
Grego tidak tahu harus berkata-kata apa lagi. Hatinya yang diliputi beribu rasa yang sulit diungkapkan. Semua bercampur aduk membuatnya membisu, membeku, dan mematung. Dipandanginya Gia tanpa kedipan sedikit pun.
Putrinya. Gadis yang ada dihadapannya saat ini benarkah putrinya? Putri yang hilang 17 tahun bersama Bundanya waktu masih dalam kandungan. Ingin dipeluknya erat gadis kecil cantik itu, tetapi raganya seakan tak dapat bergerak. Hanya tetesan air mata yang tertumpah menandakan masih adanya kehidupan disana.
Gia pun tidak tahu harus berbuat apa. Tapi melihat air mata itu hati Gia pun tergerak, mendekatinya dan menghapus air mata itu dengan jemari-jemari mungilnya itu. Suara hatinya sebagai seorang anak menggerakkan raganya untuk menghapus air mata itu.
Melihat tindakan Gia yang begitu perhatian dan lemah lembut mengingatkannya pada sifat Eva yang persis dengan gadis itu, Grego pun bangkit dan merangkul Gia dengan sangat erat ke dalam pelukannya. Dan air mata itu kembali tertumpah. Gia pun tak mampu lagi menahan rasa haru dalam hatinya. Dadanya yang sesak menahan segala perasaan yang bergumul dalam hatinya tertumpah juga akhirnya bersama derai air mata dari pelupuk matanya.
Dalam isak tangis itu, Grego pun mengungkapkan penyesalan hatinya selama ini.
" Maafkanlah Ayahmu ini yang telah membiarkan kamu dan Bundamu menderita selama ini. Maafkan ayah yang tidak bisa menjadi ayah yang bertanggung jawab untukmu dan Bundamu. Maafkan ayah yang tidak dapat melindungi dan menjaga kamu dan Bundamu. Maafkanlah ayah!! Ungkapan penyesalan itu akhirnya keluar juga dari dalam bathinnya. Yang selama ini dipendamnya dalam hatinya. Yang membuatnya terbebani dan tidak mampu menjalani kehidupannya selama ini dengan ikhlas. Rasa bersalah selalu menghantui dirinya. Kemanapun dia pergi rasa itu selalu mengikutinya. Tidak membiarkannya untuk dapat hidup dengan tenang. Meski sebenarnya peristiwa itu bukanlah kesalahannya. Semua itu berada diluar kendalinya.
Gia bisa merasakan penderitaan yang dirasakan oleh pria itu. Selama ini ayahnya itu telah menderita karena memendam rasa bersalah yang begitu mendalam. Dan menyimpan rasa bersalah selama belasan tahun itu lebih menderita dan menyakitkan.
Gia semakin erat memeluk ayahnya itu. Seolah memberi peneguhan dan kekuatan, bahwa ayahnya itu tak perlu lagi merasa bersalah.
Saat mereka berdua larut dalam keharuan, sepasang mata memandangi mereka dengan tatapan nanar sejak dari tadi. Dia terlihat bingung dengan apa yang sedang disaksikannya saat ini.
Sepasang mata itu adalah milik Gio. Gio pun mendekat dan menyapa ayahnya itu.
" Ayah! Sapa Gio. Mendengar suara Gio, Grego pun mengalihkan perhatiannya, dan Gia turut melepaskan rangkulannya dan kembali ke tempat duduknya. Dihapusnya air matanya.
Gio lalu duduk disamping sang Ayah. Hatinya sekarang penuh tanda tanya. Kenapa ayahnya menangis sesedih itu?
Sebelumnya dia sudah mendengar dari asisten rumah tangganya ketika dia menelvon menanyakan keadaan ayahnya itu. Dan wanita itu memberitahukannya persis dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
" Ayah, apa yang terjadi? Mengapa Ayah sangat sedih sekali? Tanya Gio, Dan tatapannya juga mengarah kepada Gia.
" Nona, kenapa anda ada disini? Berita apa yang Nona sampaikan kepada Ayah saya sehingga Ayah saya menangis? Tanya Gio seakan sedang menginterogasi Gia.
Gia pun hanya diam saat diberondong dengan pertanyaan seperti itu.
"Gio! panggil Grego. Disentuhnya bahu putranya itu.
__ADS_1
Gio pun menatap ayahnya itu.
" Bundamu.... sudah kembali nak. Bundamu.... masih hidup. Wanita itu.... adalah Bundamu. Bunda Eva...., istri Ayah....! ucap Grego terbata-bata.
" Maksud ayah!? Gio mencoba memahami ucapan ayahnya itu. Dia tidak ingin membantahnya karena tidak ingin ayahnya itu tersinggung atau marah.
" Apa yang ayah pikirkan selama ini ternyata benar. Wanita yang kita jumpai itu adalah Bundamu. Wanita pemilik toko roti itu, dia adalah Eva, Bundamu! Grego meyakinkan Gio.
" Apakah ini benar ayah? Tanya Gio dengan hati yang sebenarnya masih meragu.
Grego lalu bangkit dari tempatnya duduknya. Ditariknya tangan Gia dan dibawanya kehadapan Gio.
" Coba kamu lihat gadis manis ini. Lihat dan tatap dia baik-baik. Tidakkah kamu melihat sesuatu dari wajahnya.! Grego mencoba membuka mata hati Gio untuknya bisa mengenalnya wajah gadis dihadapannya itu.
" Ada apa dengan gadis ini ayah? Tanya Gio yang belum mengerti sama sekali maksud dari perkataan ayahnya itu.
Grego pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata putranya itu memang persis sama dengan dirinya. Dingin dan kurang perhatian dengan sekitarnya.
Gio pun terheran. Kenapa tiba-tiba ayahnya itu mendadak berubah. Dia terlihat lebih bersemangat dari sebelum-sebelumnya. Bahkan ada segaris senyum menghias di bibirnya. Baru untuk yang pertama kalinya setelah selama 17 tahun ini. Ayahnya itu tersenyum. Senyum bahagia.
Melihat perubahan yang sangat positive dari Ayahnya itu tentu saja membuat hatinya senang dan bahagia. Bibirnya ikut tersenyum untuk ayahnya itu.
" Apapun itu ayah, aku bahagia sekali. Peristiwa seperti ini yang kurindukan selama ini. Melihat ayah bahagia dan tersenyum. Karena selama ini, senyum ayah susah untuk ditemukan! ucap Gio dalam hatinya dan dengan tak hentinya tersenyum.
Gio pun tersenyum dengan bahagia. Hatinya bahagia karena sang ayah akhirnya sudah kembali menjadi ayahnya yang dulu. Ayah yang sangat gembira dan bahagia.
" Tentu saja ayah sangat senang dan bahagia. Karena kebahagiaan ayah, dan tentunya kebahagiaan kamu juga kini sudah kembali." ucap Grego dengannya binar wajah yang cerah bersinar.
" Gio, bukankah Kamu seharusnya menyapa adik kecilmu ini? ucap Grego kepada Gio.
" Adik kecil?? Adik kecil apa maksud ayah!! tanya Gio penasaran.
Grego pun mendudukan Gia disamping Gio dan menyerahkan tangan gadis itu kedalamnya tangannya.
__ADS_1
" Gia ini adalah adik kamu. Putri ayah yang dulu hilang bersama dengan Bundamu!
" Adik Gio....? ucapnya dengan tidak meyakinkan.
Grego pun hanya mengangguk. Dia tahu jika putranya itu masih belum mengerti apa maksud dari perkataannya itu.
Grego pun meminta Gia untuk memperkenalkan dirinya sendiri.
Sebelum berbicara, Gia menghela napasnya panjang. Kemudian dia pun memperkenalkan dirinya.
" Kenalkan, nama saya Gia. Ibu saya Eva, pemilik toko roti "Awan" Dan ayah saya.........!! Gia agak terdiam lama lalu kemudian dengan yakin mengatakan.
" Ayah saya Tuan Grego!
Mendengarnya Gio terkaget. Apa maksud perkataannya itu? Sejak kapan ayahnya memiliki seorang putri.? Dan bahkan Putri yang sudah sebesar ini.
" Kamu siapa mengaku-ngaku putrinya Ayah Grego? Tanya Gio dengan nada tegas.
Gia melihat ke arah Grego seakan meminta peneguhan.
Grego pun tersenyum memberinya keberanian untuk tetap mengatakan siapa dirinya.
" Saya tidak mengaku-ngaku sebagai putri ayah Grego. Akan tetapi saya memang putri ayah Grego. Putri kandungnya.!
Gio pun tak lagi berkata sepatah katapun. Dia tidak tahu sekarang harus berbuat apa dan untuk apa! Entah apakah ini adalah kebenaran atau hanya sekedar hiburan semata.!
Grego tahu jika putranya itu masih menyimpan ragu di hatinya.
" Nanti kita akan temui seseorang yang bersangkutan dengan semua peristiwa ini. Dan setelah itu kamu pasti akan mengerti dan akhirnya bisa menerima kehadiran Gia, adik kecilmu.!
Gia pun tersenyum untuk meyakinkan jika dirinya juga sudah tidak ragu lagi. Dia adalah Putri kandung dari Grego.
Tapi Gia mengerti satu hal. Jika dirinya belum bisa menceritakan kebenaran ini kepada sang ibu. Karena ibunya masih harus dirawat intensip karena tidak boleh mendengarkan berita yang mengagetkan. Karena bisa berpengaruh buruk bagi otaknya.
__ADS_1