
Eva kini memulai harinya berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Dulu hanya dia berdua dengan Gio dan sekarang mereka tidak lagi berdua. Ada Grego yang telah menjadi bagian dari kehidupannya dengan Gio. Saat bangun tadi pagi Eva masih sedikit shock ketika melihat Grego ada tidur bersama-sama dengan mereka dalam satu tempat tidur. Meski sebelumnya mereka sudah tidur bersama di kamar hotel setelah pesta resepsi pernikahan. Dia hampir lupa jika dirinya sekarang sudah resmi menjadi istri Grego dan menyandang status sebagai Nyonya Pratama. Nama keluarga Pratama kini harus melekat bersama namanya.
Dan pastinya demikian juga dengan Gio. Namanya kini sudah masuk dalam daftar keluarga Pratama.
Eva memulai kesibukannya untuk pertama kalinya sebagai seorang istri dari seorang pria konglomerat yang diawali pagi ini dengan memasak sarapan pagi untuk putra dan suaminya itu. Rasanya sedikit berbeda tapi memberinya semangat baru untuk menikmati hari ini agar menjadikannya lebih bermakna. Rumah yang begitu besar dan luas membuat Eva sedikit bingung dengan ruangan-ruangan yang begitu banyak. Untuk ke dapur saja tadi dia hampir saja tersesat karena tidak tahu. Dapur saja ada dua ruangan. Dapur kering dan dapur basah dengan ruangan yang begitu luas.
Eva melihat isi kulkas, masih banyak bahan makan di dalam kulkas. Buah dan sayur melengkapi isi di dalam kulkas. Pagi ini dia hanya akan menyiapkan roti bakar, susu dan salad buah. Untungnya Gio sudah terbiasa dengan menu makanan ala-ala eropa. Sehingga tidak akan merepotkan Bundanya itu. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Grego dan Gio ternyata juga sudah bangun dan sedang membersihkan diri mereka berdua di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Eva yang sudah kembali ke kamar yang juga ingin membersihkan dirinya melihat betapa akrabnya kedua pria itu. Bersama-sama mereka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang sama-sama juga melilit dipinggang mereka. Melihat Bundanya yang berdiri terpaku disana Gio pun berkata, " Bunda, kenapa Bunda melihat kami begitu?
Mendengar perkataan Gio, Eva langsung berbalik kebelakang. " Maaf sayang, Bunda tidak sengaja.! balasnya.
Sedangkan Grego hanya tersenyum saja melihat tingkah dan kelakuan kedua insan dihapannya itu.
Tapi Gio malah membalas dengan menjawab, "Gio kan sudah besar ayah, Gio bukan anak kecil lagi. Gio juga punya ruang pribadi sendiri dong ayah." Mendengar ucapan Gio, Eva pun tak kuasa menahan tawanya.
__ADS_1
" Baiklah putra Bunda yang sudah dewasa." balas Eva memberi semangat kepada putranya.
Di tempat lain.
Aletta sedang menunggu bus menuju ke kantornya. Biasanya dia diantar oleh suami atau diantar oleh sepupunya itu. Saat sedang menunggu seorang lelaki berpakaian serba hitam mendekatinya dan memberikan secarik kertas putih ke tangannya. Aletta tentu saja merasa terkejut. Hampir saja dia hendak berteriak. Untungnya orang tersebut langsung menghilang dari tempat itu.
Aletta ingin segera membaca isi dari surat tersebut namun karena di halte masih ramai dengan para penumpang, diurungkannya niatnya itu dan dimasukkannya kertas itu kedalam tasnya. Entah siapa orang tersebut. Tak juga dikenalnya. Dan entah pesan apa pula yang tertulis didalam surat tersebut.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian bus trans pun sudah datang dan berhenti tepat di depan pintu halte. Aletta segera masuk kedalam bus mencari tempat duduk yang nyaman untuknya. Rasa penasarannya dipendamnya dulu didalam hatinya. Bus melaju membelah jalanan ibu kota membawa anak-anak manusia melakukan pekerjaan-pekerjaan mereka demi sesuap nasi dan sejengkal perut ini.