
Setelah Gia selesai bercerita dengan Ayah Grego dan Om Joe, Gia pun pamit ingin membersihkan diri terlebih dahulu. Ditinggalkannya kedua pria itu menyelesaikan tugas mereka yang sempat tertunda tadi. Namun baru saja Gia menghilang dari sana, kini muncul Gio dengan wajah kusutnya. Grego dan Joe yang baru saja menarik napas lega, malah harus menghembuskan napas panjang dan berat.
" Kenapa wajah itu kusut sekali? tanya Grego.
Gio mendudukan tubuhnya di samping Grego. Turut menghela napas dengan agak berat. Membisu sejenak, lalu mulai berceritra tentang peristiwa yang sedang dialaminya belakangan ini.
" Yah, Gio bingung harus berbuat apa supaya Gio bisa memberi pengertian kepadanya dan tidak mengganggu hidup Gio lagi." Gio menyenderkan kepalanya diatas sofa sambil memejamkan matanya. Grego melirik ke arah Joe seakan meminta pendapatnya. Karena Grego sendiri bingung harus menjawab apa pada putranya yang sedang galau itu. Bukannya menjawab Joe malah balas menatap Grego dengan tajam. Seakan berkata "Kenapa kamu tanya pada saya.?"
Mereka berdua saling berdebat dengan menggunakan bahasa tubuh masing-masing. Gio yang merasa jika kedua pria itu terlalu lama membisu tak ada reaksi atau jawaban sama sekali, membuka matanya dan menatap mereka berdua bergantian. Dan dengan gerakan refleks mereka berdua diam tak bergerak.
" Gimana Yah, Om. Kok diam saja. " sahut Gio.
Yang ditanya hanya saling memandang dan membisu. Kemudian Joe pun membuka suaranya, " Menurut Om sih sebaiknya kamu ajak dia bicara dengan baik-baik. Karena menurut penilaian Om gadis seperti dia jika semakin kamu larang dengan cara seperti itu dia akan semakin nekat. Karena itu semakin menantang untuk dia." Grego malah manggut-manggut mendengarkan perkataan Joe.
" Om kamu benar. Sebaiknya kamu ajak dia bicara empat mata. Bicara dengan lebih lembut, jangan dengan hati yang keras." ucap Grego mendukung pendapat Joe.
" Tapi bagaimna jika Gio sudah melakukan seperti yang Om Joe dan Ayah sampaikan tapi dia tetap tidak mau mendengarkannya sama sekali?" tanya Gio meminta option lain.
__ADS_1
Joe dan Grego saling angkat bahu. Karena menurut mereka hanya itu cara yang paling baik dan benar. Karena bagaimanapun sebagai pria sejati mereka tidak boleh menyakiti hati perempuan apalagi sampai bertindak kasar. Mengingat peristiwa-peristiwa lalu yang pernah mereka alami. Mereka belajar dari pengalaman agar tidak terjadi kejadian yang sama seperti dulu.
Gio pun mengerti, jika masalah ini hanya dia sendiri yang harus menyelesaikannya. Dia kini bukan lagi pria kecil yang tak tahu harus berbuat apa. Selama ini Ayah dan Om Joe telah mengajarkan banyak hal kepadanya. Selama Bunda tak ada bersama mereka selama belasan tahun ini, Gio banyak belajar bagaimana menghadapi kehidupan ini. Setiap kesulitan dan persoalan yang kita alami maka harus berani kita hadapi. Tidak lupa untuk menimba kekuatan dan memohon pencerahan dari Sang Maha Kuasa. Karena sebagai manusia biasa kita memiliki keterbatasan.
Menimbang perkataan Ayah dan Omnya itu, Gio akan mencoba melakukannya. Setidaknya dia telah berusaha untuk bersikap dengan baik. Apapun hasilnya dia akan menerima keadaannya.
Hanya masalahnya sekarang adalah bagaimana dia bisa menghubungi perempuan itu, karena Gio sama sekali tak punya nomor kontaknya. Selama ini perempuan itu yang selalu mengekorinya kemana pun dia pergi. Dan Gio tak pernah berkeinginan untuk mengetahui apapun tentangnya. Apalagi untuk mengetahui nomor kontaknya.
Cara satu-satunya hanyalah dengan menunggu. Jika perempuan itu tidak datang lagi mengganggunya bukankah itu lebih baik lagi. Gio tak perlu lagi memikirkannya.
Keesokan harinya, Gio berangkat ke kantor seperti biasanya. Sebagai seorang CEO dia selalu datang tepat waktu atau lebih awal dari jadwal untuk memberikan teladan kepada karyawannya. Padahal sebagai pimpinan dia bisa datang kapan saja sesuai dengan keinginan hatinya. Tetapi Gio bukanlah seperti kebanyakan CEO lainnya. Gio adalah Gio dia berbeda dan tidak ingin disamakan dengan siapa pun itu.
" Hai!" sapanya dengan senyum yang mengambang. Gio tak menjawabnya hanya mendengus sedikit kesal karena dikagetkan olehnya.
" Hai handsome, kenapa sih sombong amat. Kalau ada yang nyapa harus dibalas loh. Dosa tahu kalau cuek begitu!" Berbicara tentang dosa, dia sendiri lupa kalau dia hampir saja mau mencelakakannya Gia karena rasa cemburu buta. Bukankah itu lebih berdosa?
Gio tak membalas ataupun menggubrisnya. Tapi Zara tidak menyerah. Segala daya upaya akan dilakukannya. Pintu lift terbuka, Gio melangkah keluar. Zara tak mau ketinggalan. Seperti seorang anak kecil yang mengekor di belakang ayahnya, Zara mengikut kemanapun Gio pergi. Melihat tingkah Gio dan Zara yang memang sedikit aneh menjadi pusat perhatian para karyawan di kantor itu. Dan akibatnya muncul desas-desus diantara para karyawan jika Zara adalah pacar sang CEO mereka.
__ADS_1
Dan tentu saja Gio tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Ingin membantah tapi apa ada yang akan peduli? Jadi mungkin dibiarkan saja. Gio pun mengajak Zara ke ruangannya. Seperti usulan Om Joe kemarin, Gio harus menyelesaikannya segera. Setelah masuk ke dalam ruangan kantor, Gio segera menutup pintu ruangannya dan mengaktifkan mode kedap suara. Dengannya begitu dia bisa bebas untuk berbicara dengan nada oktaf tinggi atau oktaf rendah.
Tanpa disuruh, Zara langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Zara bersikap seolah-olah dia adalah pemilik di ruangan itu. Gio tak peduli untuk saat ini. Biarkan saja wanita itu bertindak sesuka hatinya.
" Sebenarnya ini tidak penting tapi aku tidak tahu harus memanggil kamu apa jadi aku harus bertanya siapa nama kamu?" Gio memulai pembicaraannya dengan terlebih dahulu menanyakan siapa namanya. Karena Gio sama sekali tidak tahu siapa nama wanita itu. Sekalipun mereka telah bertemu beberapa kali.
Zara tidak langsung menjawab pertanyaan Gio. Dia malah balik bertanya kepada Gio. "Apakah aku harus menjawab pertanyaan mu itu?" Gio yang merasa kesal menjawab dengan sindiran halus. " Sebenarnya tidak penting kamu mau jawab atau tidak. Nggk ada gunanya juga untuk saya. Tapi saya hanya mencoba untuk menghargai kamu! "
Zara malah tersenyum. Hatinya senang karena Gio memberi respon kepadanya sekalipun ucapan-ucapan nya sedikit menyakiti hati. Setidaknya itu lebih baik dari pada dicuekin dan diabaikan sama sekali.
" Nama gue Zara Geraldine. Dan gue adalah calon wanita masa depan kamu!" Dengan rasa percaya diri yang tinggi Zara menjawab pertanyaan Gio. Mendengar ocehan Zara yang berkata sembarangan hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Gio. Dia tak habis pikir kenapa ada wanita seperti Zara di dunia ini. Sepertinya urat malunya sudah putus. Atau mungkin saat penciptaan ketika Tuhan membagi-bagikan urat malu kepada setiap manusia Zara membolos tidak hadir sehingga dia tidak punya urat malu sama sekali.
" Kamu pasti kagum ya dengan diriku. Jangan terlalu kagum nanti kamu jadi semakin cinta!" ucap Zara semakin memuji dirinya sendiri.
" Nona Zara, sebenarnya apa yang kamu inginkan. Aku tidak ingin hidupku semakin terganggu oleh kehadiranmu!" Gio berusaha untuk tetap bersikap sopan dan tenang.
" Sebagai laki-laki kamu pasti tahu apa yang aku inginkan. Kamu pasti tidak sebodoh itu kan sehingga tidak tahu apa yang kuinginkan darimu.!" Perkataan Zara langsung mengena di hati Gio. Karena memang benar kalau sebenarnya Gio itu mengerti dan tahu apa yang sedang diinginkan oleh wanita itu. Tindakan, sikap dan perkataannya jelas-jelas mengungkapkan apa yang dia inginkan dari seorang Gio.
__ADS_1
" Ya, ucapanmu memang benar, tapi seharusnya kamu juga tahu dong apa jawabanku. Karena kamu juga pasti tak sebodoh itu!" balas Gio.
" Aku memang tahu jawaban kamu apa. Tapi aku hanya meyakini satu hal jika aku terus berusaha dan tidak menyerah, bisa saja kan suatu saat hatimu berubah dan akhirnya mau menerima cintaku.!" Zara berkata dengan sangat meyakinkan sekali. Bahkan Gio sendiri tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Wanita ini memang lain dari pada yang lain.