
Buk!
Liliana meletakkan tumpukan terakhir lalu mengambil buku catatan miliknya dan menggerakkan pena di atas buku catatan itu lalu meregangkan punggungnya.
"Akhirnya," ucap Liliana merasa sangat senang karena setelah perjuangannya satu hari satu malam tanpa tidur maka dia menyelesaikan pekerjaan di gudang meski sekarang dia kini kesakitan di sekujur tubuhnya.
"Sekarang aku harus pulang dan tidur beberapa jam sebelum kembali ke kantor untuk bekerja!" Ucap Liliana sembari membawa catatannya lalu pergi mengambil tasnya dan dia keluar dari gudang untuk kembali ke rumah.
Tetapi perempuan itu menghentikan langkahnya di depan pintu gudang ketika dia melihat sebuah jam dinding yang diletakkan di hadapannya menunjukkan pukul 9.00
"Liliana!" Ucap Angga yang kini berjalan menghampiri Liliana hingga membuat Liliana menoleh ke arah pria itu dan melihat bahwa wajah Angga ialah wajah yang kurang tidur.
Perempuan itu terdiam di tempatnya lalu beberapa saat kemudian dia berkata, "Apakah jam ini mati? Masakan Sekarang sudah jam 09.00?"
__ADS_1
Angga menoleh ke arah jam dinding lalu dia menganggukkan kepalanya, "hm, jam itu memang mati, sebab Sekarang sudah jam 10 pagi." Ucap Angga benar-benar membuat Liliana tertegun dengan kebodohan yang ia lakukan.
"Jadi maksudmu aku sudah tidak punya waktu untuk kembali ke rumah beristirahat sebentar lalu kembali lagi ke kantor?" Tanya Liliana.
Dengan berat hati, Angga menganggukkan kepalanya, tetapi pria itu kemudian mengambil buku catatan dari tangan Liliana sembari berkata, "benar sekali, dan sekarang manajer memanggilmu ke ruangannya. Ahh,, masalah catatan ini kau tidak perlu khawatir, karena aku akan membereskannya untukmu."
Setelah berbicara, Angga menepuk dua kali pundak perempuan itu untuk memberinya semangat lalu berbalik pergi meninggalkan Liliana yang masih tertegun di tempatnya.
Belakangnya serasa ingin patah, kakinya terasa begitu ngilu dan rasa lapar memenuhi perutnya, Namun sayang sekali bahwa dia belum bisa beristirahat.
Tok tok tok.
"Masuk," jawab seorang pria dari seberang pintu yang mana suara itu terdengar begitu familiar di telinga Liliana, namun meski begitu suara itu lebih dingin dari suara yang selalu ia kenang di dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1
Meski begitu, Liliana tetap membuka pintu ruangan lalu dia masuk ke dalam ruangan melihat Andi yang duduk dengan tenang sembari menatap layar komputernya.
"Bapak memanggil saya?" Tanya Liliana sembari berdiri dengan tangan terkekal kuat sebab dia terlalu marah pada pria di depannya, pria itu memiliki wajah dan nama yang sama dengan pria yang ia cintai, tetapi pria itu memiliki sifat yang begitu bejat dan terlebih lagi, dia benar-benar kesal ketika dia mengingat malam di mana dia tidur bersama pria itu.
Meski saat itu dialah yang memaksa pria itu tidur dengannya, tetapi saat itu dia berada dalam kondisi tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol, jadi seharusnya pria itu menolak dirinya dan tidak membiarkan hal buruk terjadi.
Namun yang membuatnya marah bahwa pria itu malah memanfaatkan hal tersebut untuk menodainya dan sekarang Liliana teringat bahwa dia belum meminum obat pencegahan kehamilan.
'Apa yang sudah kulakukan?' ucap Liliana dalam hati sembari memandangi jam kecil yang terletak di atas meja atasannya.
Perempuan itu menghitung dalam hati sebelum wajahnya menjadi pucat pasi setelah mengingat bahwa tidak ada gunanya lagi jika sekarang dia memakan obat penunda kehamilan itu.
Maka apa yang terjadi pada 5 tahun yang lalu akan kembali ia alami sehingga membuatnya merasa begitu linglung dan pandangannya menjadi gelap menatap pria yang sedari tadi terus terdiam di hadapannya tanpa memperdulikannya yang berbicara pada pria itu.
__ADS_1
Pandangan yang gelap itu langsung mencuri kesadaran Liliana hingga akhirnya dia tidak menyadari lagi ketika tubuhnya terjatuh ke lantai menimbulkan suara yang cukup keras.
Buk!