
Siang itu kamar rumah sakit tempat Eva dirawat, berubah menjadi lautan air mata. Tetapi air mata kebahagiaan. Penantian dan pencarian mereka selama 17 tahun yang sudah lewat kini membuahkan hasil. Takdir akhirnya mempersatukan mereka kembali. Eva memang belum mengingat sepenuhnya. Ada beberapa potongan-potongan memori yang masih sulit untuk diingatnya kembali.
Gio tak lepas dari rangkulan sang Bunda. Dia bagaikan anak kecil yang sedang bermanja dengan ibunya. Dan Eva tak henti-hentinya menciumi wajah Gio yang tampan. Dia tak percaya jika Gio kecilnya kini sudah sedewasa ini. Baginya Gio adalah putra kecilnya yang manis dan polos.
Grego sedang dalam perjalanan dari rumahnya menuju rumah sakit. Setelah Eva mengingat siapa Gio, Gio langsung menghubungi sang ayah dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit. Dalam perjalanan Grego seperti gugup dan grogi. Entah mengapa dia seakan sedang hendak bertemu dengan kekasih hatinya untuk yang pertama kalinya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Berdebar-debar tak beraturan.
Sampai di rumah sakit, Grego berdiri cukup lama di depan pintu kamar tempat Eva dirawat. Mengatur napas agar tidak terlihat jika dia sedang gugup dan grogi. Setelah menghimpun keberanian dalam hatinya, Grego membuka pintu kamar perlahan. Semua mata tertuju ke pintu setelah terdengar bunyi pintu terbuka. Grego melangkah dengan gerakan slow motion. Pandangannya tajam ke depan. Dengan langkah yang tegap dan berwibawa, Grego melangkahkan kakinya. Lalu matanya tertuju pada Eva yang masih duduk di atas tempat tidur. Dan sejurus kemudian mereka berdua saling bertatapan. Dalam tatapan itu terpancar kerinduan yang selama ini tersembunyi dalam lubuk hati mereka yang terdalam.
Saat beberapa langkah lagi mendekati tempat tidur Eva, Grego berhenti sejenak. Kakinya terhenti ketika sudah hampir mendekat kepada Eva. Hatinya yang hampir meledak karena menyimpan kerinduan yang setiap hari selalu menggunung semakin berdetak tak karuan.
Mereka terdiam dalam kebisuan hati mereka masing-masing. Seakan tak mampu untuk berkata-kata lagi. Gio yang sadar jika kedua orang dewasa itu hanya akan diam dan tanpa bicara, maka dia akan menjadi penghubung diantara keduanya. Gio memahami jika di antara mereka pasti ada rasa canggung dan segan. Setelah sekian lama tidak bertemu. Dan akhirnya bertemu dalam keadaan yang seperti ini tentu saja ada yang masih mengganjal.
Grego masih berdiri tegak ditempatnya. Gio pun membuka percakapan memecah kebekuan diantara suami istri itu.
" Bunda, apa Bunda bisa mengingat siapa pria yang berdiri dihadapan Bunda saat ini?
Eva menatap lekat pria yang ada dihadapannya itu. Samar-samar tapi semakin diperhatikan semakin melekat di dalam pikirannya.
" Mas..... Gre....go...!! ucapnya terbata seakan sedang belajar mengeja nama itu. Mendengar namanya disebut oleh Eva, Grego langsung menghamburkan dirinya memeluk Eva. Dipeluknya wanitanya yang sangat dirindukannya itu. Eva pun membalas pelukan itu dengan erat juga. Meski pikirannya masih diliputi keraguan tetapi hatinya mengisyaratkan keyakinan. Hati dan pikirannya memang tak sejalan tetapi dia bersikap untuk lebih mendengarkan suara hatinya itu dari pada menuruti pikirannya. Karena suara hati tidak akan menyesatkan.
Gio pun meneteskan air mata kembali. Entah sudah berapa banyak netranya itu mengalirkan tetes air mata sepanjang hari ini. Tapi dia bahagia karena air mata ini adalah air mata kebahagiaan.
__ADS_1
Gio pun tak mau melewatkan moment berharga ini. Dia pun merangkul ayah dan Bundanya itu. Mereka bertiga saling merangkul melepaskan sesaknya kerinduan yang menyiksa mereka selama ini.
Gia yang melihatnya pun menangis tersedu-sedu. Dalam tangisannya itu Gia sambil berkata,
" Kenapa ayah dan ibu dan kakak melupakan Gia disini. Gia juga ingin dipeluk! rengeknya manja.
Gio yang mendengarkan rengekan manja adik kecilnya itu, berbalik kemudian meraih tubuh Gia membawanya kedalam pelukan mereka bertiga. Grego pun membuka lengannya lebih lebar lagi. Dibawanya orang-orang yang dikasihinya itu kedalam pelukannya yang hangat dan memberi rasa aman.
Savio yang masih berdiri disana merasa menjadi seperti orang asing diantara keluarga itu. Menyaksikan moment indah itu terasa menyakitkan baginya karena hatinya bagai tersayat pisau tajam dan menorehkan luka yang menganga disana.
Tapi siapa yang patut dipersalahkan. Karena semua yang terjadi yang telah memisahkan mereka semuanya, terjadi karena bukan kehendak manusiawi mereka. Namun tidak juga menyalahkan takdir atas semua peristiwa ini.
Mungkin ini hanyalah sebagian kecil dari ujian hidup yang harus dijalani oleh mereka. Belasan tahun yang mereka lewati dengan perasaan kehilangan mengajarkan mereka betapa sangat berharganya orang-orang yang ada dalam kehidupan mereka. Sehingga mereka pun bisa menghargai setiap waktu, setiap kebersamaan, setiap kesempatan yang diberikan kepada mereka.
Savio berdiri sejenak di depan pintu kamar itu. Merenungkan apa yang telah dialaminya hingga saat ini. Setelah sekian belasan tahun dia berusaha untuk meraih hati itu dan berharap untuk mencintainya seperti hatinya yang begitu mencintai wanita itu. Segala bentuk kebaikan, perhatian dan kasih sayang yang diberikannya tidak kekurangan sesuatu apapun.
Tapi sebesar apapun dia berusaha dan mencoba ternyata hati manusia itu tidak dapat dipaksakan untuk membalas cinta orang lain. Karena hati yang tulus dan sejati tahu kapan, dimana, dengan siapa dia harus menaruh cintanya. Dan semua itu tidak lepas dari kehendak sang Maha Kuasa.
Manusia boleh berencana tetapi yang memutuskan hanyalah Yang Maha Kuasa. Savio mencoba berdamai dengan hatinya yang saat ini boleh dikatakan sangat hancur. Terlihat dari luar Savio kelihatan baik-baik saja. Akan tetapi sebenarnya hatinya benar-benar telah patah berkeping-keping. Hancur tak berbentuk lagi.
Bagaimana tidak.? Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Seharusnya selama waktu itu dia mampu membuka sedikit saja hati seorang Eva, memasuki ruang hati itu dan bersemayam disana. Namun tidak disadarinya jika hati wanita itu benar-benar telah terkunci hanya untuk cinta sejatinya. Mungkin Savio bukan tidak mengetahuinya tetapi berpura-pura untuk tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya hatinyalah yang kini tersakiti. Melihat cinta yang telah lama berpisah itu kini menyatu kembali. Hati siapa yang sanggup menyaksikan orang yang dicintai dengan sepenuh hatinya ternyata menjadi milik orang lain.
Meski hatinya sekeras batu, tetapi jika dihadapkan dengan kejadian seperti ini maka hati itu pasti akan menjadi luluh seperti salju yang dicairkan.
Savio menarik napas panjang. Dan dengan senyum meski terpaksa, mencoba mengikhlaskan semuanya. Terasa berat memang tetapi harus direlakannya agar hatinya tenang dan tidak menjadikannya batu sandungan baginya dan bagi siapa saja.
Savio pun melangkahkan kakinya. Membawa hatinya yang terluka pergi jauh dari sana. Ikhlas, harus ikhlas.
Untuk saat ini dia akan mencari ketenangan. Mencoba untuk menyembuhkan hati yang luka. Sekalipun dia tidak pernah tahu apakah luka itu bisa disembuhkan dan sampai berapa lama dia harus menyembuhkannya.
Dan ternyata dalam diam dan dalam pelukan itu, Eva melihat kepergian Savio. Tapi entah mengapa dia tidak berusaha untuk mencegahnya. Dia bahkan seperti menghantar kepergian Savio dengan tatapannya. Dan tidak dapat disangkal jika sebenarnya Eva mengetahui perasaan yang dimiliki oleh pria penyelamatnya itu.
Bahkan sesungguhnya beberapa waktu sebelum moment kasih ini terjadi, sempat terbersit di hati Eva untuk menerima Savio jika pria ini memintanya untuk itu. Tapi belum sempat semuanya terjadi, Tuhan malah mempersatukan mereka kembali. Mungkin Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi.
Cinta yang sejati harus kembali kepemiliknya. Dia harus berada ditempat dimana seharusnya dia berada. Dan Tuhan sejak pertama sekali telah menempatkan dimana cinta berada? Di hati siapa cinta itu harus bersemayam.? Meski terjadi sesuatu yang membuat cinta itu hilang untuk beberapa saat yang cukup lama tapi tepat pada waktunya cinta itu telah dikembalikan ke tempatnya.
Eva dan Savio saling melepaskan. Saling menerima bahwa nyatanya cinta dan hati mereka tidak pernah dapat bersatu.
Bersama dengan jejak langkahnya, Savio seakan berkata penghiburan dan penguatan kepada hatinya yang sedang terluka itu.
" Jangan khawatir, kita akan menemukan tempat yang memang pantas untuk kita diami. Tempat yang layak yang akan kita sebut sebagai rumah!
__ADS_1
Lihatlah langkah itu begitu percaya diri. Langkah yang tadinya lemah dan tak berdaya. Sekarang dia melangkah sangat percaya diri.