
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Liliana tersenyum melihat penelpon adalah Andi hingga perempuan itu dengan cepat mengangkat panggilan teleponnya.
Begitu video call tersebut terhubung, maka Liliyana langsung melihat Andi berada di kantor dan pria itu terlihat tampan dalam setelan pakaian kantornya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Andi dari seberang telepon langsung membuat Liliana semakin melebarkan senyuman di wajahnya.
"Aku baik, dan aku sangat senang, hari ini Aliana akhirnya memanggilku ibu," jawab Liliana tanpa bisa mencegah dirinya untuk mengekspresikan kebahagiaannya.
"Benarkah? Kalau begitu bagus sekali, aku turut senang dia sudah mulai memanggilmu ibu dan sebentar lagi akan memanggilku ayah," kata Andi benar-benar membuat Liliana tertawa kecil.
"Iya, sebentar lagi kita menikah," ucap Liliana yang saat ini merasakan kebahagiaan berlipat-lipat ganda karena hal-hal baik yang terjadi padanya.
"Ya,, Aku tidak sabar untuk menikah denganmu, tapi di mana Aliana?" Tanya Andi bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka oleh Aliana.
Maka Liliana langsung mengubah setelan kameranya dari kamera depan menjadi kamera belakang hingga menyorot Aliana yang masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan yang berisi segelas air putih.
"Anak yang manis," ucap Andi sembari tersenyum menatap Aliana yang semakin mendekat ke arah kamera lalu gadis kecil itu pun terlihat memberikan air putih pada Liliana.
__ADS_1
Namun saat itu, Andi mengerutkan keningnya ketika dia memperhatikan bahwa mata gadis kecil itu tampak sembab.
Oleh sebab itu, Andi pun bertanya, katanya, "Kenapa wajahmu terlihat sembab? Apa kau baru saja menangis?"
Pertanyaan Andi langsung membuat Liliana menyerahkan ponselnya pada Aliana sementara perempuan itu meneguk air putih yang dibawakan oleh anak gadisnya.
"Ya, aku harus menangis, Aku benar-benar menyesal karena sudah membuat Ibu jatuh saat dia mencariku di taman," jawab Aliana dengan nada suara yang begitu sedih sembari melirik ke arah ibunya.
Sementara Liliana yang mendengarkan ucapan Aliana, perempuan itu langsung menghentikan acara minumnya karena lupa untuk memberitahu Aliana agar gadis kecil itu tidak membicarakan tentang lukanya.
Tetapi sudah terlambat, Andi yang ada di seberang telepon dengan cepat berkata, "ibumu terluka?"
Aliana mengangguk dengan pelan, lalu gadis kecil itu mengembali menatap ibunya sembari berkata, "maaf Bu, Apakah luka ibu sakit?"
"Tapi tadi Kakek bilang kalau kaki Ibu dijahit," ucap Aliana sembari menoleh ke arah kaki ibunya hingga membuat pria yang ada di seberang telepon segera menutup panggilan telepon itu.
Andi yang merasa sangat cemas langsung meninggalkan kantornya dan mengemudikan mobilnya menuju kediaman Liliana.
Luka yang harus dijahit pastilah sangat parah, jadi pria itu merasa bahwa dia tidak perlu lagi mengikuti aturan orang tuanya untuk tidak bertemu dengan Liliana sampai pernikahan mereka digelar, karena yang paling penting sekarang dia harus memastikan keadaan perempuan itu baik-baik saja.
Begitu tiba di rumah Liliana, Andi langsung membunyikan klakson di depan pintu gerbang.
__ADS_1
Bipp!!!!!
Bipp!!!!!
Beberapa saat setelah membunyikan klakson, Andi melihat Dika keluar dari rumah hingga pria itu pun turun dari mobilnya dan berjalan ke depan gerbang rumah untuk berbicara dengan Dika.
"Ayah," ucap Andi.
"Kenapa kau kemari? Bukankah sudah diputuskan Kalau kalian tidak akan bertemu sampai acara pernikahannya?" Tanya Dika dengan wajah herannya menatap pria yang ada di seberang gerbang rumahnya.
"Liliana terluka, jadi aku kemari untuk memastikan keadaannya, bolehkah Ayah memungkinkan aku untuk masuk??" Tanya Andi dengan suara yang begitu cemas membuat Dika menghela nafas.
Dia tidak tahu dari mana pria itu mengetahui bahwa Liliana terluka, Tetapi dia tetap menggelengkan kepalanya, "dia baik-baik saja, kami menjaganya dengan baik, jadi Kau tidak perlu khawatir. Pernikahannya tinggal beberapa hari lagi, jadi bersabarlah sebentar, kalian akan segera bertemu!!!" Tegas Dika.
Andi menggelengkan kepalanya, "Tapi Ayah, aku benar-benar merasa khawatir, biarkan aku melihatnya satu menit saj--"
"Tidak!" Sela Dika, "kembalilah, Aya tidak akan membukakanmu pintu meskipun Kau memohon di situ!!!" Tegas Dika sembari berbalik meninggalkan calon menantunya.
Andi yang melihat ayah mertuanya benar-benar tidak mau membukakan pintu hanya bisa menghela nafas, lalu dia berdiri di tempatnya dengan tatapan tertuju ke jendela kamar Liliana.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar," ucap Andi yang tak mau beranjak sedikitpun.
__ADS_1
Sementara di balik jendela yang ditutup oleh Andi, Liliana berdiri dengan bantuan tongkat sembari memperhatikan pria yang ada di gerbang, perempuan itu tersenyum melihat kepedulian Andi terhadapnya.