
Setelah lewat 1 x 24 jam, Grego melapor kepada yang berwajib. Dan dengan segera mereka bertindak. Mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari informasi keberadaan Eva. Tentu saja para polisi itu segera bertindak jika tidak Grego akan bertindak di luar batas. Karena walau bagaimanapun Grego termasuk orang penting dan terkenal di kota itu. Dengan segala kekuatan dan kemampuan yang mereka miliki dikerahkan sepenuhnya demi menemukan jejak dimana Eva berada saat ini. Dan mencari tahu siapa yang menjadi dalang pelaku penyebab hilangnya Sang Nyonya. Karena jelas-jelas ini adalah tindakan kriminal penculikan.
Namun sebesar apapun usaha dan upaya yang dilakukan tak mampu menemukan jejak keberadaan Eva. Sudah lewat beberapa hari belum ada tanda-tanda dimana Eva disembunyikan. Entah orang hebat mana yang mampu menyembunyikan Eva tanpa diketahui oleh siapapun. Seakan-akan ada kekuatan magis yang mampu mengaburkan pandangan mereka dari jejak-jejak hilangnya Eva.
Grego sangat frustasi sekali. Gio pun tak henti-hentinya merengek-rengek ingin ikut mencari Bundanya itu. Gio tak bisa berdiam diri saja di rumah hanya menunggu dan menunggu. Dengan pemikirannya uangnya dewasa, dia merasa bahwa dia juga bertanggung jawab untuk menemukan sang Bunda.
Sebagai seorang anak laki-laki seharusnya dia yang harus melindungi Bundanya itu dari orang-orang jahat yang ingin mencelakakan Bunda tercintanya itu.
Saat Grego sedang duduk dengan wajah kusutnya, matanya yang lelah karena tidak istirahat sama sekali semenjak Eva menghilang, Gio mendatangi Ayahnya itu lalu duduk disampingnya.
" Ayah, ayah harus istirahat. Jika ayah sakit nanti siapa yang menemani Gio mencari Bunda!? ucap Gio dengan sikap dewasanya.
Grego memandang Gio dengan tatapan sendu. Lalu dipeluknya anak kesayangannya itu.
" Maafkan ayah, tidak bisa menjaga dan melindungi Bunda dengan baik! ucapnya dengan berurai air mata.
Gio pun membalas pelukan hangat Ayahnya itu. Pundaknya yang kekar dan tegar tidak bisa menutupi hatinya yang lemah karena rasa sakit kehilangan kekasih jiwanya.
Gio seakan memberi dukungan semangat dan kekuatan kepada sang Ayah agar tetap tegar dan percaya bahwa wanita yang sangat mereka cintai itu akan kembali lagi kepada mereka.
__ADS_1
Berbagai upaya dan cara telah dilakukan. Para detektif terkenal dan orang-orang yang berkompeten dibidangnya telah dikerahkannya. Namun Tuhan berkehendak lain. Eva tak jua diketemukan. Tapi Grego dan Gio tak henti berharap jika Eva pasti akan diketemukan. Bukannya menyerah dan berputus asa, tetapi selalu percaya Tuhan tidak akan membuat putrinya itu menderita. Wanita sebaik Eva, wanita yang berhati lembut dan suci takkan dibiarkan dalam penderitaan oleh Tuhan.
Grego pun membuka lemari yang berisi barang-barang Eva. Melihatnya kerinduannya terobati walau hanya untuk sejenak. Barang-barang yang ada disana tidak dijamahnya sama sekali. Dibiarkannya tetap sama, dengan keyakinan bahwa istrinya itu akan pulang dan memakai kembali barang-barang tersebut.
Tangannya seakan-akan digerakkan oleh sesuatu. Dibukanya laci meja hias yang di dalamnya berisi perlengkapan make up sang istri. Tidak terlalu banyak memang karena istrinya tersebut tidak terlalu gemar menggunakan make up. Jika dia butuh dia akan pergi langsung ke salon. Dari pada membeli mahal-mahal tetapi tidak digunakan sama sekali.
Ketika laci itu dibuka nampak sebuah amplop coklat didalamnya. Diraihnya amplop itu dan dibukanya. Sebuah surat keterangan dari dokter di sebuah rumah sakit. Dan satu benda kecil yang diketahuinya adalah alat test kehamilan.
Diperhatikannya di alat tersebut terdapat dua garis biru. Yang artinya tanda positive. Tapi Grego tidak tahu itu milik siapa. Lalu dibacanya kertas putih tertulis nama Nyonya Eva. Di keterangannya mengatakan jika Eva sedang hamil 1 bulan.
Dan betapa terkejutnya Grego. Bahkan sangat terkejut. Ternyata saat ini Eva sedang hamil. Dan pastinya itu adalah anaknya. Buah hati cinta mereka berdua.
Grego tidak tahu harus bagaimana melampiaskan perasaannya. Bahagiakah atau harus bersedih.
Dia tidak hanya kehilangan satu orang tetapi dia telah kehilangan dua orang sekaligus. Dan itu benar-benar sangat menyedihkan baginya.
Tapi kenapa Eva tidak memberitahukannya tentang kehamilannya? Ataukah istrinya itu ingin memberi kejutan kepadanya?
Kejutan belum terungkap yang ada Grego malah diberi kejutan yang menyakitkan. Eva menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
Diremasnya kertas putih itu dengan sekuat tenaga. Perih yang tak tertahankan menghujam hatinya. Luka itu semakin dalam dan berdarah.
Bagai tikaman pisau mengena di jantungnya. Yang membuatnya mungkin hampir mati.
Bukan hampir mati lagi. Kini dia bagai mayat hidup. Hanya raganya yang masih bernyawa tetapi hati dan perasaannya telah mati. Hanya karena demi seorang Gio dia harus bertahan hidup.
Cobaan apa yang sedang dihadapinya saat ini. Sedang bermainkah Tuhan dengan dirinya saat ini? Tetapi permainan ini sungguh sangat tidak menyenangkan. Bagaimana lagi dia akan menjalani kehidupan ini tanpa sang belahan jiwanya?
Gio yang mengintip Ayahnya dari balik pintu tanpa bersuara tetapi kedua matanya tiada hentinya meneteskan air mata. Luka dan perih yang dialami oleh bocah baik itu tiada bedanya dengan apa yang dirasakan oleh sang ayah.
Hanya saja dia berusaha untuk tetap tegar dihadapan sang Ayah. Dia merasa sebagai seorang laki-laki harus kuat tidak boleh cengeng apalagi dihadapan orang lain.
Dia harus bisa menjadi seseorang yang kuat untuk menjaga Ayahnya. Karena dia tahu sang Ayah yang begitu terpuruk dan bahkan tak punya semangat hidup lagi. Dihapusnya air matanya. Dihembuskannya napasnya. Ditegarkannya dirinya sendiri, karena hanya dialah harapan Ayahnya satu-satunya.
Ditinggalkannya Ayahnya sendiri di dalam kamar. Membiarkannya untuk sendiri melepaskan beban berat dalam pundaknya. Dia tidak ingin Ayahnya semakin sedih karena menangis dihadapan anak laki-lakinya.
Gio berjanji dalam hatinya, " Aku akan menjaga dan melindungimu Ayah. Ayah harus tetap hidup sampai Bunda kembali lagi! janjinya pada dirinya sendiri.
17 Tahun Kemudian.......
__ADS_1
Gio baru saja keluar dari kantornya. Gio, 22 Tahun pria manis dan tampan. Kulitnya yang kecoklatan, rambut ikal, wajah tirus dengan lesung pipi yang semakin menambah rasa manis dalam dirinya. Tubuhnya yang tinggi dan berotot mirip model. Sekilas nampak seperti pangeran-pangeran dari Arab tanpa kumis dan brewok. Dengan memakai jas biru gelap penampilannya begitu mempesona. Dia bekerja sebagai CEO menggantikan Ayahnya meski usianya masih terbilang sangat muda untuk menjabat sebagai seorang CEO.
Dengan langkah yang gagah Gio keluar dari kantor menuju mobilnya yang terparkir di luar gedung perusahan tersebut. Langkah yang gagah dan menawan.