
Rasa bahagia yang kini dirasakan oleh Grego tidak dapat diukur dengan apapun. Karena baginya kesembuhan Eva adalah suatu anugerah terbesar dan suatu kesempatan baru yang telah Tuhan berikan untuknya. Maka dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Grego berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga dan melindungi Eva dan Gio dengan segenap jiwa dan raganya. Ia tidak akan membiarkan orang-orang terkasihnya mengalami penderitaan seperti itu lagi. Setelah diperiksa oleh dokter yang merawatnya selama ini Eva dinyatakan sembuh total. Hanya saja tubuhnya masih perlu adaptasi untuk berjalan melatih ototnya yang beberapa bulan ini hanya terbaring saja. Namun secara keseluruhannya semuanya dinyatakan sehat dan tidak terjadi komplikasi sama sekali. Grego tak henti-hentinya bersyukur. Setelah selesai pemeriksaan, Grego langsung menghubungi asistennya untuk membawa Gio ke rumah sakit. Dia pasti sangat bahagia melihat Bundanya sudah bangun.
Grego pun bertanya apakah Eva sudah bisa dibawa pulang dan menjalani perawatan di rumah saja. Dan dokternya pun mengiyakan dan menyetujuinya.
Tak butuh waktu lama Gio sudah sampai dirumah sakit. Baru turun dari mobil dia langsung berlari meninggalkan penjaganya itu. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Bundanya.
Karena sudah terlalu sering ke rumah sakit, Gio sampai hafal seluk beluk dari rumah sakit tersebut. Dan dengan mudahnya dia menemukan ruangan Bundanya. Tapi sampai disana, Bundanya sudah tidak ada lagi. Tempat tidur Bundanya kosong, rapi dan bersih. Gio jadi takut. Dia takut Bundanya terjadi sesuatu lagi. Air matanya hampir saja akan menetes. Lalu tiba-tiba Ayahnya menggendongnya dari belakang.
" Anak Ayah yang baik ini kenapa ada disini? Bunda kan tidak disini lagi sayang. Bunda sudah dipindahkan ke kamar lain." ucap Grego memberi penjelasan.
Gio menatap mata Ayahnya itu lekat.
" Bunda dimana Ayah ? Gio tak ingin kehilangan Bunda Ayah. " ujarnya dengan lirih.
Grego tersenyum lalu membawa anak itu ke ruangan lain dimana Eva beristirahat setelah dia siuman.
Saat masuk ke dalam ruangan Gio melihat Bundanya sedang duduk di tempat tidur dan tersenyum padanya, Gio langsung turun dari gendongan Ayahnya dan segera berhambur ke pelukan Bundanya.
Sambil menangis bahagia dia peluk Bundanya itu dengan segala kerinduan yang tersimpan selama ini dihatinya.
" Bunda, aku rindu Bunda! isaknya dalam dekapan Eva.
" Bunda juga rindu sama Gio. Rinduuu sekali. " ucap Eva penuh kehangatan. Eva pun berkata lagi, " Bunda minta maaf ya, selama ini Bunda tidak bisa menjaga dan merawat Gio. Gio pasti sedih ya karena Bunda tidak bisa berbuat apa-apa.?
Gio masih terisak di pelukan Bundanya. Grego pun menyusul dari belakang dan ikut memeluk mereka berdua. Mereka bertiga bersatu dalam sebuah pelukan yang hangat dan penuh cinta. Dimana yang selama ini, mereka harus bersabar dalam penderitaan, bergumul dalam kerinduan. Tapi hari ini Tuhan menyatukan mereka kembali.
__ADS_1
Joe sedang bersiap-siap akan berangkat ke rumah sakit menjenguk Eva. Entah mengapa hatinya merasa sesuatu yang membahagiakan. Tapi dia tidak tahu kenapa hatinya bahagia. Karena hari ini tidak ada hal yang istimewa atau peristiwa menarik yang membuatnya bahagia.
Hanya dia yakin bahwa itu pasti suatu tanda-tanda yang baik.
Ditatapnya dirinya dalam cermin, lalu tersenyum pada dirinya sendiri.
Dengan semangatnya dia melangkah. Dia akan bertemu Eva lagi. Meski dia hanya bisa melihatnya saja.
Tapi apa yang terjadi. Joe berdiri mematung di depan ruangan biasanya Eva dirawat. Ruangan itu kosong, tempat tidurnya sudah dirapikan. Eva tidak ada lagi disana. Pikirannya langsung memikirkan hal yang buruk telah terjadi. "Apakah Eva sudah.....???? Joe langsung menggelengkan kepalanya.
" Tidak..... tidak.... itu tidak terjadi! ucapnya dalam hatinya.
Seorang perawat lewat di sampingnya, Joe langsung menahannya dan bertanya kepadanya, " Sus, pasien di ruangan ini kemana ya?? hatinya was-was, takut jika berita buruk yang akan di dengarnya.
" Ohh... pasien yang ada di ruangan ini sudah pulang kembali ke rumahnya Pak! jawab si Perawat.
" Pasien yang dirawat di ruangan ini sudah siuman dari komanya. Dan menurut pemeriksaan dokter beliau sudah sembuh total dan boleh dibawa pulang dan dirawat di rumahnya. " jelas sang Perawat. Mendengar kata-kata tersebut hatinya terkejut bahagia.
Eva sudah sadar, Eva sudah bangun dari tidur panjangnya. Senyum bahagia langsung menghiasi wajah dan bibirnya. Sungguh, ini adalah berita yang paling membahagiakan baginya untuk saat ini.
Pikiran Joe langsung tertuju kepada Grego. Ya, Eva pasti sudah dibawa pulang oleh Grego suaminya itu. Dia langsung cabut dari sana setelah mengucapkan terima kasih kepada Perawat itu.
Dengan sekencangnya dia berlari. Dia akan ke rumah Grego. Dia sudah tidak sabar ingin melihat Eva. Setelah sekian lama dia hanya bisa melihatnya terbaring tanpa daya. Tapi kini kerinduannya yang menderu-deru sudah tak tertahankan lagi.
Bagaimana reaksi Eva nanti saat melihatnya ??
__ADS_1
Mobilnya pun melaju dengan kencangnya. Sedikitpun dia tidak trauma dengan kecelakaan yang dulu pernah dialaminya.
Sampai didepan rumah Grego dia berdiri sejenak. Ada sedikit rasa ragu, apakah dia harus mengetuk pintu dan masuk ke dalam? Ataukah dia hanya menunggu saja diluar sini?
Dengan tekad yang bulat dia memutuskan...
Ditekannya bell rumah megah itu. Selang 2 menit kemudian seorang asisten di rumah itu muncul dan membuka pintu untuknya.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu ? tanya asisten tersebut.
Joe tersenyum kepada asisten tersebut dan berkata, " Maaf, nama saya Joe temannya pak Grego. Saya ingin menjenguk Eva. " Lalu dia tersadar. Eva sudah jadi Nyonya di keluarga Wijaya. "Maksud saya Nyonya muda Wijaya."
Mendengar nama Wijaya asisten tersebut langsung mengerti.
" Ohh, baiklah Pak silahkan masuk." Joe pun masuk dengan santainya.
" Silahkan duduk Pak, saya akan panggilkan Tuan Muda dulu." ucap sang asisten.
Joe duduk di sofa, matanya melihat sekelilingnya. Dinding rumah itu berisi bingkai foto Eva, Gio dan Grego. Mereka bertiga begitu serasi di dalam foto itu. Dan ada sedikit rasa iri merasuki hatinya Joe.
Seandainya Eva dan dia bersatu, mungkin di dalam bingkai foto itu hanya akan ada gambar dirinya, Eva dan Gio.
Saat sedang asyik memandangi bingkai-bingkai foto keluarga Wijaya, Grego muncul dari belakangnya. Dilihatnya sejenak apa yang sedang dilakukan oleh Joe. Dibiarkannya Joe untuk menikmati foto-foto itu. Kemudian dia berdehem untuk mengalihkan perhatian Joe. Seperti mendengar sesuatu, Joe berbalik badan dan dilihatnya Grego sudah berdiri disana. Mereka saling memandang, hanya memandang tanpa kata, tanpa bicara. Seolah-olah hati mereka berdua saling beradu.
Tatapan mereka seakan saling berbicara satu sama lain. Hati Grego seolah bertanya, " Kenapa kamu datang ke rumah saya? "
__ADS_1
Sedangkan dalam hati Joe seakan berkata, " Aku ingin bertemu dengan Eva, dan kamu tidak bisa melarangnya!