
Grego memandang tubuh Eva yang terbaring tak berdaya dengan berbagai macam peralatan medis yang melekat disekujur tubuhnya dari luar dinding kaca ruang ICU. Dokter yang mengoperasi Eva mengatakan terjadi pendarahan hebat di kepalanya akibat benturan yang sangat keras, sehingga mengakibatkan koma pada pasien. Polisi yang menangani kasus tersebut juga menyampaikan jika pelaku tabrak lari sedang dicari oleh pihak yang berwajib. Untung pada saat kejadian ada beberapa saksi mata yang menyaksikannya dan CCTV di lokasi kejadian juga sedang diperiksa. Pihak yang berwajib berjanji akan segera menangani kasus ini.
Tanpa terasa tetes bening dari bola mata indahnya menetes membasahi wajah tampannya itu. Dia tidak lagi memikirkan imejnya. Hatinya terasa perih dan sakit. Melihat Eva yang terbaring lemah tak berdaya. Rasanya bibirnya kelu tak mampu untuk mengungkapkan sepatah katapun. Hanya air mata yang menjadi tanda betapa dirinya menderita saat ini.
Ditinggalkannya Eva disana meski hatinya tidak ingin. Karena Gio masih membutuhkannya. Dengan langkah gontai Grego kembali ke kamar tempat Gio dirawat. Sesampainya di kamar rawat Gio, Grego juga tidak dapat menahan sedihnya. Jawaban apa yang akan diberikannya kepada Gio jika seandainya anak itu bertanya tentang Bundanya itu.
Ditatapnya Gio yang terbaring dengan pandangan yang kosong. Lalu didekatinya dan dibelainya rambut hitamnya dengan penuh kasih sayang. Entah cobaan apa yang sedang Tuhan berikan kepadanya? Tapi mengapa Gio dan Eva yang harus mengalami penderitaan dan sakit?
Dokter mengatakan kepadanya jika Gio mengalami trauma psikis akibat menyaksikan peristiwa yang mengerikan langsung dihadapannya dan korbannya adalah Bundanya sendiri. Kejadian tersebut membuat kejiwaannya Gio menjadi terganggu .
Tapi tiba-tiba saja Gio berteriak keras sambil memanggil Bundanya dan langsung terduduk. Napasnya terengah-engah seperti baru saja lomba lari.
__ADS_1
" Ada apa sayang! Tanya Grego panik karena takut terjadi sesuatu kepada Gio.
Gio tidak menjawab. Langsung dipeluknya bocah malang itu kedalam pelukannya. Memberikan rasa nyaman dan hangat.
Dengan suara keras dan kencang Gio memanggil nama Bundanya.
" Bunda... Bunda.... Bunda....!!
Grego mencoba menenangkan Gio. Memberinya rasa aman dan nyaman agar tidak teringat kembali dengan peristiwa naas itu. Memang tidak segampang itu tapi setidaknya Grego harus tetap berusaha.
Grego pun menemui dokter untuk berkonsultasi mengenai kondisi Gio. Dia akan melakukan apapun demi orang-orang yang dicintainya itu. Bahkan dia tidak akan melepaskan mereka yang telah melakukan perbuatan buruk ini kepada mereka. Meski polisi telah menangani kasus ini, Grego tetap saja belum puas. Maka dia mengambil tindakan diam-diam. Disewanya detective swasta dan bodyguard untuk mencari si pelaku sampai dapat agar dia bisa menginterogasi para pelaku dan menghukum mereka setimpal dengan perbuatan mereka. Hati Grego kini sedang diselimuti oleh amarah yang membara. Rasanya untuk tersenyum pun begitu sulit baginya. Bahkan Grego seakan membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Eva dan Gio. Harusnya dia bersikeras melarang Eva untuk pergi menjemput Gio dengan menggunakan bus hari ini. Harusnya dia menemani mereka. Namun semua sudah terjadi.? Sebesar apapun rasa penyesalan tidak akan bisa mengulang kembali. Apa yang sudah terjadi, terjadilah.
__ADS_1
Di sebuah tempat lain. .....
Joe merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Ada rasa sakit dan perih yang tidak dapat diungkapkan. Menandakan jika sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tapi dia tidak tahu apakah gerangan yang sedang terjadi.
Hanya hatinya saja yang bisa merasakan. Sesuatu yang buruk. Lalu kilas bayangan Eva melintas dipikirkannya. Mungkinkah sesuatu yang buruk terjadi kepada gadis itu?
Dibuangnya jauh-jauh pikiran buruk tentang Eva. Meski bibirnya pernah berkata jika dia membencinya tapi hatinya masih saja menyimpan rasa. Bahkan dia sama sekali tidak pernah berharap hal buruk akan menimpanya.
Hatinya pun tiba-tiba merindu, merindu pada wanita pujaan hatinya itu. Wanita yang sudah menjadi milik orang lain.
Dipejamkannya kedua kelopak matanya dan dibayangkannya Eva berdiri dihadapannya sekarang. Dengan penuh kepercayaan dan keberanian diteriakkannya nama Eva. Agar hatinya puas dan tenang. Dicobanya untuk tersenyum menikmati khayalannya.
__ADS_1
Ah... Cinta memang bisa membuat pelakunya kehilangan logika.