
Pukul 18.00 , nampak Joe sibuk berdandan. Ya karena malam ini dia ada janji kencan dengan Xhena. Perkenalan pertama lewat kencan buta ternyata meninggalkan kesan yang cukup baik. Sehingga berlanjut dengan kencan berikutnya. Kelakuan Joe agak berubah semenjak kenal dengan Xhena, padahal baru beberapa hari yang lalu mereka saling berkenalan. Lihat saja tingkahnya yang bolak balik menatap cermin memeriksa mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Memeriksa penampilannya apakah ada yang kurang. Penampilannya harus terlihat sempurna di mata sang pasangan wanita.
Meski berkali kali mematut dirinya dihadapan cermin tetap saja penampilannya tidak berubah ubah. Wajah tampannya yang sudah menginjak umur paruh baya itu masih sama terlihat kala dirinya masih muda dulu. Tak banyak perubahan. Hanya mungkin nampak lebih dewasa dan matang.
Bahkan dirinya masih merasa belum puas dengan penampilannya, tapi Joe tetap harus segera pergi. Tidak mungkin dia membiarkan wanita itu menunggunya lama hanya karena dia terlalu lama berdandan. Lagi pula tidak lucu rasanya jika dia harus memberi alasan kenapa dia sampai terlambat datang.
Joe akhirnya tiba di restaurant tempat mereka berkencan malam ini. Sudah setua itu tapi tetap saja ada rasa gugup pada dirinya ketika hendak bertemu lagi dengan wanita itu. Gugup dan sedikit cemas. Khawatir jika wanita itu bosan menunggu kehadirannya. Diperhatikannya ruangan tempat mereka akan bertemu. Masih kosong belum ada tanda-tanda kehadiran siapapun disana. Syukurlah. Artinya dia belum terlambat sama sekali. Seorang pelayan menyambut kedatangan Joe kemudian mempersilahkan Joe duduk di tempatnya setelah Joe menginformasikannya kepada pelayan itu.
5 menit, 10 menit, 20 menit berlalu. Wanita itu belum juga muncul. Joe melirik arloji di tangan kirinya. Sudah lewat dari waktu yang disepakati. Tapi Joe masih berusaha berpikir positif. 30 menit, 45 menit bahkan sudah lebih dari satu jam,tak ada tanda-tanda jika wanita itu akan datang. Padahal tamu-tamu yang datang di restaurant tersebut sejak tadi sudah berkeliweran keluar masuk restaurant.
Joe mulai tak tenang. Apakah mungkin Xhena tiba-tiba berubah pikiran sehingga dia tidak datang menepati janji mereka? Joe tak henti-hentinya berulang-ulang melirik jam dipergelangan kirinya. Berharap ada yang salah dengan penglihatannya. Namun tidak ada yang salah ataupun keliru. Joe tertunduk lemas. Ada perasaan kecewa merasukinya saat ini. Pelayan restaurant itu bahkan mengingatkan Joe jika tempat itu sebentar lagi akan ditutup. Yang artinya secara tidak langsung meminta Joe untuk pergi dari tempat itu.
Dengan gontai Joe melangkah keluar dari restaurant tersebut menuju ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Joe menghempaskan kepalanya di atas setir mobil dengan perasaan sedih dan kecewa. Apakah kali ini percintaannya harus gagal lagi? Kenapa semesta seakan tidak berpihak kepadanya? Salah dan dosa apa yang telah diperbuatnya di kehidupan sebelumnya sehingga dia harus menerima hukuman berat dan sesakit ini?
Dengan hati yang tersakiti, Joe melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu membawa pulang mimpi-mimpinya yang hampir saja dirajutnya sedemikian rupa demi masa depannya. Apakah mungkin dirinya ditakdirkan untuk tidak menikah seumur hidupnya? Padahal hatinya sudah begitu merindu, sangat merindu menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan pasangan hidupnya. Belahan jiwanya yang akan mendampingi dan menemaninya menikmati masa-masa tuanya hingga akhir hayatnya.
Pandangan lurus tapi kosong, Joe mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak perduli dengan keadaan disekitarnya. Padahal di jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan dengan kecepatan tinggi tentu memiliki banyak resiko. Silap mata saja bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Dengan pikirannya yang sedikit kacau balau Joe hanya punya satu tujuan. Kembali ke rumah dan minum sampai mabuk. Setidaknya bisa membuatnya melupakan sejenak rasa sesal di dalam hatinya.
Ingin sebenarnya dia menghubungi Grego dan bercerita dengannya. Tapi harga dirinya membuatnya mengurungkannya. Meski Grego tidak akan berkata-kata sesuatu yang menyakitinya. Bahkan mungkin Grego pasti akan menghiburnya tapi dia tidak berharap belas kasihan dari siapapun saat ini. Biarlah saat ini dia meluapkan seluruh perasaan, emosi dan beban hatinya hanya seorang diri saja. Dia cukup kuat untuk hal itu.
Dengan sedikit kasar Joe menutup pintu mobilnya setelah sampai di rumahnya dan dia turun dari mobilnya. Wajah lusuhnya karena kecewa tertunduk lemas. Di bukanya pintu rumahnya yang terlihat gelap gulita tanpa sedikitpun penerangan. Joe sampai tak sadar dengan keadaan lingkungan rumahnya yang sedikit berbeda. Tak satupun lampu atau cahaya menerangi rumah itu. Setidaknya lampu taman dan lampu teras biasanya menjelang sore sudah menyala. Kemana para asisten rumah tangganya? Kok sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Pintu yang terbuka lebar dan ruangan yang begitu gelap gulita tiba-tiba menyala terang benderang dan terdengar paduan suara menyanyikan lagu " Happy Birthday!.
__ADS_1
" Happy birthday to you.... Happy birthday to you... Happy birthday to dear Joe.... Happy birthday to you!"
Joe yang sangat kaget menjadi lebih kaget lagi ketika melihat wanita yang membawakannya kue ulang tahun dengan lilin menyala tidak lain tidak bukan adalah Xhena. Joe tidak percaya Xhena ada dihadapannya saat ini. Dengan mulut ternganga karena begitu terkejutnya, Joe menyapu sekeliling ruangan rumahnya itu. Ada Grego dan Eva, Gia dan Gio dan yang teristimewa tentunya adalah kehadiran Xhena. Dan ini adalah benar benar kejutan yang mengejutkan.
Mereka lalu duduk mengelilingi meja makan bundar yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Grego dan Eva. Rumah itu sekarang nampak lebih berwarna dan meriah. Balon-balon ulang tahun nampak bertaburan di langit langit rumah Joe. Balon huruf berwarna gold bertuliskan Happy Birthday Joe menempel di dinding dengan gagahnya. Joe sungguh terharu melihat usaha dan kerja keras mereka untuk mempersiapkannya untuknya.
" Sejak kapan kalian merencanakan ini? tanya Joe masih dengan rasa tak percaya.
" Setidaknya sebelum kamu menyadarinya! jawab Grego asal.
" Dan kamu kok..! Joe memandang ke arah Xhena. Dia masih terkaget-kaget karena Xhena ada di rumahnya saat ini.
" Jadi kalian bersekongkol untuk mengerjai aku malam ini. Kalian benar-benar tega ya. Kalian membiarkan aku menderita sendirian, menunggu dengan perasaan sakit hati.! ucap Joe mengungkapkan kekesalannya.
" Tapi sekarang kamu senang kan. Karena pujaan hati ternyata ada disini! goda Grego.
" Atau jangan-jangan tadi pasti kamu merasa putus asa ya. Mengira Xhena tidak mau lagi berhubungan sama kamu? sambung Eva.
" Kalau hanya masalah itu sih nggak papa. Takutnya kan terjadi sesuatu sama dia. Dia terluka atau diculik penjahat.! ucap Joe berusaha membela dirinya.
" Ahh masa sih! Segitu perhatiannya.! Grego tak hentinya menggoda Joe.
__ADS_1
Xhena hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar percakapan mereka. Ada rasa salut dan kagum melihat keakraban mereka. Padahal dia tahu jika hubungan diantara mereka hanyalah hubungan persahabatan. Joe malam itu bercerita banyak tentang masa lalunya termasuk hubungan kekeluargaan diantara mereka.
" Om Joe, kelihatannya semakin nampak kelihatan lebih muda ya! Gia tidak mau kalah menggoda Joe.
" Hemmm... Gia ikut-ikutan ya godain Om! balas Joe.
" Tapi benar kok Om Joe. Wajah Om jadi kelihatan lebih freshh gitu! Gio menimpali.
Joe pun menatap tajam tapi bersinar bahagia ke arah Joe. Karena hatinya sebenarnya bahagia meski harus diusili oleh mereka.
Tiba-tiba ponsel Joe berdering. Ada panggilan dari mamanya. Joe langsung menjawabnya tidak lupa mengaktifkan pengeras suaranya sehingga mereka semua bisa mendengarnya.
" Selamat ulang tahun Joe. Semoga tetap bahagia dan tetap semangat! ucap wanita tua itu dengan keibuan.
" Terima kasih Ma! balas Joe.
" Nenek, salam dari anak mantu nenek. Om Joe sebentar lagi bawa tante baru ke rumah nenek! teriak Gia spontan. Membuat mereka semua yang ada disana tertawa. Joe memelototi Gia yang tiba-tiba bicara sembarangan.
" Wah benar kah. Nenek senang sekali! terdengar suara bahagia wanita tua itu.
" Hemmm, sudah ya Ma, nanti Joe telvon lagi. Kami lagi ada acara! ucap Joe mengakhiri pembicaraannya. Tanpa menunggu jawaban dari mamanya itu Joe langsung mematikan ponselnya dan memasukkan nya kedalam saku bajunya.
__ADS_1