Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
133


__ADS_3

Pada siang hari saat jam makan siang, Andi yang berada di rumahnya merasa tidak bisa untuk makan sedikitpun Karena rasa bersemangatnya yang terlalu tinggi.


Hal itu membuat Zaskia mengerutkan keningnya menatap putranya, "Kau ini kenapa? Cepatlah makan, beberapa jam lagi kita akan berangkat ke rumah Liliana, kalau kau tidak makan, nanti bisa jatuh pingsan di acara pernikahanmu dan merepotkan semua orang!!" Gerutu Zaskia yang jelas tahu bahwa sedari pagi pria itu bahkan belum makan apa-apa dan hanya mondar-mandir di dalam rumah.


Andi yang dibicarai oleh ibunya langsung menghela nafas, lalu pria itu berkata, "ibu, aku benar-benar tidak bisa untuk makan, aku sudah tidak sabar untuk pergi ke rumah Liliana. Tidak bisakah kita pergi sekarang?"


Zaskia yang mendengarkan ucapan putranya kini menggelengkan kepalanya, lalu perempuan itu pun berdiri sembari bertolak pinggang menatap putranya.


"Kau ini, benar-benar tidak sabaran, kalau kau sudah tidak sabar untuk bertemu Liliana, tatap saja fotonya, itu bisa meredakan sedikit kerinduanmu!" Ucap Zaskia sembari berjalan keluar dari kamar Andi meninggalkan Andi yang saat itu menghela nafas.


Dia sangat ingin menelpon Liliana dan berbicara dengan perempuan itu, dan akan lebih bagus lagi Jika mereka bisa melakukan panggilan video.


Tetapi yang membuatnya semakin kesal bahwa ponselnya juga disita oleh ayahnya, juga, ponsel Liliana sudah diambil oleh Ayah perempuan itu sehingga mereka benar-benar tidak bisa berhubungan.


"Hah,, Kenapa orang tua begitu ribet?" Gerutu Andi sembari menggertakan giginya dan dia benar-benar tidak sabar lagi untuk bertemu dengan calon istrinya.

__ADS_1


Pria itu terus berada dalam kegelisahannya menatap ke arah jam tangannya sampai kemudian Hakim memasuki kamar Andi.


"Kenapa kau terus di kamar?" Tanya Hakim menghampiri Andi, dan dia menggelengkan kepalanya saat dia melihat makanan yang ada di atas meja sama sekali belum disentuh oleh Andi.


"Kau ini!!!" Hakim menghela nafas melihat putranya yang saat itu terus menatap jam tangannya hingga pria itu tidak mendengarkannya, "kau belum makan dari pagi, bahkan minum air saja kalau tidak mau, Lalu bagaimana nanti di acara resepsi pernikahan? Kau mau jadi pengantin yang pingsan di acara pernikahannya sendiri?!!" Gerutu Hakim pada putranya.


Andi pun mengangkat wajahnya menatap ayahnya, lalu pria itu berkata, "ayah,, Aku berusaha untuk makan, tetapi aku tidak bisa, aku baru bisa makan kalau aku sudah bertemu dengan Liliana!!! Hah,,, Aku sangat merindukan Liliana, sudah berapa lama kami tidak bertemu, dan sekarang juga tidak bisa menelponnya!!!" Gerutu Andi yang merasa bahwa apa yang dilakukan oleh orang tua mereka benar-benar sebuah kejahatan murni, bisa-bisanya memisahkan pasangan yang saling mencintai.


Hakim hanya bisa tersenyum melihat kelakuan putranya, putranya benar-benar menyukai Liliana sampai-sampai kini terlihat begitu konyol.


"Bagaimana kalau kau menggunakan ponsel Ayah untuk menelpon Liliana? Karena saat ini ponsel mu diambil lagi oleh ibumu," ucap Hakim sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celananya hingga membuat Andi menatap ayahnya dengan sorot mata berbinar-binar.


"Makan dulu sebelum mengambil ponsel ini, ayah akan melihatmu Di sini!!!" Tegas Hakim langsung membuat Andi mengerutkan keningnya.


Meski begitu, karena dia sudah terlalu merindukan Liliana, maka pria itu dengan cepat mengambil makanan yang ada di atas meja dan melahapnya.

__ADS_1


Hakim yang memperhatikan sikap putranya benar-benar tersenyum konyol dengan tingkah pria itu, dia tidak tahu bahwa suatu saat putranya yang selalu dingin dan kaku serta memiliki keras kepala yang tinggi ternyata akan bertingkah seperti itu hanya demi seorang perempuan yang dicintainya.


Meski begitu, Hakim tidak mengatakan apapun dan hanya dia menatap putranya sampai semua makanan yang ada di atas meja dihabiskan oleh pria itu.


Glek glek glek...


Andi menghabiskan 1 gelas air putih lalu dia menatap ayahnya sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel dari ayahnya.


"Sekarang berikan aku ponselnya," ucap Andi langsung membuat Hakim menyerahkan ponselnya pada putranya.


Andi merasa sangat senang, dia langsung membuka kontak pada ponsel itu dan hendak melakukan panggilan telepon ketika dia mengerutkan keningnya bahwa di ponsel itu tidak ada SIM card.


"Ayah?!!" Gerutu Andi menatap ayahnya sembari memperhatikan layar ponsel.


"Ahhh,, Ayah lupa, ibumu juga mengambil kartu ponsel ayah," jawab Hakim benar-benar membuat Andi kini terdiam di tempatnya dan tak mampu berkata apapun lagi.

__ADS_1


Ayahnya sedang mengerjainya!


Padahal WiFi juga di cabut oleh ibunya!!!


__ADS_2