
Eva sedang bersantai seorang diri di taman rumah mereka. Meski kakinya sudah bisa digerakkan dan sudah mampu melangkah dengan perlahan-lahan, Grego mengingatkannya untuk tetap menggunakan kursi rodanya. Apalagi jika dia sedang tidak berada di rumah.
Dan Eva sebagai istri yang baik dengan patuh menuruti perintah suaminya itu. Sembari menikmati udara sejuk dan keindahan taman, Eva terlihat begitu serius membaca sebuah novel ditangannya.
Gio masih disekolah dan Grego sibuk di kantor.
Hanya ditemani oleh salah seorang perawat, tapi Eva lebih memilih untuk mandiri tanpa bantuan perawat.
Dan tiba-tiba Grego sudah muncul dihadapannya dengan satu buket mawar merah ditangannya.
" Selamat siang sayang. " sapanya mesra lalu diciumnya bibir seksi itu.
" Mas Greg..... kok tumben jam segini sudah pulang? tanya Eva sedikit terkejut melihat suaminya itu tiba-tiba sudah muncul dihadapannya. Dengan buket mawar merah cantik ditangannya.
" Apa aku tidak boleh melihat istriku yang cantik ini? Karena aku sangat merindukannya! ucap Grego dengan manisnya. Sambil dirangkulnya Eva dari belakang.
Eva hanya tersenyum bahagia melihat tingkah suaminya yang begitu menggemaskan baginya.
" Sekarang kan belum waktunya jam makan siang, tapi kok kamu sudah pulang Mas?
" Sayang, yang boss di perusahaan itu kan saya. Siapa yang bisa melarang saya pulang ke rumah untuk melihat istriku yang sedang sendirian ini hah? ucapnya dengan sikap yang sedikit menyombongkan diri.
" Iya tahu, kamu itu pimpinannya, tapi kan karyawan-karyawannya mas kan pasti belajar dari pemimpinnya. Jika pemimpinnya saja tidak disiplin nanti karyawannya jadi ikutan tidak disiplin loh?! ucap Eva lagi.
Grego semakin memeluk Eva dengan erat dan manja. Dia senang dengan cara berpikir yang dimiliki oleh Eva. Sekalipun kini statusnya sudah menjadi seorang nyonya besar dan istri dari seorang pemimpin sebuah perusahaan besar tidak serta merta membuatnya sombong atau tinggi hati. Dia tetap menjadi Eva yang dulu. Perempuan yang lembut,sederhana, rendah hati, baik, keibuan dan murah hati.
" Nanti siang aku ikut jemput Gio ke sekolah ya Mas? pinta Eva penuh harap.
__ADS_1
Grego mengulum bibirnya, seolah-olah sedang berpikir untuk memutuskan Eva boleh ikut atau tidak. Kemudian Grego tersenyum manis.
" Tentu boleh dong sayang. Nanti kita jemput Gio sama-sama ya! jawab Grego membuat Eva bahagia.
Eva pun mencium pipi suaminya itu dengan mesra dan rasa sayang yang tulus.
Siang yang dinanti pun tiba. Eva sudah duduk manis di kursi depan disamping Grego yang mengemudi. Untuk yang pertama kalinya dia menikmati suasana diluar rumah setelah dia baru siuman dari komanya.
Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah, Grego membantu Eva turun dari mobil dan memapahnya berjalan memasuki halaman sekolah dan menunggu Gio di ruang tunggu sekolah.
Namun ternyata, Joe sudah ada disana. Dia sedang bersama dengan Gio berdua di ruang tunggu sekolah.
" Gio! panggil Eva.
Gio langsung menoleh ke arahnya. Mengetahui sang Bunda yang memanggilnya Gio pun senang dan girang sekali.
" Kamu udah lama ya keluar dari kelasnya? tanya Eva.
"Baru kok Bunda. Tadi om Joe datang cepat untuk jemput Gio pulang. Ternyata Bunda datang juga jemput aku! Gio berkata dengan bahagianya.
" Iya sayang. Tadi Ayah yang jemput Bundanya, karena Bunda sudah lama tidak kesekolah Gio. Jadi Bunda kangen pengen jemput Gio seperti dulu. " ucap Eva dengan antusiasnya.
Grego juga tersenyum bahagia. Namun hatinya sedikit bertanya-tanya, kenapa Joe bisa ada disekolahnya Gio? Kalau memang untuk menjemput Gio, mengapa dia harus menjemput Gio tanpa memberitahukan Grego atau Eva. Meskipun dia mengenal dan dekat dengan Gio bukan berarti dia boleh bertindak sesuka hatinya. Walau bagaimanapun Gio masih punya Eva dan Grego.
Grego pun mendatangi Joe dan bertanya kepadanya, " Ada urusan apa kamu disini, dan lagi bersama dengan Gio? Joe pun menjawabnya, " Aku hanya ingin menjemput Gio karena aku pikir kamu sibuk bekerja dan Eva masih sakit.
" Terima kasih atas kepedulianmu kepada Joe. Tapi maaf, Gio itu anak saya dan Eva. Dan saya masih bisa menjaga dan merawat anak saya apalagi jika hanya untuk menjemputnya, saya masih bisa dan punya banyak waktu.! ucap Grego dengan dingin dan tegas.
__ADS_1
Joe hanya tersenyum dan tidak membalas ucapan Grego. Joe pun melangkah ke arah Eva dan Gio. Lalu dia berkata, " Aku senang kamu sudah sehat dan sudah bisa berjalan seperti sekarang ini."
Eva pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman demikian juga dengan Gio.
"Kalau begitu, aku pamit ya Va, Gio sudah bersama kalian sekarang." pamit Joe lalu meninggalkan mereka. Tak lupa dia melihat kepada Grego dan melayangkan senyumannya sebagai tanda dia hendak pergi.
Grego pun hanya memandang dengan tatapan biasa-biasa saja. Tapi dalam pikirannya masih tersimpan kecurigaannya terhadap Joe. Pasti Joe sedang merencanakan sesuatu. Dan apapun itu Grego tidak akan membiarkannya begitu saja.
Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan tempat itu. Bagi Gio hari ini sungguh istimewa karena Ayah dan Bundanya datang menjemputnya ke sekolah. Dan tidak ketinggalan om Joe yang juga datang untuknya. Dia bahagia karena berada bersama dengan orang-orang yang disayanginya.
Sedangkan Joe, setelah dari sekolah Gio, dia pergi ke suatu tempat menemui seseorang.
" Bagaimana dengan hasil penyelidikanmu? tanyanya kepada seorang pria yang sedang duduk dihadapannya saat ini.
" Anak buah saya baru saja menemukan petunjuk baru, kalau pelaku tabrak lari itu adalah suruhan seseorang. Dan orang yang menyuruh itu sepertinya dekat dengan anda." jawab pria itu dengan gaya misteriusnya.
" Orang yang dekat dengan saya? tanya Joe untuk memastikan apa yang didengarnya itu tidak salah.
Pria itu mengangguk membenarkan perkataannya.
Joe teringat kepada ibunya yang memang tidak menyukai Eva sejak dulu. Tapi tidak mungkin ibunya tega berbuat seperti itu. Meskipun wanita tua itu tidak menyukai Eva tapi dia tidak pernah bertindak hal-hal yang tidak wajar. Perkataannya memang keras dan buruk mengenai Eva.
Apa mungkin ada orang lain lagi yang dekat dengannya selain keluarganya? Karena hanya ibunya itu yang paling menentang keras hubungannya dengan Eva selama ini. Sedangkan anggota keluarganya yang lain bersikap netral atau biasa-biasa saja. Mereka cenderung ikut arus. Kemana air mengalir kesitu juga mereka akan ikut mengalir.
Joe mencoba berpikir lebih keras lagi. Mengingat-ingat siapa lagi yang sangat membenci hubungannya dengan Eva selama ini. Karena Joe tidak terlalu banyak bergaul dengan orang lain. Semakin berpikir dengan keras semakin dia tidak ingat siapa-siapa.
Tapi tiba-tiba saja bayangan seseorang melintas dalam pikirannya. Bayangan wajah seorang perempuan yang sangat dikenalnya. Yang dulu sangat dekat dengannya. Dan yang sangat jelas pernah menaruh hati kepadanya yang hingga saat ini masih menyimpan rasa cinta dihatinya untuk seorang Joe. Hanya untuk seorang Joe. Ya, perempuan itu.
__ADS_1