
Setelah 3 menit, Liliana benar-benar tidak melakukan apapun pada berkas yang ada di tangannya, sebab Dia yang memeriksa berkas itu melihat bahwa berkas itu telah tersusun sebagaimana mestinya dan tidak ada lagi yang perlu ia koreksi.
Maka sambil menghela nafas, perempuan itu kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu manager untuk membawa berkas itu pada Andi.
Jantungnya berdegup amat kencang dan Dia merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk lagi karena dia sama sekali tidak menyentuh berkas itu.
Sementara orang-orang yang ada di ruangan, mereka menatap punggung Liliana yang saat itu sedang mengetuk pintu dan mereka sangat kasihan pada perempuan itu.
Tok tok tok...
"Masuk," suara yang dingin dari dalam ruangan membuat Liliyana menahan nafasnya lalu dia kemudian membuka pintu ruangan tersebut.
Begitu pintu terbuka, Liliana bisa melihat seorang pria yang duduk di meja kerjanya menunggu kedatangan Liliana.
Liliana masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya lalu dia kemudian mendekati Andi.
__ADS_1
Sembari menahan rasa takut dan gugupnya, Liliana kemudian berkata, "berkas ini tidak saya apa-apakan lagi, karena saya pikir pengerjaannya sudah sangat bagus dan tidak perlu dikoreksi lagi."
Andi yang mendengarkan itu hanya tersenyum miring lalu dia mengambil berkas dari tangan Liliana dan melemparkannya ke atas meja dengan tangan yang lain terulur kepingin Liliana dan menarik perempuan itu kepelukannya.
Buk!
Liliana yang menabrak dada bidang pria itu sangat terkejut, sehingga dengan spontan kedua tangannya berusaha mendorong tubuh Andi supaya menjauh darinya.
Tetapi Andi yang merasakan itu tidak mengatakan apapun namun tangannya telur menjepit dagu Liliana dan memaksa perempuan itu mengangkat wajahnya menatapnya.
Dia sangat ingin berteriak minta tolong, tetapi entah kenapa dia tidak bisa melakukan itu, dia seperti disihir oleh Andi sehingga dia terus terdiam membiarkan pria itu melakukan apapun terhadap tubuhnya.
Namun setelah beberapa saat sampai pakaian Liliana sudah berantakan, perempuan itu akhirnya tidak bisa menahan diri dan dia mendesah.
"Ahh!"
__ADS_1
******* itu langsung membuat Andi membungkam mulut perempuan itu.
Andi menurunkan kepalanya tepat di belakang leher Liliana dan mencium leher perempuan itu sebelum berkata, "nikmati saja dan jangan mengeluarkan suara."
Liliana yang mendengarkan itu memejamkan matanya, dan entah kenapa dalam hatinya dia membayangkan bahwa saat ini dia sedang bersama dengan Andi, pria yang sangat ia cintai.
Maka sampai beberapa menit kemudian, Liliana terus menahan suaranya sampai Andi menjauh darinya.
Pria itu pergi ke toilet yang ada di dalam ruangannya membereskan pakaiannya, sementara Liliana juga dengan cepat menarik tisu yang tersedia di ruangan itu lalu membersihkan dirinya dan merapikan pakaiannya.
"Apa yang telah kulakukan?" Liliana meneteskan air matanya, namun dengan cepat dia menyekah air mata itu dan berusaha bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Saat itu juga, Andi sudah keluar dari toilet, dan pria itu tanpa aba-aba langsung memeluk Liliana dari belakang hingga mengejutkan Liliana.
Sebuah ciuman juga di daratkan di bibir Liliana membuat Liliana semakin merasa hancur di dalam hatinya sebab dia sama sekali tidak bisa mengelak dari apapun yang dilakukan oleh pria yang bersamanya.
__ADS_1
"Aku sangat menyukaimu. Kau boleh keluar sekarang," ucap Andi sembari melepaskan pelukannya pada Liliana lalu pria itu berjalan ke arah meja kerjanya dengan Liliana yang masih terpaku di tempatnya.