
Sembari masuk ke dalam kamar, Aliana kemudian berkata, "aku sudah mengetuk-ngentuk pintu kamar mandinya dan juga berbicara pada Kakak, tapi kakak tidak menjawabku."
🧱🧱🧱
"Mungkin suara shower membuat kakakmu tidak mendengar suaramu," ucap Tiara.
Aliana mengganggu kan kepalanya, lalu dia melihat Tiara kemudian mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok...
"Sayang?" Ucap Tiara pada orang di dalam kamar mandi dengan Liliana yang ada di sana masih terus sibuk menggosok-gosok seluruh tubuhnya.
"Sayang, Apa kau baik-baik saja?" Kembali tanya Tiara dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya hingga membuat Liliana menghentikan gerakannya dan perempuan itu kemudian memandang ke arah pintu.
Ia meneteskan air matanya, tetapi air matanya itu segera bersatu dengan shower yang membasahi tubuhnya dari ujung kepalanya sampai ujung kakinya sehingga tidak kelihatan bahwa perempuan itu sedang menangis.
"Ya," Liliana mematikan showernya lalu menatap tubuhnya yang sudah kemerahan, "Aku baik-baik saja, aku akan keluar sebentar lagi," kata Liliana sembari memandangi tubuhnya di cermin dan perempuan itu merasa begitu jijik dengan tubuhnya.
"Baiklah, kami akan menunggumu di meja makan," ucap Tiara kemudian kemudian membawa pergi Alina dari kamar itu.
__ADS_1
"Kau mandinya di kamar ayah dan ibu saja," ucap Tiara langsung diangguki oleh Alina.
Sementara Liliyana, perempuan itu yang teringat akan rekaman di hp-nya kini keluar dari kamar mandi dan melihat bahwa kamarnya telah kosong sehingga dia cepat-cepat berganti pakaian.
Tanpa memperdulikan memar-memar pada tubuhnya, Liliana kemudian duduk di meja rias sembari mengambil ponselnya, lalu dia membuka rekaman yang kemarin sengaja ia rekam.
"Ini dia," ucap Liliana tersenyum sembari menekan tombol play pada rekaman itu.
Yang pertama yang ia dengar ialah percakapan saat mereka sedang makan, tetapi karena tidak sabaran ingin mendengarkan saat ketika dia berteriak meminta dilepaskan oleh Andi, maka perempuan itu langsung mempercepat rekamannya namun yang anehnya bahwa rekaman selanjutnya telah diganti oleh lagu-lagu.
"Apa ini? Kemarin tidak ada satupun lagu yang terputar di rumah itu, tapi kenapa sekarang isinya malah lagu?" Ucap Liliana dengan panik menggerak-gerakan jari jempolnya di atas layar ponselnya.
"Hiks,, hiks,, hiks,," Liliana menangis histeres melihat layar ponselnya dan bersamaan dengan itu, sebuah pesan tiba-tiba saja masuk.
*Jangan tinggal menangis dan cepat bersiap lalu ke kantor!* Pesan dari sebuah nomor yang tidak dikenal membuat Liliana menghentikan tagisnya dan membaca pesan itu berkali-kali.
"Apa maksud pesan ini?" Ucap Liliana sembari menyeka air matanya dan dia sama sekali tidak mengerti dengan pesan tersebut.
Baru saja selesai berbicara, sebuah pesan lain kembali masuk dari nomor yang sama dengan yang baru saja mengiriminya pesan, *Pria yang kau rebut pejakanya!.*
__ADS_1
Setelah membaca pesan itu, Liliana benar-benar marah hingga dia melemparkan ponselnya ke atas ranjang lalu perempuan itu kembali lagi menangis.
"Hiks,, hiks,, hiks,, kenapa aku harus dipertemukan dengan pria seperti dia?!!" Ucap perempuan itu dengan sangat kesal bersamaan dengan suara ketukan pintu.
Tok tok tok...
Liliana yang mendengarkan itu langsung menghapus air matanya, dan dia menatap wajahnya di cermin serta melihat bahwa dia belum menutupi memar-memar pada tubuhnya.
Oleh sebab itu, Liliana dengan cepat berlari ke pintu, lalu dia membuka sedikit pintunya untuk melihat Siapa yang datang, namun hanya setengah wajahnya saja yang kelihatan dari luar pintu.
"Kakak, aku mau pakai baju," ucap Aliana yang saat itu berdiri di depan pintu dengan handuk yang melilit tubuh mungilnya.
Liliana menganggukkan kepalanya lalu membiarkan gadis kecil itu masuk, "pergi pakai bajumu," ucap Liliana dengan perasaan lega bahwa hanya gadis kecil yang masuk, tidak akan mengerti apa-apa.
Maka setelah Aliana masuk ke ruang ganti, Liliana cepat-cepat merias wajahnya sebelum turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama-sama keluarga dan dia melangkah meninggalkan rumah untuk pergi bekerja.
'Sekarang aku tidak punya bukti apapun untuk melaporkan pria itu,' ucap Liliana dalam hati ketika dia duduk di dalam taksi.
Perempuan itu kembali memikirkan ingatan samar-samarnya saat ia melompat ke mobil dan langsung mencium pria yang ada di dalam mobil.
__ADS_1
'Sial!! Kenapa aku melakukan itu?' kesal Liliana pada dirinya sendiri bahwa sekarang Dia tidak punya kesempatan untuk membuat pria itu mendapatkan ganjaran atas kelakuannya karena dia sendirilah yang memulai semuanya dan bahkan memaksa pria itu.