
Evelyn sedang sibuk menyiapkan bahan adonan roti untuk dipanggang hari ini. Dibantu oleh dua orang karyawan baru karena jumlah pemesanan roti di toko mereka akhir-akhir ini cukup banyak. Sehingga tak cukup waktu yang dimiliki oleh Evelyn jika hanya mengandalkan dirinya sendiri.
Hasil keuntungan dari usaha toko roti ini memang lumayan menguntungkan. Bahkan cukup untuk menggaji dua orang karyawan baru. Banyaknya pelanggan yang semakin tertarik untuk memesan roti di tempat mereka karena memang roti hasil kreasi atau ciptaannya itu memiliki taste yang terbilang enak di lidah. Rasanya berbeda dengan roti-roti yang dijual oleh toko roti lainnya yang ada dipasaran. Baik dari tekstur kelembutannya, tastenya, macam aneka rasanya, dan bentuk rotinya yang cukup unik membuatnya berbeda dari roti-roti yang lain.
Gia dan Savio muncul bersamaan. Evelyn yang melihat kedatangan putrinya dan Savio merasa sedikit aneh.
Tumben-tumbenan mereka-mereka berdua datang bersamaan? Dan juga nampak ekspresi wajah Savio agak berbeda. Evelyn pun menghentikan pekerjaannya dan menyerahkannya kepada karyawannya untuk melanjutkannya.
Evelyn segera menemui kedua insan yang selalu ada untuknya itu. Kedua mahluk itu saling diam tanpa ada perbincangan diantara keduanya. Padahal biasanya mereka tidak akan pernah berhenti saling mengoceh. Evelyn mengernyitkan dahinya, benar-benar ada yang aneh dengan kedua mahluk Tuhan itu.
Evelyn mendudukan bokongnya diantara Gia dan Savio yang duduk berhadapan.
Entah ekspresi apa yang sedang dipertontonkan oleh mereka berdua.
" Kenapa? Ada masalah apa? Kalian berdua membisu seperti manusia patung !
Gia menatap ibunya itu lalu berganti menoleh pada Savio. Evelyn tidak mengerti sama sekali arti tatapan itu.
" Hei, ibu tidak mengerti bahasa isyaratmu itu. Bicara dengan jelas. Masih bisa berbicara kan? Tanya Evelyn meminta penjelasan dari putrinya itu.
Gia menghela napas. " Om, bukankah Om tadi sudah janji?
Savio yang terdiam dari tadi tak urung juga menghela napasnya. Helaan itu begitu berat seakan bebannya terlalu berat.
Evelyn pun angkat bicara.
" Ingin membicarakan apa sih? Ibu bingung dech. Kalian main kucing-kucingan begitu!
Gia berdiri dari tempat duduknya. Dipeluknya ibunya itu dari balik punggung sang ibu. Diletakkannya kepalanya diatas bahu wanita tegar itu. Pipinya ditempelkannya dengan pipi sang ibu.
" Bu, ada sesuatu yang ingin Om Savio katakan. Sebenarnya ini cukup berat untuk diceritakan karena ini rahasia besar Om Savio selama ini. Tapi ibu harus mengetahuinya. Karena sudah waktunya ibu mengetahui semuanya! ucap Gia masih dengan memeluk sang ibu.
__ADS_1
Evelyn menunggu. Ia semakin penasaran dengan ucapan Gia. Evelyn menatap Savio meminta penjelasan darinya.
Memang tak ada lagi yang harus disembunyikan. Savio menegakkan tubuhnya. Menghela napas panjang. Savio memulai ceritanya dan Evelyn mendengar dengan wajah serius.
" Tapi aku mohon jangan memotong ceritaku nanti. Setelah aku selesai bercerita baru kamu boleh bertanya. Oke!? Pinta Savio dan Evelyn menjawab dengan anggukkan kepala.
" Sebelumnya aku minta maaf karena sudah tidak jujur kepadamu dan juga Gia. Selama 17 tahun ini aku telah menyembunyikan rahasia besar dari kalian berdua.! Savio mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.
" Yang ingin aku ceritakan dengan jujur untuk pertama sekali kepadamu adalah namamu sebenarnya ialah Eva. Eva Christa de Gratel. Dan suamimu adalah Tuan Grego Carlos Damian Pratama. Kalian memiliki seorang putra bernama Gio de Mello.! Hanya baru mendengar beberapa kata saja, Evelyn sudah sangat terkejut, sekaligus bingung. Tapi sesuai dengan janjinya tadi dia tidak akan menyela sebelum Savio menyelesaikan ceritanya.
Savio memandang Gia dan Eva bergantian. Kemudian Savio melanjutkan ceritanya.
Savio mengulang kembali cerita yang sama yang sudah diceritakannya kepada Gia.
Cerita yang diawali dari kisah pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya. Pertemuan yang membuat Savio jatuh cinta pada pandangan yang pertama.
Tanpa rasa malu dan takut lagi, Savio akhirnya mengungkapkan perasaannya yang selama ini dipendamnya dalam hati. Bagaimana dia mencintai Eva dengan diam-diam. Apalagi semenjak dia mengetahui jika Eva ternyata menaruh hati dengan pria lain. Cinta itu semakin terpendam jauh di lubuk yang terdalam.
Meskipun sadar jika cintanya takkan berbalas , Savio masih saja rajin mencari tahu keadaan Eva. Dengan diam-diam dia sekali-sekali mengawasi Eva dari kejauhan. Dengan begitu hatinya cukup senang.
Savio masih melanjutkan kisah tentang kehidupan cinta Eva yang dikelilingi oleh pria-pria hebat. Bagaimana para pria tersebut menunjukkan cinta dan perhatian mereka untuk dapat menenangkan hati Eva. Savio hanya bisa menjadi penonton karena dia merasa tidak akan bisa bersaing dengan mereka. Savio tahu siapa dirinya yang tidak selevel dengan pria-pria hebat itu. Eva memang bukan tipe wanita matre yang tergiur dengan materi. Dia berbeda dengan wanita-wanita lain di luar sana. Itulah sebabnya para pria menaruh hati kepadanya. Tak terkecuali dirinya.
Savio kemudian menceritakan bagaimana perjuangan Eva sebagai seorang ibu muda dan juga single parent, yang hampir selalu menjadi bahan gunjingan oleh orang-orang julid di luar sana. Tapi Eva dengan tegas dan berani melawan siapa saja yang berani coba-coba menyakiti putra kesayangannya itu.
Gia merasa terharu mendengar kisah lain dari ibunya itu. Tapi ada sedikit rasa cemburu ketika mengetahui jika ibunya itu sangat menyayangi putranya yang lain. Ada rasa takut cinta ibunya akan berkurang kepadanya nanti.
Eva yang tidak dapat mengontrol pikirannya karena berusaha keras untuk mengingat semua kisah yang diceritakan oleh Savio membuat nyeri di kepalanya semakin sakit. Cedera di otaknya akibat kecelakaan itu sepertinya melebar dan menyebabkan nyeri yang cukup hebat. Kepalanya bagai ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum dan rasa sakitnya menjalar sampai ke ulu hati. Dalam kesakitan yang amat sangat itu, muncul bayangan-bayangan kelabu dalam ingatannya. Wajah-wajah asing berkeliaran dan hadir berganti-gantian dalam memori ingatannya. Hingga akhirnya rasa sakit itu tak tertahankan lagi dan Eva tak sadarkan diri.
Savio dan Gia kaget melihat kondisi Eva yang tiba-tiba ambruk. Dengan refleks Savio langsung menggotong tubuh Eva, berlari menuju mobil diikuti oleh Gia dari belakang dan segera melaju ke rumah sakit.
Eva kini berbaring tak berdaya di atas pembaringan kamar rumah sakit.
__ADS_1
Gia yang begitu khawatir merasa sangat bersalah karena peristiwa ini terjadi disebabkan ulahnya. Jika saja dia tidak memaksa Om nya itu untuk menceritakan semua masa lalu ibunya itu dengan mendadak seperti ini, ibunya pasti akan baik-baik saja. Ibunya itu tidak akan ada di tempat ini lagi.
Gia menangisi kebodohan dan keegoisannya itu. Dia tahu jika ibunya itu sedang tidak sehat, dan kapan saja bisa mengalami peristiwa seperti ini jika otaknya dipaksakan untuk mengingat masa lalunya. Gia mengabaikan hal itu hanya karena kerinduan hatinya untuk bisa tinggal bersama ayahnya.
Savio yang melihat Gia berurai air mata datang mendekatinya dan membawanya dalam pelukannya. Memberi kekuatan dan peneguhan kepada putri kesayangannya itu. Pelukan kasih itu seolah-olah memberitahukan Gia jika semuanya akan baik-baik saja. Ibunya itu akan segera pulih dan hanya butuh istirahat saja.
Sedangkan di tempat lain, Grego terbangun dari tidurnya. Dia baru saja mengalami mimpi buruk. Napasnya terengah-engah, tubuhnya basah oleh keringat. Mimpi itu sangat buruk bahkan terlalu buruk.
Eva muncul dalam mimpinya tetapi Eva terlihat sangat menderita. Tubuhnya berlumuran darah dan penuh luka-luka menganga. Eva berteriak menjerit kesakitan, dan suara jeritan itu sangat memilukan. Grego berusaha untuk menolongnya tetapi di saat dia mencoba meraih tubuh itu, tubuh itu malah menjauh darinya. Berkali-kali dia berusaha tetap saja dia tidak berhasil hingga akhirnya tubuh itu hilang di telan kegelapan dengan teriakan yang menyayat hati. Dan Grego segera terbangun dari mimpi buruknya itu.
Saat Gia dan Savio yang sedang duduk termenung sambil berjaga menunggu Eva siuman dari pingsannya, merasa terkejut ketika pintu kamar rumah sakit terbuka dan muncul seorang pria muda masuk ke dalam.
Mereka mengenalinya. Pria itu adalah Gio. Savio pernah bertemu sekali di toko roti waktu itu dan dia masih mengingat dengan wajah itu. Gia heran dan kaget karena Gio yang tiba-tiba datang, padahal mereka tidak memberitahukan siapa pun tentang keadaan ibunya saat ini.
" Kamu? panggil Gia.
Gio tersenyum simpul membalas sapaan Gia.
" Bagaimana keadaan....Bunda? ucap Gio dengan nada suara yang sedikit bergetar.
Gia yang mendengarnya cukup terkejut ketika Gio menyebut Eva Bunda. Sedangkan Savio masih menatap Gio dengan tatapan menyelidiki. Lalu dibalasnya dengan senyuman. Dia ingat sekarang siapa sebenarnya pria itu.
" Kamu Gio kan? Tanya Savio memastikan keyakinannya itu.
" Iya, nama saya Gio! jawab Gio sambil menganggukkan kepalanya.
" Ternyata kamu sudah dewasa, dan semakin tampan. Saya hampir saja tidak mengenalimu! ujar Savio dengan sambil tersenyum. Ada rasa bahagia dihatinya setelah melihat Gio.
" Om mengenal saya? Tanya Gio penasaran.
" Ya, tentu saja. Waktu kamu masih kecil kita pernah bertemu!
__ADS_1
Gio penasaran dengan jawaban pria paruh baya itu, begitu juga dengan Gia. Meskipun Om nya itu sudah bercerita tentang masa lalu ibunya, Gia masih belum mengerti sepenuhnya dengan kisah itu.
" Kamu pasti ingat tante Aletta, sahabat Bundamu. Saya adik sepupunya Aletta. Dan kita pernah bertemu dulu sekali. Karena kamu masih kecil mungkin tidak ingat dengan baik.