
Setelah selesai teleponan dan mendapatkan informasi yang tidak ia harapkan, maka Meliani pun meninggalkan ruangan VIP untuk meninggalkan rumah sakit itu ketika dia menghentikan langkahnya saat hendak memasuki lift.
Saat itu dia melihat Andi keluar dari sebuah kamar VIP lalu pria itu pun berlari ke arah ruangan perawat.
Maka perempuan itu bersembunyi di sebuah vas bunga yang terletak di koridor rumah sakit itu dan melihat Andi terburu-buru mengambil sesuatu dari perawat sebelum berlari masuk ke ruangan perawatan VIP tempat pria itu keluar.
'Kenapa pria itu ada di sana?' ucap Meliani dalam hati yang begitu penasaran Siapa yang dirawat di ruangan VIP tersebut sehingga Andi keluar masuk dari ruangan tersebut.
Perempuan itu baru saja akan pergi untuk menanyakannya kepada perawat ketika dia menghentikan langkahnya saat melihat sekretaris Ayah Andi yang keluar dari dalam lift, lalu pria itu pun pergi menuju kamar VIP tempat Andi baru saja masuk.
"Bahkan sekretaris ayahnya juga masuk ke sana, Kalau begitu, ada seseorang yang menghuni ruangan itu yang memiliki hubungan dekat dengan Andi," ucap Meliani segera keluar dari tempat persembunyiannya, lalu perempuan itu pun pergi menuju ruangan para perawat untuk menanyakan identitas pasien pada kamar tersebut.
"Permisi," ucap Meliani pada salah seorang perawat yang berjaga di sana.
__ADS_1
"Ya, ada yang bisa kami bantu?" Tanya perawat tersebut sembari menatap Meliani.
"Aku ingin mengetahui nama pasien yang ada di kamar VVIP nomor 11," ucap Meliani pada sang perawat yang ada di hadapannya.
"Ahh,, Maaf sekali, tapi kami tidak boleh memberitahukan informasi itu pada siapapun," jawab sampai rawat yang memang mendapat perintah dari Andi bahwa tidak ada satupun orang yang boleh mengetahui siapa penghuni kamar nomor 11.
Kan itu membuat Meliani mengatup erat-erat giginya lalu perempuan itu meminjamkan matanya beberapa detik sebelum dia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam tasnya.
Setelah itu, dia meletakkannya di atas meja, "Siapa yang ada di sana?" Tanya Meliani.
Meski begitu, Meliani tidak tinggal diam kau sama dia langsung menghubungi temannya yang ada di rumah sakit itu untuk mengetahui nama pasien yang ada di kamar nomor 11.
Saat mendapatkan informasinya perempuan itu tercengang di tempatnya karena tidak menyangka bahwa ternyata penghuninya ialah Liliana.
__ADS_1
'Dasar,, lihat saja apa yang akan kulakukan!!!' geram Meliana segera meninggalkan rumah sakit itu dengan perasaan marahnya.
Sementara di dalam kamar perawatan, Andi membantu Liliana mengupas apel yang disediakan untuk perempuan itu.
Pria itu bahkan tidak peduli dengan Candra yang saat itu duduk di sofa sembari menunggunya, pria itu tetap fokus mengupas apelnya untuk diberikan pada Liliana.
"Itu, sebaiknya kau berbicara dulu dengan sekretaris, mengupas apelnya bisa nanti saja," ucap Liliana yang merasa tidak enak pada sekretaris canda yang sedari tadi sudah duduk di sofa sembari menunggu Andi selesai mengubah buah apel.
"Sebentar lagi, lagi pula Apa yang kamu bicarakan tidak terlalu mendesak," jawab Andi terus mengupas apel di tangannya hingga membuat Liliana menghela nafas namun dia tidak mengatakan apapun lagi.
Dia hanya terdiam di tempatnya sampai tiba-tiba saja sebuah panggilan video dari seseorang membuat perempuan itu melototkan matanya.
"Ini,, Ibu melakukan panggilan video padaku," kata Liliana yang kini menjadi panik tentang apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Kalau itu panggilan biasa, maka dia bisa berbohong tentang keberadaannya, tetapi panggilan video, dia tidak mungkin bisa membohongi ibunya.