Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Cinta Bukan Untuk Dipertandingkan.


__ADS_3

Gia and the squad sedang fokus diskusi di meeting room yang ada di dalam ruangan perpustakaan. Tugas dari salah satu dosen yang harus dikumpulkan segera. Di saat Gia sedang menyampaikan idenya diantara teman-temannya tiba-tiba salah seorang teman kelasnya datang menemui mereka dan menyampaikan sebuah kabar kepada Gia. Dibisikkannya di telinga Gia berita yang lagi heboh di luar kampus. Mendengar kabar berita itu, Gia terlihat terkejut. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. Perasaannya menjadi tidak tenang.


Gia pun meminta ijin pamit undur untuk sebentar. Ada masalah yang harus diselesaikan olehnya. Tapi teman-temannya tidak akan membiarkan Gia menghadapinya sendirian. Sebagai teman mereka akan saling membantu satu sama lain. Maka mereka pun bersama-sama menemani Gia.


Di aula kampus, mahasiswa berbondong-bondong menonton pertikaian yang terjadi antara Kevin dan Varen dengan genk nya Aldo, sekelompok mahasiswa abadi kampus yang terkenal nakal dan preman. Apalagi karena merasa senioritas, jadi merasa lebih hebat dan lebih terhormat. Tak jarang menindas para yunior yang dianggap culun dan lemah. Meski sudah sering kali mendapat teguran dari pijat kampus namun tak juga mendapat respon malah semakin menjadi-jadi.


Karena kebetulan ayahnya adalah salah seorang pejabat yang berkuasa di daerah itu. Sang anak pun ikutan merasa berkuasa. Sehingga suka bertindak semaunya dan menyepelekan orang lain yang dianggap dibawah standardnya. Dan mengapa Gia menjadi sumber pertikaian diantara mereka? Padahal Gia sebagai subjek pertikaian tidak tahu menahu sama sekali.


Bermula ketika Kevin, Varen dan teman-temannya sedang menikmati makan siang di kantin kampus. Dan tak jauh dari tempat mereka, Aldo dan anak buahnya juga sedang menikmati santap siangnya. Awalnya Aldo dan anak buahnya bercerita biasa saja. Dengan suara mereka yang keras terdengar hampir di seluruh sudut ruang di kantin itu sehingga semua orang yang ada disana bisa mendengarkannya. Persoalan muncul ketika salah seorang diantara kelompok Aldo menyebut nama Gia. Jika hanya sekedar disebutkan dengan baik tentu tidak akan menjadi masalah.


Yang menjadi masalah ialah ketika mulai menyebut nama Gia dengan sangat tidak sopan bahkan terkesan pelecehan. Kevin dan Varen yang masih mencoba bersabar dan menahan diri agar tidak meluapkan emosinya dan menghajar senior-senior bodoh itu. Tapi semakin lama candaan mereka semakin kelewatan. Tidak hanya menghina Gia lewat penghinaan fisik tetapi juga melecehkan kehormatan Gia dengan ucapan-ucapan tak senonoh.


Kevin yang tak dapat lagi menahan diri, amarahnya telah sampai ke ubun-ubun akhirnya meledak. Demikian juga dengan Varen. Jiwa kepahlawanannya seketika muncul. Dengan langkah gagah berani mereka berdua berjalan ke arah sekelompok orang-orang tak bermoral itu.


Dan tanpa sepatah katapun lengan Kevin dan Varen langsung meninju wajah-wajah bajingan itu. Tanpa peringatan, tanpa ba, bi, bu, be, bo, tulang-tulang rawan mereka langsung bengkok dengan otot-otot biru memar. Sedikit darah segar mengintip dari sudut bibir lantam mereka. Namun tak sampai disitu, anak buah Aldo yang ternyata berceceran dimana-mana melihat boss mereka dihajar babak belur, tentu saja tidak tinggal diam menyaksikan penderitaan boss besar mereka.


Maka perkelahian pun tak dapat dielak lagi. Namun karena ruangan di kantin terbatas, maka mereka pun beralih ke ruang aula. Bagaikan ring tinju di tengah lapangan aula sedangkan mahasiswa lainnya bersorak layaknya penonton yang sedang menyaksikan pertandingan terhebat antara dua kubu.


Gia yang berlari dengan secepat kilat diikuti teman-temannya dari belakang tiba di aula kampus, sedangkan beberapa bapak dosen dan juga petugas keamanan yang juga sudah tiba disana sedang menginterogasi para pelaku. Karena hanya baru dengan sekuat tenaga pertikaian itu akhirnya dapat dileraikan. Dengan wajah-wajah yang lebam karena akibat gontok-gontokkan tadi mereka terlihat menyedihkan.


Gia langsung mencari sosok Kevin diantara berandal-berandal kampus itu. Mereka pantas disebut berandal karena tidak punya attitude yang baik. Mencoreng nama baik almamater. Ketika wajah Kevin dan juga Varen nampak olehnya, Gia segera mendekati mereka. Tapi anehnya kedua orang itu nampak baik-baik saja. Tidak seperti keadaan yang lainnya babak belur. Melihat kedatangan Gia, senyum Kevin langsung mengembang. Sedangkan Varen antara bahagia dan sedih.


" Gi, kamu kok ada disini? Gia malah memasang muka cemberut.


" Kamu ngapain sih bikin onar. Mau cari perhatian ya dan pamer sama semua orang. Kelakuan kalian itu norak tahu nggak! ucap Gia dengan kesal dan marah. Bukannya Kevin menyesal malah dia merasa bahagia dan senang. Mendengar ucapan Gia dia malah tertawa.


" Kok malah tertawa sih. Bukannya menyesal! protes Gia lagi.


" Habisnya kamu semakin imut kalau lagi marah seperti itu. Manis dan cantik! puji Kevin. Mendengar pujian Kevin Gia malah semakin kesal. Sedangkan Varen memilih untuk berdiam diri. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dilema. Melihat kedekatan Kevin dengan Gia membuatnya semakin insecure jika dia tidak mungkin lagi bisa mendekati Gia. Sudah nampak jelas jika keduanya sudah saling memahami satu sama lain. Varen tertunduk merenungi diri sendiri.


" Kamu tidak papa? Tanya Gia kepada Varen ketika dilihatnya pria itu tidak bereaksi sama sekali. Varen mengangkat kepalanya karena merasa tidak yakin jika yang didengarnya itu adalah suara Gia yang sedang bertanya kepadanya.

__ADS_1


" Kamu tidak apa-apa kan?! Gia bertanya ulang.


" Ya, saya tidak apa-apa! jawabnya dengan nada suara yang pelan. Hampir tidak kedengaran sama sekali. Kevin yang mendengarnya pun seperti kesal.


" Hey bro, kenapa suara kamu lemes gitu. Nggak semangat amat. Apa loe kena pukul anak buahnya si Aldo mesum itu ya! Tanya Kevin memastikan.


"Nggk. Gue baik-baik saja kok.! balas Varen


" Yakin! Tanya Kevin lagi dengan ngotot.


" Iya gue baik-baik saja.! jawab Varen lebih ngotot lagi.


" Baguslah kalau begitu! sambung Gia. " Truss kampus beri sanksi apa sama kalian? Tanya Gia kemudian.


" Kita hanya di beri sanksi sosial. Selama satu bulan ini kita jadi sukarelawan di panti asuhan.! jawab Kevin dengan senyum bahagia. Tentu saja dia bahagia. Karena baginya itu bukanlah suatu hukuman. Melainkan kebahagiaan. Karena Kevin memang sosok pria yang sangat menyukai anak-anak. Demikian juga halnya dengan Varen.


" Lalu mereka yang lain diberi sanksi apa? Tanya Gia penasaran.


" Mereka disuruh membersihkan sampah dan limbah di sungai-sungai yang tercemari oleh sampah dan limbah.! beritahu Kevin dengan nada mengejek. Setelah itu dia lalu tertawa kencang.


" Kamu senang ya kalau melihat orang lagi menderita ?! ujar Gia dengan masih kesal. Melihat Gia tidak suka dengan sikapnya tadi Kevin pun merasa menyesal.


"Yaa maaf.! sesalnya. Gia yang masih merasa kesal terhadap sikap Kevin mengalihkan perhatiannya kepada Varen.


" Kamu kenapa? Aku perhatikan kamu seperti tidak baik-baik saja! Tanya Gia dengan perasaan khawatir. Dan Varen hanya membalas dengan senyuman sambil menggeleng kepalanya.


Gia lalu menyodorkan sebotol air mineral kepada Varen. " Nih, kamu pasti haus!


Melihat sikap Gia yang lebih perhatian kepada Varen membuat Kevin sedikit cemburu. Apalagi Gia hanya menawarkan minuman kepada Varen. Dia juga kan haus setelah menghajar senior berantakan itu. Varen pun sedikit tersanjung atas perhatian kecil Gia.


" Terima kasih! balasnya. Lalu dibalas oleh Gia dengan tersenyum.

__ADS_1


" Minuman untuk aku mana. Aku juga kan haus! protes Kevin juga akhirnya.


" Aku hanya punya satu saja.! jawab Gia asal.


" Lalu kenapa hanya kamu berikan kepada Varen? protesnya lagi.


" Ya karena aku hanya punya satu, dan aku ngerasa Varen lagi haus jadi aku kasih sama dia! jawab Gia polos.


" Apa kamu tidak merasakan kalau aku juga haus dan butuh minum? cecar Kevin dengan rasa tidak suka.


" Kenapa kamu sewot begitu. Itu kan hanya air mineral doang! ucap Gia semakin kesal melihat sikap Kevin.


" Iya, tapi kamu pilih kasih. Kamu hanya memperhatikannya dari tadi. Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan Varen padahal kan dia tidak apa-apa! protes Kevin dengan nada sedikit mulai tinggi.


" Kenapa kamu jadi marah? Seperti anak kecil saja tahu.! Gia pun mulai emosi.


" Bilang aja kalau kamu suka sama Varen, makanya kamu sangat perhatian kepadanya. Iya kan? bentak Kevin akhirnya. Rasa kesal di dalam hatinya membuat emosinya tidak dapat dikontrolnya lagi.


Gia pun terkejut dengan sikap Kevin yang tiba-tiba berubah sedikit kasar kepadanya. Demikian juga dengan Varen. Dia merasa Kevin sudah mulai keterlaluan. " Vin, kenapa kamu bentak Gia seperti itu sih!? Varen mengingatkan Kevin dengan sikapnya yang tidak baik itu.


" Kenapa, kamu mau marah juga sama aku.? Atau jangan-jangan kamu memang suka juga dengan Gia. Apa mungkin gadis yang kamu ceritakan waktu itu adalah Gia. Iya? Benarkan! tebak Kevin dengan benar. Varen terdiam tak dapat menjawab. Sedangkan Gia terkejut olehnya.


Apa benar Varen juga menyukai dirinya seperti dia yang juga menyukai Varen. Perasaan Gia seakan senang setelah mendengarnya. Meski Varen belum menjawabnya sama sekali.


" Kenapa loe diam? Jawab dong! Apa loe mau menjadi teman yang akan menusuk temannya sendiri dari belakang? Tanya Kevin seakan menuduh Varen.


" Maksud kamu apa? Varen balik bertanya tak terima akan perkataan Kevin.


" Loe kan tahu kalau gadis yang aku sukai itu Gia. Kalau gue cinta sama Gia. Kenapa sekarang loe malah diam-diam juga menyukai Gia? Apa namanya kalau bukan itu!? tuduh Kevin dengan semakin emosi.


" Aku memang menyukai Gia, tapi itu jauh sebelum aku tahu kalau kamu juga menyukainya. Jadi kamu jangan asal menuduh begitu! balas Varen tidak mau terima atas tuduhan Kevin.

__ADS_1


Sedangkan Gia yang sedikit terkejut dengan pengakuan kedua pria tampan itu hanya bisa terdiam tak tahu harus berbuat apa-apa. Sedangkan teman-temannya malah saling colek satu sama lain. Gia yang mendapat pengakuan cinta tapi mereka yang baper dan salah tingkah.


__ADS_2