
Gio yang terdiam seribu bahasa, tak tahu lagi harus berkata apa. Wanita ini memang tak bisa hanya sekedar diberi tahu. Entah keyakinan dari mana yang dia punya sehingga rasa percaya dirinya begitu tinggi. Jelas-jelas Gio sudah menolaknya berulang-ulang tapi baginya tak ada kata menyerah.
Sesungguhnya keteguhan hatinya dan rasa percaya diri yang tinggi adalah hal yang positif. Akan tetapi dalam beberapa hal perlu juga pengakuan diri untuk menerima kenyataan. Bahwa tidak semua yang kita inginkan dan harapkan akan terpenuhi. Dan tidak sepantasnya memaksakan kehendak sendiri kepada orang lain. Karena pada dasarnya segala hal yang dipaksakan hasilnya tidak baik.
" Sekali aku tegaskan sama kamu. Aku tidak punya perasaan apapun sama kamu dan aku juga sedang tidak berminat untuk berpacaran dengan siapapun.!" tegas Gio kepada Zara berharap wanita itu bisa mengerti dan menerimanya.
Terlihat perubahan ekspresi wajah Zara. Yang tadinya masih santai, tenang dan bahagia berubah menjadi sendu dan mendung. Sepertinya ucapan Gio mengena di hatinya. Benar ucapan ayah Grego dan om Joe, mungkin dengan berbicara lebih lembut dan tenang hatinya lebih bisa menerima.
" Jadi, kamu sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk mencintai kamu. Padahal aku merasa yakin jika kamu adalah cinta sejatiku!" ucap Zara dengan wajah yang memelas dan hati yang rapuh.
" Kamu pasti akan menemukan pria yang lebih baik dan mencintai kamu dengan sepenuh hati. Tapi aku minta maaf karena aku tidak bisa mencintai kamu atau membalas cintamu.!" ucap Gio dengan lebih bersahabat agar tidak menyakiti hati wanita itu. Meski sebenarnya sudah tersakiti karena penolakan Gio.
" Apa karena gadis kecil itu?" Tanya Zara berharap kepastian. " Gadis kecil yang mana maksud kamu?" tanya Gio yang tak tahu apa maksud Zara.
" Gadis yang selalu bersama kamu. Yang selalu kamu temani kemanapun dia pergi!" sahutnya.
" Aku tidak pernah bersama gadis mana pun. Selama ini aku hanya bersama dengan adik perempuan aku. Hanya dia yang selalu berada disampingku!" balas Gio.
Zara sedikit kaget mendengar jawaban Gio. Dan ada rasa penyesalan dalam hatinya karena telah berprasangka buruk selama ini kepada Gio bahkan sampai berbuat nekat dengan hendak mencelakai adiknya Gio.
__ADS_1
" Maafkan aku. Mungkin selama ini telah berbuat hal yang buruk kepada kalian!" ucapnya dengan jujur dari dalam hatinya yang paling dalam. Ternyata Zara masih punya hati yang tulus dan baik. Yang mungkin selama ini tertutupi oleh rasa cemburu karena cinta yang tak terbalas. Karena sesungguhnya dalam diri setiap manusia tanpa terkecuali memiliki hati yang baik dan tulus. Hanya saja karena satu atau dua hal yang membuat kebaikan hati mereka tersembunyi jauh di lubuk hati yang terdalam. Apakah karena rasa sakit hati, cemburu, patah hati atau karena dikhianati. Sehingga membuat mereka mengubur kebaikan hati mereka dengan kebencian dan kejahatan.
Melihat wajah sendu Zara, rasa kasihan Gio pun tak dapat di tahannya. Tapi Gio berusaha untuk menekannya, jangan sampai Zara melihatnya dan merasakannya, sehingga gadis itu nanti menjadi salah paham dan merasa jika Gio menaruh hati kepadanya.
Tapi tak dapat dipungkiri jika wajah cantik Zara tak dapat disembunyikan. Jikalau bukan karena kesan pertama yang tidak baik antara mereka berdua mungkin saja Gio akan tertarik dengan Zara meski hanya sedikit saja. Memang benar kata sebagian orang jika pada pandangan pertama kesannya tidak baik maka rasanya akan sulit untuk menjalin hubungan. Tetapi tak sedikit juga suatu hubungan terjalin dengan lebih kuat meski pada awalnya dimulai dengan kesan yang buruk.
Hanya masalah tinggal menunggu waktu. Akhir cerita yang manakah yang akan menjadi akhir cerita antara Gio dan Zara.?
Zara yang sepertinya kelihatan sudah menyerah berjalan dengan gontai. Sepertinya dia akan meninggalkan ruangan Gio. Karena merasa tidak ada lagi harapan, untuk apa harus menunggu lebih lama lagi. Semangatnya yang beberapa saat lalu masih berapi-api dalam sekejap redup dan bahkan tak bernyala lagi. Dengan langkah gontai dan lemas, kepala tertunduk lesu, Zara melangkah perlahan hendak meninggalkan Gio sendirian.
Ketika hampir sampai di pintu, Zara berbalik dan menatap Gio mungkin untuk yang terakhir kalinya. Mata itu nampak teduh tapi pilu. Bening air mata berkaca-kaca di pelupuk mata indahnya. Meski hatinya belum sepenuhnya rela untuk pergi. Ditatapnya netra Gio dengan dalam dan memelas seakan-akan bermohon kepada Gio agar menahannya dan mengucapkan kata-kata yang menyemangati hatinya.
" Aku tidak tahu kenapa hatiku memilih kamu saat pandangan pertama, tapi semakin kurenungkan hatiku seakan meyakini dan percaya jika kamu adalah sosok cinta sejatiku. Aku tidak tahu apakah perasaan ini salah atau benar tapi aku hanya mengikuti kata hatiku. Aku percaya jika hatiku tidak akan menipu diriku.!"
Mendengar penuturan Zara, sebenarnya ada sedikit getaran dalam hati Gio. Akan tetapi egonya sebagai laki-laki membuatnya mengabaikan setitik perasaan itu. Zara pun berbalik kemudian membuka pintu dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Gio dalam kebisuannya. Gio memandang ke arah pintu ketika bayang Zara pun telah ikut menghilang bersama kepergiannya.
Kenapa Gio seakan takut untuk menahan langkah gadis itu. Padahal dalam hati kecilnya ada setitik rasa yang mulai memasuki hatinya. Meski hanya setitik tetapi rasanya mampu menyentuh seluruh sudut hatinya. Gio hanya mampu membuang napas dengan berat dan sedikit sesak.
Zara yang sudah duduk di dalam mobil, mencurahkan segala kesedihannya dengan meneteskan air mata. Berharap air mata mampu mewakili perasaan di hatinya dan bisa memberinya kelegaan. Semakin lama isak tangis itu semakin keras. Untungnya di dalam mobil semua kaca tertutup rapat sehingga suaranya tidak terdengar sampai ke luar. Zara pun menangis sekencang-kencangnya. Meluapkan semua kesedihan, rasa sakit dan kecewa yang ada dalam hatinya saat ini.
__ADS_1
Dan entah mengapa, Gio seperti merasakan sesuatu dalam hatinya. Seperti rasa sakit yang menusuk hatinya. Hanya saja dia tidak tahu dari mana rasa sakit itu berasal dan kenapa hatinya merasakan sakit dan perih. Gio mencoba meredakan rasa sakit di hatinya itu dengan minum segelas air yang ada di atas meja kerjanya. Tapi rasa sakit itu belum juga hilang.
Wajah Zara pun terngiang-ngiang dalam pikiran dan benaknya. Bayangan itu muncul saja, tiba-tiba menari-nari dalam pikirannya. Semakin dia berusaha untuk melupakannya semakin bayangan itu muncul. Ahh.. mungkinkah Gio telah terkena mantra sihir cinta dari Zara? Pikiran ngawur Gio menjelajah entah kemana-mana. Kini jiwa, raga dan hatinya menjadi resah dan gelisah.
Ada rasa khawatir kepada Zara, apalagi tadi gadis itu pergi dengan hati yang sedih. Jangan sampai pikirannya menjadi kalut dan tidak bisa berpikir jernih lalu memilih jalan yang salah untuk mengakhiri hidupnya.
Karena yang dia tahu sejak pertama kali bertemu dengan Zara, gadis itu adalah sosok yang kuat, karakternya penuh semangat dan tidak ada kata menyerah. Percaya dirinya sangat besar. Dan tiba-tiba saja tadi dia berubah seketika. Nampak hatinya yang sangat rapuh yang disembunyikannya dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Sebagai pria yang bertanggung jawab, yang selalu diajarkan oleh Ayah dan Bundanya kepadanya selama ini, jangan sampai menyakiti perasaan seorang wanita. Jika sampai Zara melakukan hal yang nekat bukankah Gio harus bertanggung jawab untuk itu?
Takut hal buruk menimpa Zara, Gio segera meninggalkan ruangan kantornya. Berharap dalam hatinya semoga gadis itu belum pergi jauh. Dengan langkah yang cepat Gio mencoba mengejar keberadaan Zara. Bahkan para karyawan yang sedang fokus bekerja tiba-tiba terusik dengan sikap pimpinan mereka yang sedikit aneh itu. Gio semakin bergegas takut langkahnya terlambat dan Zara tak tertolong lagi. Setibanya di parkiran Gio melihat sebuah mobil asing berwarna hitam sedang parkir. Seingatnya tak ada seorangpun penghuni di gedung itu yang memiliki mobil seperti itu.
Gio pun berinisiatif mendekati mobil itu. Dugaannya jika mobil itu adalah mobil Zara. Dan ketika Gio mengintip ke dalam dan dilihatnya Zara yang terisak-isak, diketuknya kaca mobil berharap Zara mendengar dan membukakan pintu mobil itu. Zara yang masih terisak merasa ada yang mengetuk-ngetuk mobilnya. Ditolehnya ke arah sumber suara dan dilihatnya bayang Gio di luar kaca mobil.
Kaget melihat Gio ada disana, disekanya air matanya. Dia tidak ingin Gio melihat ada air mata di matanya. Lalu dibukanya pintu mobil dan Zara segera keluar menemui Gio.
Gio bisa melihat netra itu merah dan sembab. Sejak tadi dia pasti menangis di dalam mobil. Hatinya pun terenyuh melihat wajah yang berurai air mata itu. Hatinya yang lemah lembut tak dapat menahan haru dan kasihan. Dengan refleks dirangkulnya tubuh Zara, dibawanya gadis itu ke dalam pelukannya. Di usapnya pucuk kepala Zara dengan kasih sayang. Naluri itu datang begitu saja dari dalam hatinya.
Zara yang semakin kaget hanya bisa terdiam membisu. Tidak menyangka Gio tiba-tiba memeluknya seperti itu. Zara tidak tahu bagaimanakah perasaannya saat ini. Semua bercampur aduk menjadi satu.
__ADS_1