Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Izinkan Aku Mencintaimu.


__ADS_3

Gia, akan memulai kuliahnya hari ini. Seluruh anggota keluarga sudah sepakat jika Gia sebaiknya melanjutkan sekolahnya ke Universitas. Tentu saja disambut dengan gembira oleh Gia. Salah satu impiannya dulu adalah kuliah sambil bekerja, agar bisa membantu ibunya.


Gia dengan senyum sumringah menenteng ransel hitam miliknya. Gio sudah berjanji pada adiknya itu akan menjadi sopir pribadinya. Gia pun pamit kepada Ayah Grego dan Bunda Eva.


" Kak, Gia nervous nih! ujar Gia gugup. Gio memahami perasaan adiknya itu. Dibelainya rambut hitam Gia memberikan dukungan moril kepadanya.


" Tapi kakak yakin kamu bisa menghadapinya dengan lebih baik.!


" Ya kak, Gia akan berusaha.! ucap Gia dengan optimis.


Gia keluar dari mobil, Gio ikut menghantarnya sampai ke depan gerbang kampusnya. Sekali lagi dipeluknya Gia untuk memberinya semangat.


Gia memasuki halaman kampusnya dengan keberanian yang sudah dikumpulkannya sejak berangkat dari rumah tadi.


Gedung kampusnya nampak megah dan kokoh. Karena kampus ini termasuk salah satu kampus bonafit di kota itu. Tidak sedikit anak pejabat berkuliah disana.


Meski masih sedikit takut dan gugup, Gia tetap melangkahkan kakinya. Hal yang pertama yang harus dilakukannya adalah mencari gedung Tata Usaha. Orang yang tahu persis dimana tempatnya adalah sudah pasti sekuriti kampus. Maka Gia berjalan ke Pos Security.


Namun baru beberapa langkah saja, tiba-tiba tubuh Gia jatuh karena ditubruk oleh seseorang dari belakang. Gia yang tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya karena merasa kaget akhirnya terjerembab ke depan. Lututnya tergores paping block sehingga meninggalkan bekas goresan. Luka dan berdarah meski tidak terlalu besar. Kebetulan hari ini Gia memakai rok lipit-lipit berwarna hitam ala seragam anak sekolahan Jepang.


Gia meringis kesakitan, sedangkan orang yang menubruknya itu nampak ngos-ngosan, dengan susah payah mengatur pernapasannya.


" Maaf ya mbak, saya tadi buru-buru nggk perhatikan jalan. Mbaknya nggk kenapa-kenapa kan? Tanya sang pria yang sudah menyebabkan Gia terluka.


Dibantunya Gia berdiri. Dilihatnya lutut Gia yang terluka kecil dan sedikit berdarah. Diperhatikannya wajah Gia yang imut-imut dan manis.


" Sepertinya mahasiswi baru.! bisiknya dalam hatinya.


" Kaki kamu terluka! ucapnya sambil berusaha membersihkan pakaian Gia.


" E... e.. tidak apa-apa. Saya tidak papa kok! jawab Gia dengan tersenyum menandakan kalau dirinya baik-baik saja.


" Bagaimana tidak apa-apa, lutut kamu sudah lecet begitu! pria itu merasa bersalah melihat luka pada lutut Gia.


" Tidak papa kok. Serius saya tidak papa.! Gia berusaha menghindari pria itu. Setelah Gia berdiri dengan tegak, dia langsung meninggalkan pria itu tanpa peduli jika pria tersebut berusaha untuk menebus kesalahannya.


" Hey, kenapa kamu kabur, kakimu masih sakit begitu harus segera diobati ! teriak pria itu melihat Gia yang kabur menghindarinya.


Gia semakin mempercepat langkahnya meski dia tidak tahu kemana kakinya membawanya pergi.


Pria itu hanya bisa menyaksikan Gia yang kabur darinya. Seolah-olah dia begitu menakutkan sehingga gadis itu menghindarinya.


Tak disangka Gia malah tiba di gedung yang memang sedang dicarinya. Ternyata ada untungnya juga dia kabur dari pria itu.


Dengan perasaan lega Gia memasuki gedung itu. Sakit di lututnya tak dihiraukannya lagi.


Sementara itu, Gio sedang memarkirkan kendaraannya, dia bergegas menuju kantornya. Namun belum saja kakinya memasuki gedung perusahaannya itu, langkahnya di cegat oleh seorang wanita cantik.

__ADS_1


Gio yang tidak mengenalnya sama sekali tentu saja merasa heran kenapa wanita itu menghalangi jalannya.


" Hei, apa maksudnya nih.? Kenapa kamu menghalangi jalanku? Tanya Gio sedikit rasa kesal.


" Aku ingin bicara sama kamu. Bicara empat mata ! ucap wanita itu to the point.


" Bicara apa ya? Apa kira-kira kita ada kerja sama dalam pekerjaan?


Wanita itu menggeleng. "Ini masalah pribadi bukan pekerjaan.!


" Masalah pribadi? Tapi sepertinya aku tidak mengenal kamu?


" Karena itu, aku ingin bicara sekarang secara langsung dengan kamu!? tegas wanita itu.


" Baiklah kalau begitu. Mari, kita bicara di kantor saya.! Gio langsung melangkah menuju ke kantornya dan diikuti oleh wanita itu.


Di dalam ruangan kantor Gio. Gio duduk di tahtanya sedangkan wanita itu duduk persis dihadapan Gio.


" Sekarang apa yang ingin kamu sampaikan?


Wanita itu tersenyum manis. Dia pun langsung mengutarakan niat hatinya.


" Aku suka sama kamu! Aku ingin jadi pacar kamu"!


Gio terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu.


Wanita itu tidak menggubris. Dia malah melihat ke wajah Gio. Tanpa peduli dengan sekitarnya wanita itu melancarkan kembali jurus mautnya.


Gio pun bingung tidak tahu harus menghadapinya seperti apa.


Sementara di kampus Gia.


Selesaį mengurus segala administrasinya, dan mendapat informasi tentang jadwal perkuliahan, Gia mencoba mengitari kampusnya agar dirinya lebih mengenal suasana sekitar kampusnya.


Dan tidak sia sia Gia mengitari kampusnya.!!


Akhirnya Gia bisa berkenalan dengan beberapa mahasiswi lainnya yang juga melanjutkan study mereka di kampusnya itu.


Setelah dipikir-pikir, Gia pun merasa jika sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menemukan banyak teman di tempat itu. Asalkan mau berkomunikasi dan menjalin persahabatan dengan siapa saja.


Percaya diri Gia semakin tinggi. Keyakinannya semakin kuat dan teguh.


Bersama dengan semua teman-temannya yang baru, Gia pun semakin menyadari jika ketakutan yang disimpan dalam hatinya hanya akan menghambat kemajuan dalam dirinya.


Gia bersama-sama dengan teman-temannya yang baru sedang asyik bergurau sekaligus menikmati persahabatan yang meski baru terjalin beberapa jam yang lalu. Terlihat raut kegembiraan dan suka cita di wajah mereka. Seolah-olah mereka telah saling mengenal begitu lama.


Disaat Gia sedang asyik bermain bersama teman-teman barunya, sepasang mata memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi. Sorot mata itu menatap dengan tajam kepada Gia.

__ADS_1


Seakan-akan ingin menelan Gia bulat-bulat dan memasukkannya ke dalam mulutnya itu.


Gia yang tak sadar jika sedang diperhatikan oleh pria itu tetap asyik dengan teman-temannya yang saling melengkapi satu sama lain.


Pria itu kemudian bangkit dari tempatnya, dan berjalan ke arah tempat Gia dengan kelompoknya.


Pria tampan itu cukup menarik perhatian kamu hawa. Penampilannya yang keren tidak akan luput dari perhatian sekitarnya.


Semakin mendekat langkahnya itu semakin melambat. Dan semua mata akhirnya tertuju kepada pria tampan itu. Tak terkecuali Gia. Dia pun ikut melihat sosok yang jadi pusat perhatian tersebut.


Dan yang lebih mengagetkan lagi ketika pria itu menunjuk jarinya kepada Gia dan berkata :


" Aku ingin berbicara berdua dengan kamu! Sekarang!


Tegas tapi terkesan memaksa kan kehendaknya. Tanda-tanda pria yang egois tapi bertanggung jawab.


Gia pun menuruti kehendak pria itu. Dia mengekor kemana pria itu pergi membawanya.


Pria itu berjalan ke arah taman kampus yang agak sepi di kunjungi oleh para penghuni di kampus itu.


Pria itu berhenti melangkah lalu berbalik dan menatap Gia. Gia yang berdiri terpaku memandang pria aneh di hadapannya itu.


" Kenapa kamu membawa saya kemari? Tanya Gia


"Kamu mahasiswi baru ya? pria itu balik bertanya.


" Iya.!


" Oh, jadi kamu mahasiswi baru. Pantas saja aku baru melihat wajah mu.!


Gia tidak mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki oleh pria asing itu.


" Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu.!


" Ya, apa itu!?


" Izinkan aku untuk mencintaimu!


Mata Gia melotot kaget sekaligus terheran-heran mendengarkan perkataan pria itu.


" Apakah telinganya tidak salah dengar?


" Aku ingin kamu mau jadi pacarku, jadi ijinkan aku untuk mencintaimu!


Mendapat pengakuan yang tiba-tiba seperti ini tentu saja menakutkan bagi Gia. Mana ada sih orang yang baru bertemu beberapa menit yang lalu langsung mengatakan cinta dan ingin menjadikannya pacar?


Merasa ada yang salah, Gia pun tak menunggu waktu lebih lama lagi. Dia pun segera pergi dari sana meninggalkan pria ini tanpa memberinya jawaban sama sekali. Sedangkan pria itu tidak mengejarnya, tetapi malah membiarkan Gia pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2