
Gia dan Bunda Eva sedang duduk berdua di balkon sambil menikmati secangkir teh melati. Ibu dan putri itu menghabiskan waktu bersama yang sudah lama mereka tidak lakukan karena kesibukan masing-masing.
" Bagaimana kuliah kamu Gi! tanya Eva.
" Aman Bunda. Putri Bunda yang cantik ini akan selalu jadi Putri Bunda yang terbaik.! ucap Gia dengan manjanya.
" Tentu saja Gia adalah putri Bunda yang terbaik.! puji Eva.
" Bund, nanti malam Gia ijin keluar ya? rayu Gia pada bundanya itu.
"Mau pergi kemana? selidik Eva.
" Pergi sama teman Bunda! jawab Gia.
" Berdua? tanya Eva. Gia menjawab dengan anggukan sambil tersenyum malu-malu.
" Mau pergi kencan ya! tebak Eva dengan yakin.
" Hehehe..! Gia tersenyum simpul
" Cowok yang mana? tanya Eva penasaran.
" Bunda kenal kok.! jawab Gia dengan masih sikap malu-malunya.
" Keponakannya Tante Via ya? tebak Eva.
Mata Gia menjawab dengan senyuman manisnya.
" Kalian pacaran ya? Tanya Eva lagi untuk meyakinkan.
" Nggk pacaran sih Bund. Lagi dekat doang! jawab Gia malu-malu. Berbicara tentang asmara memang lumayan menggemaskan.
" Menurut Bunda sih, anaknya lumayan baik. Tapi kamu harus beritahu Ayahmu jika kalian memutuskan untuk pacaran. Kamu tahu kan Ayahmu sangat sensitif soal teman pria yang dekat dengan kamu! ucap Eva mengingatkan Gia.
" Iya Bunda. Gia tahu kok. Tapi Gia yakin kalau Ayah tidak akan melarangnya.! ucap Gia dengan yakin.
" Nanti minta tolong kakak mu Gio untuk mengantar kamu! ujar Eva.
__ADS_1
" Nggak perlu diantar Bund. Nanti Gia dijemput kok. Masa mau kencan harus diantarin, kayak mau pergi ke kampus aja.! Eva tertawa mendengar perkataan Gia.
" Iya sayang. Bunda pikir kalian janjian ketemuan di luar. Bagus jugalah kalau dia jemput kamu, sekalian Bunda kan bisa lihat langsung pria yang sudah berani merebut hati putri Bunda yang paling cantik ini! puji Eva membuat pipi Gia bersemu merah.
Pukul 5 tepat, Kevin datang menjemput Gia untuk kencan pertama mereka. Setelah sekian lama baru kali ini Kevin memberanikan dirinya mengajak Gia berkencan dengannya. Setelah beberapa lama dia masih menyimpan keraguan karena berbagai masalah yang sedang terjadi dan mengingat kenangan masa lalu yang tidak cukup menyenangkan. Namun Kevin tidak mau menyimpan terus perasaannya karena hal itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Kevin pun sudah siap menerima konsekuensinya jika dia harus berkata jujur tentang perasaannya.
Bunyi bel pintu terdengar, Gia yang sudah menebak jika itu pasti Kevin segera bergegas membukakan pintu untuk Kevin.
" Sore Gi.! sapa Kevin setelah melihat wajah manis Gia.
"Sore Vin, yuuk masuk! ajak Gia. Kevin masuk dengan perasaan yang berdebar-debar. Karena ini adalah kencan resmi pertama mereka tentu saja ada perasaan yang berbeda di hatinya.
" Duduk sebentar ya Vin, aku pamit sama Bunda dulu.! ucap Gia dan Kevin menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Beberapa menit kemudian Gia muncul dengan Bundanya Eva. Kevin langsung bangkit berdiri dan memberi salam kepada Eva.
" Selamat sore Tante. Apa kabar?
" Selamat sore. Tante kabar baik. Terima kasih! balas Eva dengan keibuannya.
" Tante, Kevin mohon ijin boleh nggak ajak Gia jalan keluar malam ini? ucap Kevin meminta ijin dari Eva. Sebenarnya jantung Kevin berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Tapi dengan sekuat tenaga Kevin memberanikan dirinya untuk lebih percaya diri.
"Terima kasih Tante! Kevin tersenyum lega. Tak sesulit yang dipikirkannya. Hatinya lebih tenang dan santai sekarang.
" Bund, Gia dan Kevin berangkat ya. Jangan lupa Bunda beritahu Ayah kalau Gia pergi makan malam! ucapnya dengan senyuman manis dan manjanya itu.
" Iya sayang nanti Bunda pasti beritahu ayah kamu. Kalau tidak ayahmu bisa murka putrinya hilang dari rumah.! ucap Eva bercanda.
Kevin dan Gia tertawa mendengar ucapan Bunda Eva.
" Pamit ya Bunda!
"Pamit ya Tante!
Keduanya pamit lalu pergi berkencan ke tempat yang sudah di pilih oleh Kevin sebelumnya.
" Hati-hati di jalan ya. Jaga putri Bunda dengan baik ya! pesan Eva kepada Kevin/
__ADS_1
" Siap Tante! jawab Kevin.
Eva melepas kepergian kedua remaja itu untuk pergi berkencan. Wajahnya tersenyum melihat kebahagiaan kedua anak muda itu.
Tak lama kemudian Gio yang baru keluar dari kamarnya mencari keberadaan Gia. Melihat sang Bunda sendirian, Gio pun bertanya,
" Bunda, Gia dimana, Gio nggk lihat dari tadi?
" Lagi pergi sama pacarnya kencan! jawab Eva dengan santainya.
" Oh.! jawab Gio yang belum sadar sepenuhnya. Lalu otaknya yang mulai berpikir mengagetkan dirinya señdiri.
" Apa Bunda tadi bilang. Kencan dengan pacarnya? tanya ulang Gio untuk memastikan jika yang didengarnya barusan tidak salah.
" Sejak kapan Gia punya pacar? tanya Gio dalam benaknya.
" Pacarnya yang mana Bund? Gia kan belum punya pacar? tanya Gio meyakinkan dirinya.
"Tadi pacarnya sendiri yang jemput. Terus pamit sama Bunda!
Mendengar perkataan sang Bunda Gio penuh dengan tanda tanya siapa gerangan pria yang dimaksud oleh Bundanya itu.
" Gia beri tahu Bunda nggk perginya kemana? Selidik Gio yang sangat penasaran dengan pria yang beraninya mengajak adik kesayangan itu keluar malam-malam.
" Gia hanya bilang mau makan malam doang, tapi nggk beri tahu tempatnya dimana! jawab Bundanya itu. Gio yang tidak puas terus berusaha untuk mengorek informasi dari sang Bunda.
" Cowoknya Gia juga nggk beritahu Bunda ya?
" Nggak juga. Bunda juga lupa bertanya.!
Gio yang tak punya bayangan sama sekali siapa pria yang diceritakan oleh sang Bunda hanya bisa menebak-nebak. Mungkin saja salah satu teman kuliahnya Gia yang selama ini dekat dengan Gia tapi Gia tidak pernah bercerita kepadanya. Padahal selama ini Gia selalu terbuka kepadanya. Apapun yang dialaminya selalu diceritakannya kepada Gio. Tapi kenapa masalah yang satu ini Gia tidak cerita sama sekali.
Gio pun pamit pergi keluar pada sang Bunda dengan alasan ingin cari udara segar sekaligus nongkrong dengan teman-temannya. Padahal dalam hatinya Gio ingin mencari tahu keberadaan sang adik tercinta. Rasa penasarannya yang tinggi membuatnya tidak bisa hanya menunggu saja di dalam kamarnya.
Gio langsung mengendarai mobilnya pergi mencari sang adik meski tidak tahu kemana harus mencarinya.
Jalan satu-satunya hanyalah berkeliling kota siapa tahu tanpa sengaja mereka bisa bertemu. Gio akhirnya mengitari kota sendirian seperti seseorang yang sedang mencari miliknya yang hilang tapi tidak tahu hilang dimana. Setelah cukup lama mengitari perkotaan Gio pun merasa lelah sekaligus lapar.
__ADS_1
Gio pun memutuskan untuk berhenti sejenak mencari tempat makan sekedar mengisi perut yang keroncongan. Gio menghentikan kendaraannya tepat di depan sebuah restaurant. Setelah memarkirkan kendaraannya Gio pun masuk ke dalam restaurant. Gio duduk di kursi yang terletak di salah satu sudut ruangan di restaurant itu. Gio lalu memesan makanan favoritnya untuk membayar rasa lapar dalam perutnya. Sembari menunggu pesanan datang, Gio mengamat-amati sekitarnya. Berharap ada orang yang bersedia membantunya.