Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Tatapan Mata


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Sudah waktunya pulang. Karyawan yang lain sudah terlihat rapi rapikan meja. Tapi Eva masih sibuk dengan tugasnya. Belum ada tanda tanda kalau dia akan menyelesaikan pekerjaannya. Satu persatu para karyawan meninggalkan kantor. Aletta juga sudah merapikan mejanya.


"Va, ayo pulang.! ajak Aletta yang melihat Eva masih sibuk di depan layar komputernya.


"Ya mbak Al. Mbak duluan aja deh. Aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan.! jawab Eva tanpa mengalihkan pandangannya dari depan layar komputernya.


"Oke deh kalau gitu. Aku duluan ya.!? ucap Aletta lalu meninggalkan Eva sendiri.


Eva hanya membalas dengan anggukan.


Tapi ternyata Eva tidak tinggal sendirian disana. Grego juga masih ada di kantornya.


Mereka berdua sibuk dengan tugas mereka masing masing.


Beberapa menit kemudian Grego pun keluar dari ruangannya. Saat dia hendak melangkah keluar di lihatnya Eva yang sibuk sendirian.


Dengan pelan pelan Grego melangkah agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengalihkan perhatiannya Eva.

__ADS_1


Dan disaat dia hendak berjalan melewati meja kerjanya Eva, tiba tiba saja Eva berdiri dan berbalik badan hendak melangkah dan yang terjadi adalah tubuh mereka berdua saling bertemu dan tabrakan tak dapat dihindari. Eva hampir saja terjatuh ke belakang dan dengan refleks Grego menangkap tubuh Eva agar tidak jatuh hingga seakan akan posisinya Grego setengah memeluk tubuh Eva. Sesaat pandangan mata mereka berdua saling menatap tajam. Bagai tersihir oleh sihir cinta Grego melihat mata Eva dengan perasaan yang aneh. Begitu juga sebaliknya Eva memandang kedua mata Grego dengan tatapan sayu.


Tak lama kemudian mereka tersadar dari tatapan mata yang mengandung sihir tersebut. Grego pun membantu Eva untuk berdiri dengan sempurna.


Tanpa berkata sepatah katapun Grego langsung meninggalkan Eva yang masih berdiri mematung. Sedangkan dalam pikiran Eva terlintas berbagai pertanyaan yang menari nari di kepalanya.


Tersadar dari lamunannya Eva kemudian merapikan mejanya. Diperhatikan jam di pergelangan kirinya. Sudah waktunya dia pulang dan menjemput Gio dari rumah Bu Asri tetangga nya yang selalu membantunya menjaga Gio saat Eva sedang di kantor.


Eva segera bergegas dari sana dan menuju pintu keluar meninggalkan ruangan tempatnya bekerja. Sampai di depan lobi dia melihat pria tadi yang bertabrakan dengannya sedang berbicara dengan Pak Satpam.


Eva terus melangkah dan ketika hampir mendekat dia mendengar suara Pak Satpam yang berbicara dengan Grego.


Dengan langkah perlahan dia mencoba menelaah kata "Presidir."


Setelah sepenuhnya sadar mulutnya pun ternganga lebar.


"Jadi dia adalah seorang Presidir. Presidir di tempat aku bekerja saat ini? ucapnya dalam benaknya sendiri.

__ADS_1


Sambil berjalan pikirannya masih melayang layang membayangkan pertemuan pertemuannya dengan sang Presidir tersebut.


Ternyata selama ini dia sudah bertindak dengan tidak sopan dan sembarangan kepada bosnya itu.


Seketika perasaannya menjadi ciut. Apa yang akan terjadi selanjutnya karena sikapnya tempo hari terhadap si boss. Apalagi si boss selama ini hanya diam saja tanpa berkata apapun kepadanya.


Mau tidak mau Eva harus menyiapkan hati dan batinnya jikalau saja tiba tiba si boss memanggilnya dan memecatnya.


Sepanjang perjalanan pulang pikirannya terus dihantui perasaan tidak enak.


Kenapa dia begitu bodoh dan semborononya tidak bisa mengenali Presidirnya sendiri dengan baik dan benar.


Eva teringat kembali dengan tatapan mata sang Presidir tadi. Sebenarnya tatapan itu hangat namun tajam. Tapi dia tidak tahu dan tidak mengerti apa arti dari tatapan tersebut.


Sedangkan Grego yang baru keluar dari parkiran tanpa sengaja menangkap sosok Eva dari kejauhan. Diperhatikannya dalam dalam. Sungguh sepertinya sudah mulai muncul perasaan tertarik akan sosok Eva yang baginya cukup misterius. Ada aura yang muncul dari tubuh Eva yang sangat menarik untuk diperhatikan. Dia terus memandang tubuh itu hingga hilang dari pandangannya.


Akhirnya kedua insan jomblo itu mulai saling memikirkan satu sama lain. Rasa penasaran dan rasa ingin tahu membuat keduanya ingin mencoba mencari tahu sosok masing masing. Siapa yang dapat mengira jika suatu pertemuan yang tak disengaja secara berulang ulang kali terjadi ternyata meninggalkan suatu kenangan yang akan selalu terngiang dalam memori ingatan.

__ADS_1


Mungkinkah suatu permulaan rasa cinta akan hadir dari sana? Hanya Sang Pemberi Cinta yang mengetahuinya. Dia yang mengatur segalanya dan sebagai manusia biasa kita hanya bisa menerimanya dengan pasrah dan berjuang.


__ADS_2