Mencari Cinta Untuk Anakku

Mencari Cinta Untuk Anakku
Blessings in disguise


__ADS_3

Rumah sakit terlihat ramai. Mengapa pasien begitu banyak hari ini?. Gia yang sangat tidak menyukai aroma rumah sakit persis seperti Bundanya Eva nampak tidak nyaman dan gelisah. Pria yang mendampinginya itu bisa melihat dengan jelas sikap dan reaksi tubuh Gia.


" Kenapa kamu gelisah? Apa kamu juga merasa sakit dan perlu kita periksakan ke dokter? Tanya pria itu dengan lembut dan ramah.


" Ahh... tidak papa kok, aku hanya tidak suka dengan aroma rumah sakit saja."Jawabnya dengan sedikit canggung.


" Ouhh... tapi kalau memang kamu merasa tidak enak badan kita bisa periksakan juga! ucap pria itu penuh perhatian.


"Terima kasih,! balas Gia.


Lalu terdengar bunyi nada dering ponsel Gia. Nama Gio tertera di layarnya........ . ....... ..... ..


Gia langsung mengangkatnya. Kakaknya itu pasti khawatir.


" Halo Kak!


" Kamu dimana? Kakak sudah tungguin di depan kampus kamu nih!


" Iya kak, Gia minta maaf. Sekarang Gia lagi di rumah sakit!


" Hah, dirumah sakit? Kamu kenapa kok bisa ada di rumah sakit!? Gio terkejut ketika mendengar adiknya itu menyebut rumah sakit.


" Aku baik-baik aja kok Kak. Aku hanya lagi mengantar seseorang ke rumah sakit.! Perjelasnya kepada Gio. Kakaknya itu pasti sangat khawatir sekarang.


" Ya udah kamu di rumah sakit mana, kakak jemput kamu di sana!


" Tidak usah Kak, Gia pulang sendiri aja, ada yang antar kok! ucapnya berbohong. Dia tidak ingin merepotkan Gio. Dia juga masih bisa pulang naik taksi online.


"Kakak pulang aja, Gia juga sudah mau pulang kok! ucapnya berusaha meyakinkan dan menenangkan hati kakaknya itu.


" Kamu yakin kakak nggak usah jemput kamu? Tanya Gio untuk meyakinkan permintaan adiknya itu.


" Iya Kakak.! jawab Gia dengan tegas.


" Ok, baiklah. Nanti kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Kakak. Mengerti? perintah Gio dengan tegas.


" Iya Kakak!


Gio pun menutup telvonnya. Sesungguhnya dia merasa ragu membiarkan adiknya itu sendirian naik angkutan. Tapi dia juga tidak ingin dianggap terlalu possesif atau mengekang sehingga adiknya itu merasa tidak nyaman.


Hasil pemeriksaan dokter mengatakan jika keadaan anak laki-laki itu baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius. Gia begitu lega mendengarkan ucapan dokter tersebut.


Pria tadi masih setia menunggu di luar. Sepertinya dia memang pria yang bertanggung jawab. Karena dia memang tidak sengaja. Lagi pula dia terlihat sepertinya adalah orang baik-baik.


Pria itu langsung menemui Gia dan bocah itu setelah dilihatnya mereka berdua keluar dari dalam ruang pemeriksaan.


" Bagaimana kata dokter? Dia baik-baik saja kan? Nampak jelas gurat khawatir di wajahnya.

__ADS_1


" Iya, dia baik-baik saja. Tidak ada luka yang serius. Hanya sedikit shock saja.! Gia memberi penjelasan.


" Ouh syukurlah! Wajahnya berubah menjadi lega. Lalu dia tersenyum simpul. Senyum pria itu terlihat manis sekali. Gia menyukai senyuman itu.


Gia pun membalas dengan senyuman. Senyum yang paling manis.


" Sekarang kalian mau kemana? Saya akan mengantarnya! Pria itu menawarkan bantuan.


" Saya tidak tahu dimana rumah anak ini karena saya baru bertemu dengan dia hari ini. Saya hanya menolongnya tadi. Aku tidak tahu dimana orang tuanya.! Mendengar perkataan Gia, pria itupun bingung harus berbuat apa.


" Lalu bagaimana itu? Atau dia ikut denganmu saja? Pria itu memberi ide.


" Sepertinya harus begitu. Tidak mungkin saya tinggalkan dia sendiri disini.! ucap Gia kasihan.


" Kalau gitu mari saya antar kalian! ajak pria itu.


Akhirnya Gia menuruti perkataan pria itu.


Gia mengikuti langkah pria itu menuju parkiran.


Bocah imut itu berjalan sambil memegang tangan kanannya Gia. Tidak ada rasa takut dalam dirinya. Seakan-akan dia percaya sepenuh hatinya kepada Gia. Mereka seolah-olah sudah saling mengenal begitu lama.


Pria itu sangat senang melihat keakraban Gia dengan bocah imut itu. Bahkan diam-diam ekor matanya melirik ke arah Gia. Ada sesuatu dalam diri Gia yang menarik perhatiannya.


Kelembutan dan sikap bersahaja dalam diri Gia memberikan suatu kesan yang cukup istimewa terhadap pria itu.


Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dimana dia pernah bertemu dengan Gia?


Gia dan bocah imut itu masuk terlebih dahulu disusul oleh pria itu. Pria itu tersenyum sendiri melihat Gia yang memilih duduk di bangku belakang. Seolah-olah dia adalah sopir pribadi gadis itu.


" Rumah kamu dimana? Tanya pria itu.


Gia mengambil ponselnya lalu menunjukkan alamat rumahnya kepada pria itu.


Pria itu mengerutkan keningnya. Alamat rumah gadis ini sangat familiar dalam otaknya. Iya, bukankah itu juga alamat rumahnya? Hanya beda nomor dan blok saja. Wah, kok bisa-bisanya mereka tinggal dalam satu kompleks tapi tidak saling mengetahui.


" Ini beneran alamat rumah kamu? Tanya pria itu untuk meyakinkan dirinya.


" Iya, itu alamat rumah orang tua saya! jawab Gia dengan polosnya.


" Kamu baru pindah ke sini ya? Tanyanya penuh keingintahuan.


" Hemm, baru beberapa bulan! jawab Gia.


" Ouh, pantas saja!


" Emang kenapa? Tanya Gia balik.

__ADS_1


" Saya juga tinggal di alamat ini. Kita satu kompleks.!


Gia menganggukkan kepalanya.


Karena sudah tahu alamat yang dituju tanpa banyak pertanyaan lagi pria itu segera melajukan mobilnya.


Bocah imut itu sepertinya kelelahan hingga akhirnya dia tertidur dengan pulasnya. Gia membelai lembut rambut bocah itu dan memberikan rasa nyaman dan aman.


Dan sekarang dalam benak Gia adalah bagaimana dia akan menjelaskan kepada keluarganya siapa bocah itu dan darimana dia berasal?


Pria itu menghentikan miliknya tepat di depan rumah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Gia. Heran bercampur bingung. Pria itu hampir saja tidak percaya jika rumah yang ada dihadapannya sekarang adalah rumah gadis itu.


Rumah itu begitu besar dan megah, dan para penghuni di kompleks perumahan itu adalah golongan menengah ke atas. Apalagi di kawasan blok rumah Gia mereka adalah orang-orang kaya, konglomerat atau istilah jaman now digelar sultan.


Pria itu tidak menyangka jika Gia adalah penghuni di kompleks itu melihat gaya fashion dan penampilannya yang sederhana seperti rakyat biasa pada umumnya.


"Atau dia hanya sekedar pembantu di rumah itu? Tapi gadis secantik dia jadi pembantu rasanya sayang sekali!


Gia pun turun dari dalam mobil, sambil menggendong bocah imut itu dalam pelukannya.


" Terima kasih ya, sudah mengantar kami. Maaf kalau merepotkan! ucap Gia dengan kepolosannya.


" Eh tidak papa, itu sudah tanggung jawab saya! jawabnya sedikit segan. Gadis itu malah minta maaf padahal dia tidak berbuat salah.


Seorang Petugas keamanan menyambut Gia di gerbang rumah.


" Selamat siang Nona.! sapa security itu dengan hormat. Gia pun membalasnya dengan menundukkan badannya sebagai bentuk rasa sopan dan hormat. Tak lupa menjawabnya.


" Selamat siang pak!


Pria itu pun sedikit yakin jika Gia memang putri pemilik rumah itu. Meski Gia seorang putri kaya raya namun penampilannya selalu terlihat sederhana.


Karena begitulah Bundanya selalu mendidiknya sejak dari kecil. Pendidikan karakter adalah yang utama dilakukan untuk membentuk karakter yang baik pada diri seorang anak sejak dini, agar kelak menjadi manusia yang berahklak, berattitude, mempunyai sopan santun.


Pria itu semakin bertambah kagum dan rasa suka dalam hatinya tiba-tiba tumbuh dan membuatnya jatuh hati pada pandangan yang pertama.


Pria itupun segera berlalu dari halaman rumah itu dan karena rumahnya tidak jauh lagi maka dia memutuskan untuk pulang saja.


Dalam perjalanan yang singkat itu pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah Gia. Dan tiba-tiba memorinya menghadirkan sosok Gia dalam benaknya. Sosok Gia dalam balutan busana pantai dengan dahi yang kesakitan karena terbentur bola.


Pria itu sadar jika Gia adalah gadis yang sama yang ditemuinya di pantai waktu itu.


" Ahhh..... ternyata dunia ini begitu kecil.! Ucapnya dalam benaknya. Mereka berdua ternyata pernah bertemu tanpa sengaja. Dan kini mereka dipertemukan lagi. Apakah ini yang dinamakan jodoh? Tapi yang pasti semua itu telah direncanakan oleh semesta.


Pria itu tersenyum. Tersenyum sambil memikirkan sesuatu.


Rencana apakah yang sedang terekam dalam benaknya sekarang? Hanya dia dan Tuhannya yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2