
"Fuhhh..... Fuhhh..... Fuhh....." Aliana meniup bara api pada panggangan yang ada di hadapannya.
Gadis kecil itu bersama-sama dengan dua orang dewasa yang menemaninya sedang memanggang daging dan sayur-sayuran.
"Tidak perlu meniup seperti itu, gunakan ini," ucap Andi sembari memberikan sebuah kipas mini portable pada gadis kecil itu.
"Wahh,, menggunakan ini jadi lebih mudah, tidak perlu kehabisan nafas lagi!!!" Ucap Aliana yang saat itu sangat senang.
Sementara Liliana yang ada di sana, perempuan itu duduk sembari membolak-balik daging yang ada di atas panggangan dan Andi bertugas untuk menyusun makanan pada meja kecil yang akan menjadi tempat mereka untuk makan malam.
Setelah beberapa saat terus mengipas, Aliana kemudian menatap Liliana sembari berkata, "kakak, pria itu sangat hebat, dia bisa menyediakan semua ini hanya dalam waktu sebentar saja. Aku jadi senang!!"
Liliana yang mendengarkan ucapan gadis kecil yang bersama dengannya kini merasa begitu marah dan kesal dalam hatinya, tetapi perempuan itu tetap menunjukkan sebuah senyum di wajahnya sebab Dia tidak ingin menghancurkan hati gadis kecil yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Sudah cukup dia membohongi gadis kecil itu dengan sebuah sandiwara yang begitu besar, jadi dia tidak ingin lebih banyak membuat gadis kecil itu bersedih jika harus mengatakan hal-hal yang menyakiti hatinya.
"Lain kali kita bisa menginap di sini berdua saja,, ahh,, nanti kalau kau menginginkan sesuatu, jangan lupa mengatakannya pada kakak, kakak pasti berusaha untuk mengabulkan semua keinginanmu!!!" Ucap Liliana langsung membuat mata Aliana menjadi membulat sempurna dan merasa begitu bahagia.
Dengan suara yang begitu keras, Aliana kemudian berseru, "hore!!! Kalau begitu aku ingin kita pergi ke taman bermain bersama dengan Kakak Andi!!!"
Ucapan gadis kecil itu langsung membuat Liliana menatap ke arah Andi dan dia melihat bahwa Andi mendengarkan percakapan mereka hingga Dia merasa menyesal atas ucapannya yang tadi keluar dari mulutnya.
"Kalau begitu, lain kali kita pergi bersama-sama!" Ucap Andi langsung membuat Aliana kembali bersorak kegirangan dengan Liliana yang ada di tempat itu mengeapal kuat tangannya.
Dia juga tidak ingin Andi menggunakan Aliana sebagai alat untuk memperdayanya, namun sekarang dia tidak bisa berkata apa-apa sebab Dia berada dalam posisi yang serba salah.
"Kak Andi, kapan Kakak libur supaya kita bisa pergi ke taman bermain?" Tanya Aliana yang begitu antusias untuk pergi berjalan-jalan ke taman bermain, sebab semenjak mereka berada di ibukota, Dia jarang sekali keluar rumah sebab semua orang sibuk bekerja.
__ADS_1
Karena Tiara juga menjalankan sebuah bisnis yang dikerjakan dari rumah sehingga perempuan itu hanya berada di rumah bersama-sama dengan Aliana.
"Hm,, akan ku beritahu nanti saat aku mendapat kesempatan untuk libur," ucap Andi sembari berjalan mendekat ke arah Aliana lalu pria itu kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana.
"Kalau begitu, bisakah kita bertukar nomor telepon supaya nanti kakak lebih mudah memberitahukannya padaku?" Tanya Aliana seraya menatap Andi dengan mata berbinar-binarnya.
Liliana yang mendengarkan ucapan Aliana langsung menahan gadis kecil itu dengan berkata, "kau tidak boleh meminta nomor telepon seperti itu, karena--"
"Tentu saja boleh," ucap Andi menyela ucapan Liliana hingga membuat Liliana semakin kesal pada pria di depannya, namun Aliana bersorak kegirangan sembari gadis kecil itu langsung berlari menuju tenda di mana barang-barang mereka yang dikirim melalui kurir telah diletakkan di sana.
Begitu Aliana pergi, maka Liliana langsung menatap pria di depannya yang mana Dia melihat bahwa pria itu tampaknya merasa tenang-tenang saja dan tidak ada sedikitpun rasa bersalah pada raut wajah pria itu.
"Kau sudah berjanji tidak akan mengganggu keluargaku asalkan aku menuruti semua keinginanmu, tapi kenapa sekarang kau mengingkari janjimu?" Tanya Liliana sembari menahan amarahnya dalam hati.
__ADS_1
"Hm, aku memang berjanji tidak akan menyentuh keluargamu, tetapi menyentuh dalam artian buruk. Tetapi kalau berinteraksi saja, aku rasa itu tidak ada salahnya lagi itulah aku tidak melukainya," ucap Andi dengan suara yang tenang benar-benar membuat Liliana merasa kesal.
Perempuan itu masih ingin berbicara ketika Aliana telah datang membawa ponsel gadis kecil itu sehingga Liliana hanya bisa diam di tempatnya dengan tatapan amarah ditujukan pada Andi.