tapi hanya memberitahukan saja. Memang begitu kan. Kakak tuh perlu bergaul. Padahal kan kakak punya banyak teman kantor dan rekan bisnis yang bisa diajak hang out bareng. Kakak aja yang selalu mengurung diri. Sibuk mulu kerjanya.!" ucap Gia menyadarkan Gio akan ritme hidupnya selama ini.


" Kakak kan udah terbiasa seperti itu. Kakak merasa enjoy aja selama ini!"


" Karena itu, Kakak selalu memendam perasaan hati Kakak selama ini. Tidak mau membuka hati untuk menemukan dunia yang baru.!" sahut Gia.


Gio pun merenungkan ucapan-ucapan Gia. Hampir semua perkataan adiknya itu benar adanya. Adiknya itu memang paling mengerti dan mengetahui tentang dirinya, selain Bunda Eva tentunya.


" Baiklah, sepertinya Kakak harus mengikuti saran kamu kali ini. Karena tak ada pilihan lain.!" ucap Gio masih dengan menjaga harga dirinya.


Gia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak menyangka saja jika kakaknya itu masih saja memikirkan ego dan harga dirinya sebagai seorang pria sejati.


" Kak, seandainya Gia bukan adikmu dan kita tak pernah bertemu, Gia yakin kalau Kakak pasti akan menjadi jomblo seumur hidup.!" ucap Gia.


Dan Gio malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan adiknya itu.


" Kok doanya begitu amat sih sama Kakak?" ujar Gio dengan sambil tertawa.

__ADS_1


" Bukan Gia doakan Kakak. Mana mungkin Gia mendoakan Kakak jadi jomblo seumur hidup!" bantah Gia.


__ADS_2