
...Menunggumu dalam sepi memberiku ruang bicara dengan hati sampai mulai mengerti bahwa cinta yang kita punya bukanlah bahagia seperti yang kita impikan karena sejujurnya tak ada ikatan yang bisa menyatukan dua hati yang tak saling mencintai kecuali hanya nafsu dan ambisi yang menguasai hati dan pikiran demi memenuhi hasrat sesaat....
...hati yang menanti.......
Pagi yang cerah, awan putih menantang angin. Matahari menebarkan sengatnya yang panas. Samudera luas membentang lantang menyombongkan kemegahannya. Buih ombak beradu berkejar-kejaran menuju bibir pantai.
Gia sedang berjemur di atas pasir putih beralaskan sehelai kain pantai. Badannya dibalut swim suit berwarna biru. Eva dan Grego duduk bersantai dibawah gazebo sambil menikmati es kelapa muda. Joe tidak jauh dari sana juga sedang menikmati cuaca cerah hari ini.
Sedangkan Gio sedang asyik menantang ombak dengan berselancar ria.
Suasana pantai hari ini cukup ramai. Banyak turis berseliweran kesana kemari.
Sambil memejamkan matanya, membayangkan sesuatu yang sepertinya menyenangkan sampai-sampai Gia senyam-senyum sendiri.
Tiba-tiba saja.
" Buuukkk... Sesuatu menimpuk kepalanya. Bendanya tidak keras sedikit empuk. Gia yang kaget karena ditimpuk bola karet setengah bangun dan mencari-cari asal sumber benda itu.
Lalu seorang pria tampan berlari kecil mendekati Gia.
" Maaf, saya tidak sengaja melempar bolanya dan mengenai kamu! Pria tampan yang mengaku sebagai pelaku penimpuk kepala Gia meminta maaf kepada Gia.
Gia menatap pria asing di depannya itu. Cukup tampan. Bukannya menjawab Gia malah memandangi tubuh pria asing di depannya. Hanya mengenakan celana boxer hitam perutnya yang rata meski tidak six-pack tapi cukup menarik perhatian.
Pria itu memanggil-manggil Gia,
" Hei... hei.... Hei....?!??
Untuk yang kesekian kalinya pria itu memanggil, baru Gia tersadar dari terpesonanya.
" Eehh....... maaf..!! Gia tersadar dari buaian pesona pria dihadapannya itu.
" Kamu tidak apa-apa kan? Tanya si pria tampan.
" Eh.. tidak papa kok....! jawab Gia nervous. Si pria tampan ternyata telah mencuri perhatian Gia.
Si pria tampan pun tersenyum manis. Senyumnya tak kalah indah dengan wajah tampannya.
" Kalau gitu, Saya permisi dulu. Bye...!!! pamit si pria tampan. Dan Gia hanya bisa menatap kepergian si pria tampan itu. Sambil membalasnya dengan suara pelan hampir berbisik.
__ADS_1
" Bye....!!
Gia memandangi punggung si pria itu sambil berharap pria itu menoleh sekali saja kearahnya. Dan semesta merestui. Pria itu berbalik, menoleh kepada Gia dari kejauhan. Tidak lupa dengan melempar senyuman manisnya. Membuat Gia menjadi salah tingkah.
Bisa-bisanya Gia terpesona dengan pesona pria asing yang baru pertama kalinya dilihatnya.
Si pria itu kembali bermain bola dengan teman-temannya.
Pandangan pertama, menjadi moment yang mengesankan bagi Gia.
" Hehh.... ! Desahnya. " Kapan bisa ketemu lagi dengan si pria tampan itu.
Gia kembali merilekskan diri. Berjemur dibyawah sinar mentari yang tidak begitu panas.
Gio duduk diatas pasir setelah puas surfing. Memandangi lautan biru yang berbuih digulung ombak. Pandangannya jauh. Pikirannya menjelajah entah kemana. Sepertinya ada sesuatu yang membebani pikirannya.
Eva yang memperhatikan Gio dari kejauhan bisa merasakan jika putranya itu sedang memikirkan sesuatu.
Eva bangkit dari duduknya dan melangkah menemui Gio. Gio yang sibuk dalam pikirannya tidak menyadari kehadiran Bundanya itu.
Kemudian Eva duduk di samping Gio. Disentuhnya bahu Gio, lalu Gio tersadar dari lamunannya.
" Kenapa nak ? Apa yang sedang kamu pikirkan? Bunda bisa merasakan sepertinya ada beban yang sedang kamu pikul saat ini !
Gio tersenyum simpul.
"Bunda memang tidak bisa dibohongi. Bunda paling tahu apa yang sedang aku rasakan.! sahutnya.
" Jadi, apakah Bunda bisa tahu apa yang sedang membebani pikiran putra Bunda yang ganteng ini? Tanya Eva.
Gio menatap Bundanya itu dengan senyuman manjanya.
" Bunda, hati Gio merasa tidak tenang beberapa hari ini. Gio merasa ada sesuatu hal yang Gio sendiri tidak mengerti.! Curhat Gio.
" Apa ada masalah di kantor kamu?
" Bukan masalah kantor Bunda.! Gio merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Dan Gio resah jika hal itu adalah sesuatu yang tidak baik.!
" Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang membebani pikiranmu sayang. Kita semua saat ini baik-baik saja. Kita sudah kembali berkumpul bersama. Dan Bunda merasa bahagia sekali.!
__ADS_1
Gio menghela napasnya.
" Setelah peristiwa 17 tahun yang lalu Gio selalu dihantui mimpi buruk Bunda. Dan meski kini Bunda sudah kembali bahkan bersama dengan Gia membuat hatiku sangat bahagia. Tetapi Gio seperti merasa trauma, bagaimana jika suatu saat nanti terjadi lagi kejadian buruk yang menimpa keluarga kita. Apalagi, pelaku yang menculik Bunda 17 tahun lalu masih tidak tertangkap hingga sekarang. Dan kita tidak tahu siapa mereka yang telah melakukannya kepada Bunda. Bagaimana jika mereka masih berkeliaran di luar sana dan sedang mengintai keluarga kita.! Gio mengungkapkan kegelisahan hatinya yang sedang dirasakannya saat ini.
" Bunda tahu kegelisahan yang sedang kamu rasakan saat ini. Bunda bangga karena anak Bunda sekarang telah menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab untuk menjaga dan melindungi keluarganya.! Eva mencoba menenangkan hati Gio yang gelisah.
" Bunda berharap dan berdoa semoga tidak akan terjadi hal yang buruk lagi kepada keluarga kita. Bunda yakin itu.! Eva memberi peneguhan pada Gio.
" Gio juga berharap demikian Bunda. Hanya saja kira-kira tiga hari yang lalu Gio mendapatkan surat kaleng dari orang misterius. Tidak ada nama sama sekali. Dan isi surat itu sangat aneh sekali Bunda. Itu sebabnya hati Gio semakin bertambah gelisah akhir-akhir ini! ucap Gio dengan lega karena dia senang bisa bercerita kepada Bundanya itu.
Grego dan Joe yang memperhatikan Ibu dan anak itu pun saling bertanya.
" Meski Gio sudah menjadi pria dewasa, dan sebentar lagi akan menikah dengan wanita idamannya, ternyata dia masih seperti Gio kecil yang sangat dekat sekali sesuatu sehingga dia menahan dirinya untuk berbicara dengan Bundanya.! komentar Grego.
" Tapi saya merasa, Gio sepertinya memang sedang menyimpan keresahan dalam hatinya! ucap Joe kemudian.
" Kadang aku cemburu sama kamu Joe, karena kamu paling mengerti dan mengenal perasaan Gio sama seperti Eva, dari pada diriku sendiri yang kadang tidak memahami dan mengerti akan perasaan Gio.! ucap Grego dengan nada sedih.
" Tapi kamu ayahnya. Kamu yang lebih mengenal anak kamu dari pada diriku! timpal Joe.
" Tapi kamu juga harus akui, aku hanyalah ayah Gio secara hukum yang tertulis di atas kertas. Aku bukan ayah kandungnya.! ucap Grego yang tiba-tiba membicarakan tentang status Gio.
" Grego, apa yang kamu bicarakan? Jangan pernah berkata seperti itu apalagi dihadapan Gio. Kamu harus jaga perasaannya.! bantah Joe.
" Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Meskipun demikian aku sudah menganggap Gio seperti anak kandungku sendiri. Aku tidak pernah peduli sekalipun kami tidak memiliki hubungan darah. Dia tetap putra kesayanganku.! Ucap Grego dengan tegas.
" Aku tahu itu. Dan kamu juga harus ingat, Gio juga sudah aku anggap seperti anakku sendiri dan kamu tidak bisa menyangkalnya! Joe mengucapkannya dengan tegas juga.
" Iya aku juga tahu itu. Kamu tidak perlu mengingatkannya kepadaku. Tapi jujur aku juga merasa cemburu jika kamu bersama dengan Gio begitu dekat dan akrab. Tapi aku senang kalian semua adalah bagian dari hidupku. Bersama kalian aku benar-benar merasakan apa arti sebuah keluarga.! ucap Grego dari ketulusan hatinya.
" Kamu memang pria yang hebat Gre, sekaligus juga ayah yang mengagumkan. Aku juga bangga bisa mengenal kamu dan menjadi bagian dari keluargamu.! timpal Joe.
Lanjut Joe kemudian.
" Kamu adalah ayah yang bertanggung jawab dan penyayang. Dan kamu juga suami yang sangat setia dan sangat mencintai istri. Tidak salah Eva juga sangat mencintaimu sekalipun dia sudah kehilangan ingatannya tapi dihatinya selalu ada kamu!
Grego terharu mendengar ungkapan hati Joe. Sahabat sekaligus saudara baginya.
Kedua pria dewasa ini saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Sehingga mereka saling mengerti dan memahami satu sama lain.
__ADS_1