Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Perkenalan


__ADS_3

Joe masih ragu dengan penglihatannya. secara fisik memang wanita itu mirip sekali dengan Eva. Hanya saja wajahnya yang tertutup oleh masker tidak terlihat dengan jelas. Tapi jika seandainya memang dia adalah Eva mengapa dia tidak mengenali Joe.? Bahkan terlihat seperti orang asing baginya.


Tidak mungkin Eva tidak mengenalinya sama sekali. Jika tidak mengenali Gio mungkin saja karena Gio sudah bertumbuh dewasa sekarang. Berbeda dengan dirinya ketika masih kanak-kanak 17 tahun lalu.


Joe hampir saja akan meminta wanita itu untuk membuka maskernya tapi tentu saja hal itu akan dianggap tidak sopan. Disaat kita tidak mengenal seseorang dan kita memintanya untuk melakukan hal itu. Joe pun mengurungkan niatnya.


Di dalam mobil Joe dan Gio saling berpandangan seakan bertanya satu sama lain "Bagaimana?


" Gio, Om masih belum puas untuk melihatnya lebih jelas lagi. Om terlalu penasaran dengan apa yang sedang Om lihat.! ujar Joe membuka suaranya.


" Truss gimana dong Om? Tanya Gio meminta pendapat bukannya menjawab rasa penasaran Joe.


" Om akan turun lagi dan bicara dengannya! ujarnya dengan percaya diri.


" Om yakin nih? Tanya Gio meragukan ucapan Joe.


" Harus dong, kalau tidak malam ini Om tidak akan bisa tidur nyenyak! jawabnya mantap.


" Ya Baiklah. Semangat Om! Gio menyemangati Joe.


Joe memberanikan dirinya untuk kembali ke toko roti tersebut. Tekadnya sudah bulat.


Dengan langkah yang dibuat segagah mungkin Joe masuk kembali ke dalam toko roti. Melihat ada tamu yang masuk ke toko Gia dan ibunya spontan langsung memberi salam selamat datang. Tapi ketika yang datang adalah orang yang sama yang baru saja berbelanja roti di tempat mereka, Eva pun langsung bertanya,


" Eh, Anda balik lagi? Apa ada sesuatu yang tertinggal di tempat kami? Eva berusaha bersikap ramah dan sopan kepada Setiap pelanggannya yang datang.


" Ehh maaf sebelumnya. Barang saya tidak ada yang tertinggal. Saya hanya mau bertanya saja? jawab Joe sedikit gugup.


" Oh ya, Anda mau tanya apa? Eva bertanya lagi.


" Boleh saya berkenalan dengan Anda? Tanya Joe tanpa basa-basi.


Melihat keberanian dan kejujuran pria ini, Eva merasa respect dan salut. Tapi Eva masih bertanya lagi.


" Tapi untuk apa Anda ingin berkenalan dengan saya?


Joe tidak mungkin menjawab sejujur-jujurnya.


" Saya hanya ingin kenalan saja. Siapa tahu nanti kedepannya jika saya butuh membeli roti jadi saya bisa menghubungi Anda secara langsung.! ucap Joe mencoba mencari alasan yang tepat.

__ADS_1


" Oke baiklah. Alasan Anda masuk akal juga! jawab Eva.


Joe tersenyum karena merasa mendapat persetujuan dari yang bersangkutan.


" Perkenalkan nama saya, Evelyn. Dan putri saya namanya Gia. Toko roti kecil ini adalah usaha kami sendiri. Kami baru saja pindah ke kota ini! Eva memperkenalkan dirinya kepada Joe. Mendengar namanya disebutkan Joe hampir saja kaget ketika dia menyebut Ev. Tapi sayang akhirnya Evelyn.


Meski agak kecewa setidaknya Joe bisa lebih tenang.


" Oh begitu. Kenalkan nama saya Joe dan anak muda tadi keponakan saya namanya Gio mirip dengan nama Putri anda.! Joe memperkenalkan dirinya.


Mereka berdua saling berjabat tangan sebagai tanda sah perkenalan diantara mereka.


"Kalau Begitulah saya permisi dulu. Terima kasih karena sudah bersedia memenuhi permintaan saya tadi! pamit Joe kepada Eva.


" Sama-sama! balas Eva.


Joe pun meninggalkan Eva dan Gia.


" Bagaimana Om? Tanya Gio setelah Joe masuk ke dalam mobil.


Joe menggeleng dengan raut sedikit kecewa.


Gio pun juga merasa sedikit kecewa.


" Tapi hati aku sepertinya merasa dekat dengan ibu itu Om! ujarnya masih dengan penuh harap.


" Iya, Om juga seperti merasakan yang sama. Apalagi mendengar suaranya yang begitu mirip sekali dengan Bundamu. Tapi sayang dia bukan Bundamu. Namanya Evelyn dan putrinya bernama Gia, mirip juga dengan nama kamu! Joe memberitahukan Gio informasi yang sudah didengarnya dari wanita itu tadi.


" Oh ya. Kok bisa hampir mirip gitu ya Om!? Eva-Evelyn, Gio-Gia.! Gio bertanya sambil berpikir sendiri dalam pikirannya.


Joe juga manggut-manggut, mencoba memahami kejadian yang menurutnya ada sedikit kejanggalan.


Gio lalu menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan Eva atau Evelyn masih terngiang-ngiang mengingat pertemuan tersebut. Ada sesuatu yang dia rasakan tetapi tidak mampu ia ungkapkan. Wajah pria yang mengajaknya berkenalan tadi sepertinya familiar sekali dalam otaknya. Tetapi otaknya sangat lambat sekali meresponnya.


" Ma, Om tadi kenapa? Tanya Gia


"Tidak apa-apa sayang. Hanya saja Mama Sepertinya pernah bertemu dengan orang tadi tapi Mama lupa kapan dan dimana! jawab Eve/Evelyn.

__ADS_1


Mereka kemudian masing-masing kembali beraktivitas.


Malamnya saat makan malam bersama Ayahnya, Gio menceritakan tentang Evelyn kepada sang Ayah.


" Yah, tadi kami bertemu dengan seorang wanita yang mirip sekali dengan Bunda! Grego yang awalnya fokus dengan makanannya, setelah mendengar kata Bunda, dia mendongakkan kepalanya dan dilihatnya Gio.


Dan Gio tahu apa arti tatapan itu.


" Nama wanita itu Evelyn, dia punya seorang putri namanya Gia, ! Gio menceritakan tentang wanita itu dan putrinya kepada Grego.


Grego yang awalnya cuek, sibuk dengan dunianya sendiri, berubah menjadi lebih perhatian sedikit.


" Kamu bertemu mereka dimana? Tanya Grego. Ternyata dia pun diliputi oleh rasa penasaran.


" Mereka buka usaha toko roti di Kota Yah. Gio juga baru beli roti mereka. Rasanya sama dengan rasa makanan yang sering dibuatkan oleh Bunda! ucap Gio.


Grego hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Kemudian mereka pun saling bercerita hal-hal lainnya.


Sedangkan Joe masih termenung sambil membayangkan pertemuan dengan wanita itu.


Sekalipun wanita itu sudah memperkenalkan siapa dirinya, masih ada hal yang membuatnya ingin mengetahui lebih banyak lagi.


Entah mengapa hatinya mengatakan jikalau ada sesuatu yang tersembunyi. Dan dia sangat-sangat ingin tahu rahasia apa yang tersembunyi itu.


Joe pun sudah mulai memikirkan rencana apa yang harus dilakukannya agar bisa bertemu lagi dan berbincang-bincang dengan wanita itu.


Tidak mungkin hanya sekedar beli roti saja.


Kerinduan ini mungkin terkadang membuat orang berpikir tanpa logika. Memikirkan hal-hal yang mungkin kurang mendapat perhatian.


Joe memejamkan kedua matanya. Dan pikirannya kembali mengenang masa-masa ketika dirinya bersama dengan Eva dahulu.


Masa-masa yang tidak akan pernah tergantikan ataupun dibayar dengan materi. Setidaknya kenangan itu memberikan kebahagiaan dalam hatinya. Bukan karena gagal move on tetapi ada beberapa hal yang memang harus selalu dikenang sebagai kenangan yang istimewa di dalam hidupnya.


Kenangan pahit atau manis semuanya mengajarkan arti kehidupan. Memberi kita pelajaran hidup yang tidak kita peroleh saat berada dibangku sekolah atau bangku kuliah.


Pengalaman hidup adalah guru yang paling baik yang tidak memberi kita nilai yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2