Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Pertemuan Yang Kedua


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari kampus hingga ke rumah, Gia tak henti-hentinya bercerita tentang pengalamannya di kampus hari ini. Tak satu detail pun terlewatkan. Di mulai dari kebahagiaannya yang sudah punya sahabat-sahabat baru di kampus. Hingga pertemuannya dengan pria yang menurutnya sangat menjengkelkan tersebut.


Gio sebagai pendengar yang setia dengan sabar dan senang mendengarkan cerita sang adik. Rasa antusiasnya yang besar membuat Gio juga ikut bersemangat.


Tapi ketika mendengar bagian cerita tentang pria yang menggoda adiknya itu membuat hati Gio sedikit panas. Amarah hatinya seperti bangkit karena tidak terima jika adiknya itu menjadi tidak tenang karena merasa terganggu dengan ulah pria genit itu.


Gio merasa geram mendengarkan cerita sang adik yang tidak dapat menikmati kuliahnya dengan lebih baik karena merasa terganggu.


Gio pun berjanji pada adiknya itu tidak akan membiarkan pria brengsek itu mengganggunya lagi. Gia begitu gembira sekali karena kakaknya itu sangat perhatian akan dirinya. Apapun akan dilakukan kakaknya itu demi adiknya tercinta.


Tapi Gia meminta kepada kakaknya itu agar tidak perlu menceritakannya kepada Bunda mereka karena pasti akan membuat Bundanya itu menjadi khawatir.


Sebagai kakak yang baik, tentu saja Gio akan menuruti permintaan adiknya itu. Gio sudah terlanjur sangat menyayangi adiknya itu. Sekalipun hubungan diantara mereka tidak ada ikatan darah sama sekali. Tetapi hubungan mereka bahkan melebihi ikatan darah.


Pagi ini Gia masuk kampus seperti biasanya. Beberapa temannya juga sudah tiba di kampus. Dalam hati Gia berdoa "Semoga pria pengganggu itu tidak menggangguku lagi!


Setelah Gia masuk area kampus, Gio tidak langsung pergi ke kantor seperti biasanya. Dia masih menunggu di dalam mobilnya, siapa tahu adiknya itu tiba-tiba menghubunginya dan meminta pertolongannya.


Dan memang dia juga ingin melihat wajah pria yang membuat adiknya itu tidak tenang.


Gia masuk ke dalam kelas. Dan ternyata si pria aneh sudah ada di dalam kelas. Duduk manis, tenang tanpa bicara. Teman-teman disampingnya sibuk bercengkerama ria tapi pria itu malah diam menyepi sambil memainkan pena yang ada ditangannya.


Gia merasa sedikit aneh melihat perangai pria itu. Mana mungkin dia bisa setenang itu mengingat sikap dan perilakunya yang heboh, sombong, arogan dan terlalu percaya diri. Tidaklah mungkin seseorang dapat berubah seketika itu juga.


Atau kecuali dia memiliki kepribadian ganda. Gia memang belum mengenal pria itu dengan baik. Karena mereka baru saja bertemu beberapa kali.


Tapi Gia tidak mau terlalu ambil peduli. Pria itu bukan siapa-siapanya hanya kebetulan sebagai teman sekelasnya.

__ADS_1


Gia lalu duduk di kursinya. Dan ternyata pria itu diam-diam melirik ke arah Gia tanpa sepengetahuan gadis itu.


" Gadis itu ternyata bukan gadis biasa. Dia berbeda dengan gadis-gadis lain yang selalu mengejar-ngejar cintaku dan bahkan rela melakukan apa saja demi memperoleh perhatian kecil dari diriku." ucap pria itu dalam benaknya.


Tak lama kemudian sang Dosen masuk ke dalam kelas dan kuliah pagi ini pun di mulai. Gia dengan serius mengikuti setiap materi yang disampaikan oleh sang Dosen.


Bagi seorang Gia, pendidikan adalah jalan baginya menuju puncak keberhasilan. Maka dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah Tuhan berikan kepadanya.


Kehidupan telah mengajarkan dirinya untuk senantiasa berjuang dalam hidup ini. Meski orang tuanya memiliki kekayaan yang melimpah, dia tidak ingin menjadi orang yang hanya menikmati hasil jerih payah orang tuanya dan dia tidak berusaha apapun.


Meski pada akhirnya harta warisan orang tuanya telah tertulis atas namanya tapi tidak membuatnya untuk duduk menikmatinya saja. Dia harus tetap berusaha dan membuktikan dirinya sebagai orang yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan.


Dengan tekad itu Gia berharap kelak dia bisa membanggakan orang-orang yang dicintainya itu dengan usaha dan kemampuannya.


Untuk itu dia berjanji pada dirinya akan belajar dengan sungguh-sungguh dan menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dan dengan hasil yang memuaskan.


Waktu menunjukkan pukul 3 siang. Waktunya pulang karena kelasnya hari ini sudah selesai. Dan dia belum menghubungi Gio untuk menjemputnya pulang. Gia pun berinisiatif akan pulang sendiri dengan taksi online.


Kakaknya itu pasti masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor, sehingga dia merasa tidak enak hati jika harus mengganggu kakaknya itu. Maka dia memutuskan untuk tidak menghubungi kakaknya itu.


Tapi sebelum pulang, dia ingin singgah sebentar di toko buku. Ada beberapa buku yang ingin dibelinya. Untungnya disekitar kampus mereka ada beberapa toko buku yang menyediakan buku-buku untuk anak kuliahan.


Gia pun berjalan menyusuri jalan trotoar yang menghubungkan kampusnya dengan toko-toko yang menjual kebutuhan anak-anak kuliahan ditempat itu.


Beberapa toko buku yang ada di daerah itu berada dalam satu lokasi dan harus menyebrangi jalan raya. Karena lokasinya berada di timur kampus.


Jalanan cukup ramai dengan kendaraan karena merupakan jalur umum. Untuk itu disediakan zebra cross untuk memudahkan pejalan kaki untuk menyebrang.

__ADS_1


Sebelum menyebrang, Gia menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan kendaraan aman dan dia bisa menyebrang dengan selamat.


Saat netranya sedang awas dihadapannya terlihat seorang balita seorang diri hendak menyebrang juga. Balita laki-laki itu berjarak 15 meter darinya.


Entah dimana orang tuanya yang tega membiarkan anak sekecil itu seorang diri. Dan yang menjadi masalahnya adalah bocah kecil itu seperti ingin menyebrang di tempat yang salah.


Karena zebra cross hanya ada di hadapan Gia berdiri saat ini. Gia berpikir sejenak apa yang akan diperbuatnya melihat situasi seperti ini. Namun belum selesai Gia memikirkannya, bocah itu malah telah menyebrang. Sedangkan lalu lalang kendaraan cukup ramai.


Gia pun mulai was-was dan gelisah. Hal ini tak dapat dibiarkan. Dengan refleks kakinya berlari mengejar bocah itu. Disaat yang bersamaan sebuah mobil sedan melaju dengan kencang dari arah berlawanan. Dengan gerakan yang lambat bocah itu terus berjalan berusaha menyebrangi jalan raya.


Gia semakin mempercepat larinya, sebelum dirinya terlambat menolongnya dan hal yang buruk akan terjadi.


Sedangkan mobil itu malah semakin melaju dengan kencang. Dengan hati yang sangat cemas, Gia mengerahkan kekuatannya untuk lebih cepat lagi berlari, berlomba dengan mobil itu yang semakin mendekat.


Dan..... Disaat yang tepat, sopir mobil itu menghentikan kendaraannya. Sedangkan Gia berhasil menyelamatkan bocah itu tapi tubuhnya harus terbanting membentur aspal jalanan. Dia menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi bocah itu.


" Kamu tidak apa-apa kan sayang? ucap Gia sambil memperhatikan seluruh tubuh bocah itu jangan sampai ada luka atau lecet.


Dan anehnya bocah itu tidak menangis ataupun meringis kesakitan. Wajahnya tetap tenang meski terlihat sedikit takut dan gelisah.


Si pemilik mobil keluar dari dalam kendaraannya dan dengan wajah cemas menemui Gia dan bocah kecil itu.


" Kalian tidak apa-apakan? Saya minta maaf, saya sedang tidak fokus karena terburu-buru! ucap si pria itu dengan perasaan bersalah.


Gia menatap pria itu, seperti tidak asing baginya. Sepertinya dia pernah melihat wajah itu tapi dimana dia melihatnya.?


" Mari ikut saya, kita ke rumah sakit, mungkin ada yang perlu kita check ke dokter.! ujar pria itu nampak mulai tenang.

__ADS_1


Gia yang mencoba mempercayai pria itu, akhirnya menuruti perkataannya. Di gendongnya balita itu dan dibawanya masuk ke dalam mobil pria itu. Pria itu pun turut masuk, dan setelah melihat Gia sudah duduk dengan baik dia pun segera melajukan mobilnya itu.


__ADS_2