
Grego dan Eva sedang duduk sembari menikmati quality time dengan secangkir teh melati. Anak-anak sudah semakin dewasa, waktu mereka sudah semakin jarang di rumah. Tidak hanya sibuk dengan kuliah, pekerjaan dan teman. Ada ada saja kesibukan mereka yang membuat waktu mereka semakin sedikit untuk bisa berkumpul bersama.
Namun Gio maupun Gia selalu berusaha mencari waktu bisa berkumpul bersama keluarga. Sesibuk apapun kegiatan mereka, berkumpul bersama keluarga adalah hal yang sangat penting. Karena keluarga adalah tempat mereka untuk saling bercerita, berbagi pengalaman, saling menguatkan dan memberi dukungan di saat yang paling dibutuhkan.
Bersama keluarga kita bisa mencurahkan segala keluh kesah, suka duka, impian serta harapan. Keluarga adalah pendukung setia yang akan selalu memberi kita semangat dan motivasi agar kita tetap setia dan tidak mudah putus asa. Meski ada juga beberapa keluarga yang tidak perduli dengan anggota keluarganya yang lain.
" Sayang, tidak kah kamu merasa kesepian kalau Gia dan Gio tidak ada di rumah? tanya Grego.
" Sejujurnya aku merasa sedikit kesepian. Apalagi jika kalian semua sibuk dengan pekerjaan dan lupa kalau masih ada seseorang di rumah ini! jawab Eva sambil tersenyum menyindir sang suami.
" Maaf sayang. Kita bukan lupa tapi memang sedang fokus saja dengan pekerjaan. Kamu mengerti kan kalau saat sedang fokus itu pikiran pasti hanya tertuju dengan pekerjaan kita. Tapi yang tersayang pasti selalu ada di hati.! ucap Grego.
" Ya sayang, istrimu ini selalu mengerti dan selalu percaya. Kalian adalah hidupku.!
Grego menatap Eva dengan lembut dan penuh cinta. Disentuhnya wajah istrinya itu dan di belainya dengan mesra.
" Sayang, apa kamu tidak berkeinginan punya anak lagi? tanya Grego tiba-tiba membuat Eva sedikit kaget.
" Sayang, apa kamu tidak salah bicara atau sedang bercanda? Eva mencoba mengingatkan suaminya itu.
" Tidak sayang, aku tidak sedang bercanda! jawab Grego dengan wajah seriusnya.
" Sayang, kita ini sudah tua, bagaimana mungkin bisa punya anak lagi. Lagi pula, belum tentu Gia dan Gio setuju.! jawab Eva dengan polosnya.
" Sayang, kita ingin punya anak lagi bukan berarti kamu harus melahirkan anak lagi kan. Kita bisa adopsi anak di panti asuhan.!
Eva terharu mendengar perkataan Grego. Hati suaminya itu memang baik dan lembut.
" Emangnya sayang siap jadi ayah lagi, mengurus anak kecil? Eva mencoba meyakinkan suaminya itu.
" Tentu saja sayang. Lagi pula aku selalu ingin menjadi ayah yang sempurna yang menjaga dan mendidik anak-anaknya layaknya seorang ayah. Karena aku merasa kalau diriku belum jadi ayah yang baik. Gio dan Gia tumbuh tanpa kasih sayang yang sempurna dari diriku. Itu hal yang sedikit aku sesali dalam hidupku! Grego mengenang masa lalu mereka yang dulu kurang menyenangkan.
Eva pun menggenggam hangat tangan suaminya itu. Memberinya rasa nyaman dan dukungan seolah mengingatkan agar tidak menyalahkan diri karena kejadian di masa lalu. Karena memang itu bukanlah kesalahannya.
__ADS_1
" Sayang, jangan menyalahkan diri sendiri. Masa lalu hanyalah sebagian kisah pemanis kehidupan kita. Dan semua yang terjadi bukanlah karena keinginan dari kita. Tapi mungkin kehidupan sedang menempa hidup kita untuk lebih kuat dan lebih berpengharapan.! nasehat bijak Eva. Sudah seperti motivator saja yang memberikan peneguhan kepada Grego. Dan Grego merasa lebih tenang dan optimis lagi.
" Jadi bagaimana sayang? Kamu setuju kan kita mengadopsi anak lagi?
Eva membesarkan bola matanya. Tak disangkanya suaminya itu benar-benar serius mengungkapkan keinginan hatinya itu.
" Sayang kamu serius pengen punya anak lagi? tanya Eva meyakinkan apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.
" Kalau sayang setuju ya aku mau. Tapi kalau sayang keberatan aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin melihat sayang bahagia. Tidak ada yang lain.! ucap Grego dengan jujur.
" Kebahagiaanku itu adalah keluarga kita sayang. Tapi tidak ada salahnya jika kita juga berbagi kebahagiaan dengan orang lain! ujar Eva.
Eva menatap lembut dan hangat suami tercintanya itu. Grego pun membalasnya dengan cinta dan kehangatan yang sangat besar.
" Jadi, kapan kita pergi melihat anak kita yang baru? tanya Grego dengan spontan. Dan Eva pun menanggapinya dengan serius.
" Terserah sayang kapan kita mengunjunginya! Eva sangat tahu jika suaminya itu memang merindukan kehadiran sosok anak kecil di tengah keluarga mereka. Mungkin sudah selayaknya jika mereka mempunyai cucu - cucu di dalam rumah mereka. Hanya saja mereka tidak mau memaksakan keinginan dan kerinduan hati kepada Gia maupun Gio untuk segera menikah. Apalagi kedua anaknya itu belum ada tanda-tanda keinginan untuk menemukan pasangan hidup. Mereka sepertinya masih ingin menikmati masa-masa muda alih - alih untuk menikah dan berkeluarga.
" Gimana kalau besok? Aku akan sampaikan sama Gio kalau kita ada urusan.! ucap Grego bersemangat.
" Tapi kita harus memberitahu Gia dan Gio sebelum kita benar-benar mengadopsi seorang anak. Bagaimanapun kita harus mendengarkan pendapat mereka juga. Iya kan sayang? ujar Eva.
Grego membalas dengan anggukan meyakinkan. Benar kata isterinya itu. Gio dan Gia berhak untuk mengetahuinya dan mereka berhak untuk mengungkapkan keinginan hati mereka. Setuju atau menolak keinginan kedua orang tuanya itu untuk mengadopsi seorang anak lagi.
Dan ketika mereka sedang asyik berdiskusi muncul Gia dan Gio bersamaan. Apakah mereka sama-sama pulang atau hanya kebetulan bertemu di depan rumah.
" Ayah, Bunda.! panggil Gia. Tak lupa cipika-cipiki kedua orang tersayangnya itu. Sedangkan Gio dengan senyuman lebar menyapa Ayah dan Bunda yang sangat dikaguminya itu.
" Kok bisa bareng pulangnya? Gia di jemput sama kakak Gio ya? tanya Bunda Eva.
" Kebetulan tadi ketemu kakak Gio di jalan Bunda.! jawab Gia. Eva mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Kebetulan anak-anak Ayah dan Bunda sudah pulang. Ada sesuatu yang Ayah dan Bunda mau diskusikan! Grego langsung memulai pembicaraan yang telah mereka bicarakan tadi.
__ADS_1
Gio dan Gia langsung mengambil tempat yang nyaman. Mereka penasaran apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tua mereka itu.
" Hemmm.. begini...! Grego memulai pembicaraan sebagai kepala keluarga.
" Ayah dan Bunda punya rencana untuk menambah anggota keluarga di rumah kita?
Gio dan Gia terlihat bingung mendengar maksud dari perkataan Ayah Grego. Eva pun menyambung kembali.
" Ayah dan Bunda, berniat ingin punya anak lagi!
Tentu saja Gio dan Gia terkaget. Tiba-tiba saja kedua orang tua mereka itu menyampaikan sesuatu hal yang tidak pernah mereka bayangkan sedikitpun.
" Maksudnya gimana Bunda? tanya Gio meminta kejelasan. Gia turut mengangguk juga seakan meminta penjelasan.
" Ayah dan Bunda berencana ingin mengadopsi anak lagi! Ayah Grego membantu menjawab.
" Mengadopsi anak ? Kok tiba-tiba? tanya Gio.
" Iya sih, sebenarnya ini baru saja ayah dan Bunda bicarakan. Entah kenapa Ayah dan Bunda tiba-tiba ingin mengasuh anak bersama. Karena dulu Ayah dan Bunda tidak punya kesempatan untuk melakukannya bersama-sama.! wajah Grego menjadi sendu. Mengingat kembali masa lalu mereka yang cukup pahit.
Gia pun ikut terharu mendengar perkataan ayahnya itu. Gia teringat kembali masa masa kecilnya tanpa kehadiran sosok sang ayah disampingnya. Demikian juga dengan Gio. Kenangan masa kecilnya yang tidak menyenangkan kembali diingatnya. Melihat wajah kedua anaknya yang berubah mendung, Eva dan Grego menjadi merasa bersalah. Karena sebagai orang tua mereka tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak -anak mereka. Meski bukan karena keinginan hati mereka, tetap saja rasa bersalah itu selalu menghantui mereka.
Eva mendekap Gia dengan penuh kasih sayang. Dibelainya dengan penuh cinta. Rasa sesal dan bersalah melingkupinya hatinya saat ini. Lalu Grego melihat ke arah Gio.
" Tapi kalau kalian tidak setuju dengan rencana Ayah dan Bunda tentu saja kami akan menghargainya. Ayah dan Bunda juga hanya ingin melihat kalian bahagia dan memberikan yang terbaik untuk kalian. Tidak ada yang lain.! ucap Grego meyakinkan kedua kesayangannya itu.
Namun reaksi Gio selanjutnya berbeda dengan apa yang disangkakan dalam pikiran kedua orang tuanya itu. Gio malah tersenyum dengan bahagia.
" Gio malah turut senang mendengar rencana Ayah dan Bunda. Gio hanya tidak menyangka jika Ayah dan Bunda punya keinginan mulia seperti itu.! ucap Gio memberikan dukungan. Mendengar jawaban Gio, Grego terlihat senang dan gembira. Lalu diliriknya Gia. Menunggu apa pendapat dari putri cantiknya.
Melihat tatapan sang ayah, Gia membalas dengan senyum sumringah.
" Ayah dan Bunda memang the best. Gia bangga punya orang tua hebat seperti Ayah dan Bunda. Punya hati seluas samudera! puji Gia kepada Ayah dan Bundanya itu. Tentu saja Grego dan Eva sangat bahagia melihat reaksi kedua anaknya yang ternyata mendukung keinginan mereka tersebut.
__ADS_1
Dan yang terjadinya selanjutnya mereka saling berpelukan. Seperti keluarga Teletubbies yang mengungkapkan rasa sayang mereka dengan salah satu cara yaitu berpelukan. Satu hal yang mungkin menjadi kekuatan bagi keluarga Grego sehingga mereka selalu mendukung satu sama lain. Kekuatan cinta. Karena cinta yang begitu mendalam dan suci sehingga memberi mereka kekuatan untuk selalu mendukung satu sama lain. Seperti sekarang ini. Semua karena cinta.