Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Pria Itu Lagi.


__ADS_3

Berapapun terkejutnya Gia melihat sosok pria yang ada dihadapannya saat ini. Gia tak menyangka sama sekali jika bocah imut yang ditolongnya adalah adik dari si pria aneh itu. Entah takdir macam apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Disaat dirinya berusaha untuk menghindar dari sosok pria itu, semesta malah mendekatkan mereka lewat si bocah imut ini.


" Perkenalkan nama saya, Kevin Dante. Saya kakaknya Keenan.! pria itu memperkenalkan dirinya. Lanjutnya kemudian,


"Kedua orang tua kami sedang sibuk jadi hanya saya sendiri yang datang untuk menjemput Keenan. Terima kasih karena sudah menyelamatkan adik saya.! ucap pria itu berterima kasih atas kebaikan keluarga Grego terkhususnya kepada Gia.


Senyum pria itu begitu manis dan nampak terlihat lesung pipi dikala dia tersenyum.


Gia yang baru melihat pria itu tersenyum sedikit tertarik. Sebagai perempuan normal pastilah ada ketertarikan melihat pria tampan yang sedang ada berdiri saat ini dihadapannya.


Gia hanya mengangguk perlahan membalas perkataan pria itu.


" Fokus Gia, jangan sampai tergoda oleh senyuman pria itu. Itu hanya salah satu caranya merayu wanita! ucap Gia berbicara pada dirinya sendiri dalam benaknya.


" Keenan, beri salam dan ucapkan terima kasih sama Om, Tante dan kakaknya! perintahnya dengan lembut kepada bocah imut itu.


" Terima kasih Om, terima kasih Tante, terima kasih Kakak.! ucapnya dengan suara halus.


Ternyata bocah imut itu bisa bicara juga. Mereka mengira dia bisu karena tidak mau menjawab ketika ditanya atau pun di sapa.


Setelah semuanya sudah merasa aman dan tidak ada masalah maka mereka saling mengundurkan diri. Keenan kembali ke keluarganya. Sedangkan Gia dengan anggota keluarganya juga kembali ke ruangan tempat Bunda mereka sedang dirawat.


Grego yang memperhatikan tatapan mata si pria tadi ketika melihat Gia, bisa menebak jika pria itu tertarik kepada Gia. Dan sepertinya Gia juga bukan kali pertama melihatnya. Karena nampak dari ekspresi wajahnya yang terkejut ketika melihat si pria itu muncul.


Tanpa harus menyimpan rasa penasaran terlalu lama, Grego pun langsung bertanya kepada Gia.


" Gia sayang, pria tadi kamu kenal ya? tanyanya.


Gia yang mendapat pertanyaan mendadak begitu sedikit gugup untuk menjawabnya.


" Ehh, apa Yah? Gia balas bertanya untuk meyakinkan pendengarannya.


" Pria tadi itu kamu kenal ya? ulang Grego.


" Oh... iya Yah, dia satu kampus dengan Gia tapi dia kakak senior.! jawab Gia jujur.


" Oh gitu, tapi kok sepertinya kalian tidak begitu akrab ya? Tanya pria paruh baya itu lagi.


" Gia kan masih siswa baru Yah. Belum seakrab itu juga kali dengan teman-teman di sekolah.! Gia membela dirinya sendiri.


" Oh gitu. Ya baiklah. Tapi sepertinya anak Ayah harus dijaga baik-baik nih. Karena sepertinya sudah mulai dilirik cowok sana sini deh! ucapnya mencoba memancing reaksi putrinya itu.

__ADS_1


" Ih, Ayah apaan sih. Gia kan masih sekolah Yah. Belum kepikiran untuk cari pacar.! ujarnya membantah perkataan ayahnya itu.


" Ayah kan tidak bilang cari pacar.! balas Grego lagi.


Sementara itu Gio hanya senyam-senyum melihat perdebatan diantara ayahnya dengan adiknya itu. Seandainya Bundanya itu sudah sadar dan melihat interaksi keduanya entah apa yang akan dikatakannya.


Gio lalu fokus kepada sang Bunda dan mengabaikan adu debat diantara Ayah dan adiknya itu.


Sementara itu di kediaman keluarga Kevin Dante.


" Kee, kamu memang terbaik. Kakak bangga sama kamu. Tanpa harus kakak meminta bantuan kamu tapi kamu langsung bergerak cepat. Benar-benar hebat! puji Kevin pada adiknya itu.


" Emangnya Keenan buat apa Kak? Tanya Keenan dengan polosnya.


" Tahu nggak, cewek yang sudah nolongin kamu itu teman sekolahnya Kakak. Dan kakak suka sama dia! ucapnya blak-blakan tanpa di filter.


Seorang anak berusia 5 tahun diceritakan hal demikian apakah dia mengerti? Tapi beda dengan bocah seperti Keenan. Meski masih berusia balita akan tetapi pemikirannya terbilang cukup dewasa untuk anak seusianya.


Kemudian Kevin berkata lagi.


" Kamu harus bantuin kakak ya untuk mendapatkan gadis itu! pintanya kepada adiknya itu agar mereka saling bekerja sama.


Tanpa pikir panjang Keenan mengangguk mengiyakan permintaan kakaknya itu. Mengingat jika dirinya juga menyukai sosok Gia. Keenan seakan menemukan sosok Ibu dalam diri Gia. Hatinya yang lembut dan perhatian membuat siapa saja yang dekat padanya akan merasa senang dan bahagia.


Kakak adik itu memang kompak dalam hal yang mereka sukai.


Beberapa hari kemudian akhirnya Eva sadarkan diri. Kesehatannya sudah lebih baik dan ajaibnya, ingatannya telah pulih kembali.


Setelah sadar Eva langsung memanggil nama Gio. Dan ketika Gio berdiri dihadapannya Eva pun berurai air mata.


" Maafkan Bunda ya nak. Bunda tidak ada saat kamu butuh. Kamu harus menjalani kehidupanmu tanpa Bunda untuk menjaga dan merawat kamu. Maafkan Bunda!


Mendengar perkataan Bundanya itu Gio pun tak dapat menahan air matanya juga. Dipeluknya Bundanya Itukan dengan penuh kasih sayang.


Perpisahan yang terjadi waktu itu bukanlah kesalahan sang Bunda tetapi takdir yang telah memisahkan mereka. Gia pun turut meneteskan air mata, tak ketinggalan Grego.


Peristiwa menyedihkan itu hanyalah masa lalu saja meski meninggalkan luka yang perih. Tapi biarlah berlalu.


Sementara itu dua hari kemudian.


" Aaaaaaaaaaa.........! terdengar teriakan histeris dari kamar Gia. Gio yang mendengarnya terkejut dan langsung berlari secepat kilat ke kamar Gia. Pikirannya diliputi rasa takut terjadi hal buruk dengan Gia.


Segera dibukanya engsel pintu dengan kencang. Untungnya pintu kamar Gia tidak dikunci jadi tidak perlu ada acara dobrak-mendobrak. Tapi karena di dorong terlalu kuat sehingga terdengar suara benturan pintu yang keras. Membuat Gia terkejut dan menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


" Kakaaaak, kalau buka pintu itu pelan dikit kenapa? Kayak lagi dikejar setan saja.! ucapnya dengan polosnya.


" Kamu tidak apa-apa kan? Tanya Gio dengan mode khawatirnya.


" Emang aku kenapa? aku baik-baik saja kok kak! jawabnya dengan entengnya tanpa rasa bersalah.


" Truss tadi kenapa kamu berteriak. Kakak dengar dari kamar, kamu teriak kencang sekali.! protes Gio.


" Oh itu, aku tadi lagi nonton drachin, ada adegan yang bikin aku kesal bercampur sedih. Makanya aku teriak kencang.! balasnya dengan santainya.


Gio yang mendengar jawaban tanpa dosa dari Gia hanya mampu melongo tak percaya. Dia yang baru saja ketakutan setengah mati karena mendengar teriakan adiknya itu malah dicuekin seperti itu.


" Dasar korban drachin! umpatnya dengan kesal tapi dengan suara seperti berbisik.


" Kakak Gio bilang apa? Gia nggk dengar! tanya Gia seperti acuh tak acuh karena netranya malah fokus menonton drachin favoritnya itu.


" Nggak tahu ah, capek! Gio berbalik meninggalkan Gia yang seakan tidak memperdulikannya.


" Hemmm! balas Gia. Semakin membuat Gio sedikit kesal sambil menggelengkan kepalanya. Baru kali ini Gio harus mengaku kalah karena gara-gara drachin sang adik mengabaikannya.


Bayangkan betapa ironisnya, perhatian seorang kakak dikalahkan oleh drachin yang jelas-jelas hanya menciptakan dunia kehaluan bagi adiknya itu.


Tapi apa boleh buat, kenyataannya harus demikian.


Saat berjalan dengan lunglai menuju kamarnya, Bunda Eva memperhatikannya yang baru saja keluar dari kamarnya ingin duduk bersantai di ruang tamu.


" Gio,! panggilnya.


" Ada apa ? Kok loyo gitu? tanya Bunda Eva penuh perhatian.


" Gia tuh Bund! jawabnya tak bersemangat.


" Gia kenapa? tanya Bunda Eva lagi


" Gia ngerjain Gio Bunda, jadi Gio kesel! wajah Gio seperti ditekuk karena merasa kesal.


" Kerjain gimana? Bunda Eva semakin penasaran.


" Tadi Gio dengar suara teriakan dari kamar Gia, Gio kira ada terjadi sesuatu sama Gia, eh ternyata Gia cuman teriak gara-gara nonton drama China. Truss Gio malah dicuekin. Gio jadi kesel Bund! ucap Gio dengan sikap yang berbeda dari dirinya yang biasa.


Entah kenapa kali ini Gio terkontaminasi sikap manja dan kekanak-kanakan Gia. Tapi setidaknya hal itu memberi warna dalam hidup mereka.


Bunda Eva pun hanya menanggapinya dengan senyuman. Biarlah anak-anaknya itu menikmati hidup mereka dengan kelucuan, keusilan, bahkan kekanak-kanakan mereka meski di usia mereka yang tak lagi muda itu.

__ADS_1


__ADS_2