Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Kita Bertemu Lagi.


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, keluarga Pratama sudah sibuk menyiapkan keperluan piknik weekend mereka. Gia dan Bunda Eva mempersiapkan bekal makanan, Gio dan Ayah Grego menyiapkan peralatan tenda untuk camping.


Sedangkan Om Joe membantu menyiapkan yang lainnya. Weekend kali ini, Ayah Grego dan Om Joe sudah berjanji akan melepaskan semua pekerjaan di kantor.


Tidak ada yang namanya meeting dengan klien, meninjau proyek di luar kota atau alasan-alasan pekerjaan lainnya. Total fokus untuk liburan. Kata netizen healing woii... healing...!


Setelah semua keperluan dirasa sudah beres dan oke, tinggal meluncur ke tempat tujuan. Menggunakan mobil Ayah Grego sehingga semua anggota keluarga bisa masuk di dalamnya. Mobil pun melaju. Gio sebagai yang termuda mengambil posisi sopir. Om Joe duduk disamping sopir. Gia duduk barisan tengah, Bunda Eva dan Ayah Grego duduk di bagian belakang sopir. Sepanjang perjalanan mengalun lantunan lagu-lagu romantis John Legend, Bruno Mars, The Corrs dan band-band indie lainnya.


Gia bahkan ikut bernyanyi jika dia hapal lirik lagu yang sedang diputar. Dan sudah jadi rahasia keluarga kalau Gia memiliki suara emas. Hanya saja Gia tidak mau orang lain tahu, sehingga dia jarang mempertunjukkan bakatnya. Teman-teman kampusnya pun tidak semuanya tahu akan talent yang di miliki oleh Gia. Hanya sahabat-sahabat terdekatnya saja.


" Kenapa Gia tidak ikut saja kompetisi bintang idol gitu. Om yakin kamu bisa jadi juara.!" puji Joe sekaligus memberi dukungan kepada Gia.


" Nggak ah Om. Gia nggk mau jadi penyanyi. Capek, banyak tuntutannya. Udah gitu nggk bebas kemana-mana, kayak di penjara saja harus diawasi dan dikawal 24 jam. Gia bakalan stress menghadapinya.!" tolak Gia dengan gaya dan tingkah lucunya.


" Kakak setuju. Kakak juga nggk mau Gia jadi penyanyi atau artis. Kasihan Om hidup artis itu berat. Hidup privacynya selalu jadi bahan incaran berita entertainment. Kemana-mana dikejar wartawan.! ucap Gio memberi dukungan kepada adiknya itu. Dan dibalas dengan acungan jempol oleh Gia.


" Ternyata kakak adik kompak juga ya.!" Joe mengacungkan jempol tanda salut dan bangganya kepada Gio dan Gia.


" Anak siapa dulu dong.!" ucap Grego tak mau kalah.

__ADS_1


" Iya baiklah. Tapi kayaknya yang paling dibanggakan disini Bundanya deh.!" Joe melirik Grego kemudian Eva sambil mengerlingkan matanya. Eva tersenyum lucu sekaligus bahagia melihat kebahagiaan dalam keluarganya ini. Dalam hati dia berdoa semoga kebahagiaan mereka ini tidak hanya sesaat saja. Namun tetap bertahan sampai selama-lamanya.


Kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tiba di tempat tujuan. Disebuah danau buatan dan tak kalah indah dari danau asli karya Sang Pencipta. Zaman sekarang apa sih yang tidak bisa diciptakan oleh manusia? Hanya satu yang tidak bisa diciptakan manusia, yaitu menghidupkan orang mati. Untuk saat ini memang, tidak tahu di masa yang akan datang.


Karena danau adalah danau buatan manusia, jadi banyak orang yang datang memanfaatkannya untuk refreshing, sendirian ataupun bersama dengan pasangan atau keluarga. Syukurlah tempatnya masih sepi hanya ada 2 atau 3 kelompok yang sudah datang dan mendirikan tenda.


Ayah Grego dan Gio dibantu Om Joe menyiapkan kantong tenda. Fungsi kantong tenda hanya sebagai peneduh jika tiba-tiba turun hujan ataupun pelindung dari terik sengatnya panas matahari.


Tidak butuh waktu lama, tenda sudah berdiri dengan kokoh. Satu tenda untuk semua. Karpet abu-abu dibentangkan di depan tenda sebagai tempat untuk duduk bersama. Bunda Eva dan Gia mengeluarkan makanan dan menyajikannya di tengah atas karpet. Udara terasa sejuk dan segar, angin berhembus sepoi-sepoi. Mega langit menghalangi panas sinar sang mentari sehingga tubuh orang-orang yang ada disana tidak terbakar sengatnya. Pepohonan hijau yang mengelilingi danau nampak rimbun dan subur. Banyak burung bersarang diantara dedaunan dan ranting-rantingnya .


Mereka duduk melingkar, mengelilingi aneka makanan yang sudah tersedia. Kemudian selanjutnya mereka saling bercerita, percakapan-percakapan akrab dan hangat. Pembicaraan mereka diselingi dengan canda dan tawa. Pujian dan sanjungan saling terlontar diantara mereka.


Mata jeli Keenan memang tak bisa lepas dari sorotan tajam melihat sosok yang dirindukannya. Melihat Gia ada disana, Keenan langsung berlari menemui Gia sambil berteriak dengan sekencangnya.


" Kak Giaaa!!! " Spontan Gia dan yang lainnya menoleh ke arah suara kecil melengking yang memanggil nama Gia. Keenan langsung terbenam dalam dekapan Gia. Betapa bahagianya Keenan bisa bertemu dengan Gia di tempat itu. Tak disangkanya dia akan bertemu lagi dengan Gia.


Awalnya mereka semua nampak tersenyum senang melihat kehadiran Keenan. Tetapi dalam sekejap raut muka mereka berubah setelah melihat sosok yang lain muncul bersamaan dengan Keenan. Sosok orang yang sangat mereka tidak ingin bertemu lagi di masa depan. Yang selalu mereka berusaha untuk menghindarinya.


Dan saat ini mereka malah bertemu ditempat ini. Sebagai orang dewasa mereka harusnya bersikap bijaksana apalagi dihadapan seorang anak kecil seperti Keenan. Jangan sampai permusuhan diantara orang-orang dewasa ini malah akan melukai seorang anak polos yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


" Keenan sayang, mari nak. Tempat kita tidak di sini. Adek nggk boleh mengganggu orang lain. Okey!" Mamanya Keenan mengajak Keenan untuk pergi dari tempat itu. Tapi sepertinya Keenan tidak berniat untuk melepaskan Gia.


" Keenan, dengar kata Mama!" Papanya Keenan berusaha membujuk Keenan. Dengan wajah cemberut Keenan melepaskan pelukannya. Sepertinya Keenan lebih menurut dengan kata-kata Papanya.


" Keenan dengar kata Papa dan Mamanya ya. Keenan kan anak baik, harus dengar kata orang tua. Nggk boleh jadi anak yang tidak berbakti.!" Gia dengan bijak menasehati Keenan. Meski Keenan masih bocah, tapi dia cukup dewasa untuk mengerti perkataan orang-orang dewasa.


Keenan manggut-manggut manja. Wajah imutnya terlihat lucu dan menggemaskan. Itulah mengapa keluarga Pratama begitu senang ketika pertama kali bertemu dengan Keenan. Hanya saja sayang, dia adalah keturunan dari keluarga yang tidak mungkin akan bisa menerima keluarga Pratama, begitu juga sebaliknya. Keluarga Hermawan sudah terlalu banyak menyakiti keluarga Pratama.


Bukan berarti masih ada dendam yang mendalam dalam keluarga Pratama, hanya saja kenangan buruk yang membuat mereka begitu sangat menderita tidak dapat terlupakan begitu saja.


Gia melepas kepergian Keenan dengan hati yang sedih. Dalam hati kecilnya dia malah ingin bermain dan bercanda dengan Keenan. Bocah itu sudah lama menarik hatinya. Tapi ada sesuatu hal di luar kendalinya yang tidak bisa diterobosnya. Melawan hati nuraninya, sehingga membuat dirinya selalu merasa bersalah. Dunia orang-orang dewasa memang terkadang sulit untuk dimengerti. Namun kelak dia juga akan menjadi dewasa


dan mungkin saat itu dia akan mengerti. Hanya saja apakah sudah terlambat untuk mengetahuinya? Waktu yang bisa menjawabnya.


Sementara itu di rumah Varen.


Kevin sedang menumpang di rumah Varen sebagai bentuk protests kepada Papa dan Mamanya. Hanya untuk sementara saja tapi tetap saja Kevin harus melakukan sesuatu. Karena cepat atau lambat dia tidak bisa selamanya bergantung kepada orang lain. Dia harus bisa mandiri agar tidak direndahkan oleh orang lain apalagi oleh keluarganya sendiri.


Varen yang merasa tidak tahu harus berbuat apa-apa kepada sahabatnya itu hanya bisa memberi nasehat kecil. Mungkin sekedar nasehat tak penting, tapi sebagai sahabat, setidaknya dia selalu ada untuk memberinya semangat dan juga dukungan.

__ADS_1


" Vin, kamu harus tetap semangat dan jangan putus asa. Mungkin kamu harus bicara baik-baik dengan orangtuamu. Bicaralah dengan hati yang tenang, dengan kepala yang dingin.!" nasehat Varen dan dibalas dengan anggukan malas oleh Kevin.


__ADS_2