
"Bukankah kau akan mendapat hukuman yang berat jika kau menggunakan masalah kemarin untuk melaporkanku?!" Ungkap Andi yang kini memegangi rambut Liliana.0l
🤭🤭🤭
Wajah Liliyana menjadi sangat merah, dan keringat memenuhi keningnya serta ketakutan memenuhi seluruh dirinya menatap pria yang ada di atasnya.
"Itu,, itu,, itu,, kemarin malam itu saya sedang mabuk, jadi salah bapak sendiri yang pergi berurusan dengan perempuan mabuk. Sehingga--"
"Hm,?! Sehingga kau akan masuk penjara dengan alasan mabuk di area kantor dan menyerang atasannya?!" Tanya Andi sembari menurunkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Liliana.
Pria itu bisa melihat raut wajah ketakutan Liliana, Tetapi dia tidak memperdulikannya dan dia hanya berkata, "kalau kau tidak mau masuk penjara karena masalah kemarin, maka sebaiknya mulai hari ini kau harus mengikuti semua perintahku!! Lagi pula, aku sudah mengambil rekaman CCTV kamera pengawas ketika kau melompat ke arahku dan mengambil sesuatu yang berharga bagiku!!
"Dan aku bisa membuatmu dipecat karena Ibu sedang kemarin malam sehingga bukan hanya masuk penjara karena melakukan pelecehan, tetapi kau juga akan masuk ke penjara karena tidak mampu membayar hutangmu di perusahaan.
"Oh ya, aku juga tahu kalau di perusahaan kau Sudah menandatangani bahwa kau akan terus bekerja ke perusahaan selama beberapa tahun ke depan dan kalau kau sampai mengundurkan diri atau membuat kekacauan di perusahaan, maka secara otomatis kau akan menanggung akibat dari kesalahanmu itu!"
__ADS_1
Ucapan pria itu benar-benar membuat Liliana semakin ketakutan sehingga Dia meneteskan air matanya dan tidak dapat lagi berkata apa-apa serta tubuhnya menjadi sangat kaku saat pria yang ada di atasnya semakin menurunkan tubuhnya lalu mendapatkan tubuh Liliana serta bibir perempuan itu.
Lian Liliana yang merasakan sentuhan pria itu hanya bisa meneteskan air matanya dalam rasa kakunya Karena dia benar-benar ketakutan menghadapi pria yang terus menekannya dan mengancamnya. Tidak ada sedikitpun perlawanan dari Liliana sebab Dia seperti tikus yang di pojokkan, tidak ada lagi jalan keluar baginya.
Ekspresi perempuan di bawahnya benar-benar membuat Andi merasa puas hingga pria yang sudah mencium bibir Liliana itu kemudian turun dari tubuh Liliana dan berkata, "cepat ikuti Aku sebelum kesabaranku habis!"
Liliana yang mendengar itu kini menangis histeris, tetapi tangannya dengan spontan melepaskan sabuk pengamannya dan dengan gemetar dia keluar dari mobil pria itu lalu mengikuti manajernya ke arah lift.
Sembari berdiri dalam lift yang naik ke lantai atas, Liliana yang ketakutan berusaha mengeluarkan ponselnya, dan dia kemudian mengirim pesan pada ibunya bahwa dia tidak dapat pulang pada malam hari itu.
Andi yang membaca itu tersenyum tipis sembari berkata, "kau mengirim pesan seperti itu pada keluargamu, itu artinya malam ini kau akan tidur di tempatku? Memang perempuan yang menarik!"
Andi yang mendengarkan itu tidak mengatakan apapun, tetapi dia hanya berdiri dengan tenang sampai akhirnya lift mereka berdenting.
Ting!
__ADS_1
Andi keluar dari dalam lift, dengan Liliana yang mengikuti pria itu hingga mereka masuk ke sebuah apartemen yang membuat Liliana terkejut bahwa ternyata apartemen pria itu sangatlah mewah.
"Duduklah," ucap Andi meninggalkan perempuan itu menuju lantai atas.
Sementara Liliyana, dia akhirnya duduk di sofa dan sambil terisak perempuan itu berusaha terus menyekah air matanya dan menenangkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Beberapa saat hanya sendirian di sofa, akhirnya ia mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya lalu dia mengangkat wajahnya dan melihat Andi yang datang membawa paper bag.
"Pergilah mandi dan gunakan ini," ucap pria itu meletakkan paper bag di atas meja.
Liliana yang melihat itu kini menggelengkan kepalanya, "tidak perlu, aku tidak ada niat untuk mandi," ucap Liliana.
Andi kembali lagi tersenyum dengan, lalu dia kemudian duduk di depan Liliana sembari memperhatikan Liliana dengan seksama.
Meski Liliana berusaha menghindari tatapannya dengan cara tertunduk, tetapi Andi jelas bisa melihat bahwa perempuan itu sangat takut padanya.
__ADS_1
"Kau tidak mau mandi, tapi aku yang ingin kau mandi! Jadi sebelum kau membuatku marah, cepat pergi mandi di kamar lantai 2!!!" Perintah Andi dengan nada suara yang begitu dingin hingga membuat Liliyana yang meneteskan air matanya mau tidak mau Akhirnya berdiri lalu dia kemudian mengambil paper bag di atas meja dan pergi ke lantai 2.
Sembari naik tangga, Liliana terus menangis, namun meski dia menangis dia juga berusaha menahan isakannya supaya tidak terdengar oleh pria yang ada di lantai bawah.