
Liliana yang naik ke lantai 2 menghentikan langkahnya dan dia baru menyadari bahwa di lantai 2 itu hanya ada satu kamar dan tidak ada dinding pembatas antara lantai 1 dan lantai 2 kecuali tangga dan pagar pembatas yang setinggi pinggang orang dewasa.
Begitu tiba di tangga paling atas, Liliana langsung melihat meja kerja, ranjang dengan ukuran paling besar serta beberapa rak-rak yang berisi pajangan dan buku.
Perempuan itu melayangkan pandangannya ke segala arah lalu dia melihat sebuah pintu yang membuat perempuan itu pergi ke arah pintu itu sebab mengira bahwa pintu tersebut ialah kamar mandi.
Tetapi ketika dia membukanya, Liliana terdiam di tempatnya saat melihat bahwa ternyata pintu yang baru saja ia buka ialah pintu yang membuatnya melihat ruang ganti Andi yang tertata dengan sangat rapi dengan pakaian aksesoris dan segala barang-barang pria itu berada di sana.
"Ini,, Andi tunanganku juga sangat suka merapikan barang-barangnya," ucap Liliana meneteskan air matanya dan dia kembali lagi teringat akan pria yang ia cintai, namun sayangnya pria itu telah meninggal dan kini yang ada di hadapannya hanya seorang pria yang mirip dengan tunangannya yang memiliki kepribadian yang sangat buruk.
Sembari terus menangis, Liliyana kemudian menutup pintu tersebut lalu dia melihat ke pintu yang lainnya dan dia memasuki pintu itu lalu menemukan kamar mandi di sana.
Maka Liliana cepat-cepat mandi lalu menggunakan pakaian yang diberikan oleh Andi namun perempuan itu terkejut ketika dia sudah memakai pakaian itu dan melihat bahwa pakaian itu ialah pakaian yang sangat erotis.
Panjangnya hanya sampai pertengahan paha, dan belahan dadanya memperlihatkan setengah dari tubuh bagian atasnya yang seharusnya selalu dilindungi oleh Liliana agar tak terlihat oleh sembarang orang, apalagi pria-pria mesum dan menjijikan seperti Andi!
__ADS_1
Tetapi untungnya bahan pada pakaian itu cukuplah tebal dan juga lembut berada di tubuh Liliana.
"Aku tidak bisa menggunakan ini di hadapan pria itu!" Ucap Liliana sembari meneteskan air matanya lalu dia berbalik melihat ke arah pakaiannya yang telah basah karena tadinya dia terlalu buru-buru sebab berpikir bahwa dia telah mendapatkan pakaian dari Andi.
"Bagaimana ini?" Liliana yang merasa bahwa dirinya sudah diperlakukan sangat tidak pantas oleh manajernya sendiri dan lebih parahnya lagi bahwa dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan pria itu.
Sembari menangis, Liliana dikejutkan oleh suara pintu yang diketuk.
Tok tok tok...
Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya perempuan itu memiliki sebuah ide lalu dia kemudian mengambil tasnya dan menyalakan sebuah perekam suara pada ponsel miliknya sebelum keluar dari kamar mandi dan turun ke lantai bawah.
'Aku harus mendapatkan bukti bahwa pria itu menindasku dan berniat melecehkanku, dengan begitu, aku bisa membawa masalah ini ke kantor polisi!' ucap Liliana dalam hati sembari menggigit bibir bawahnya dan dia sudah tidak peduli lagi jika masalah itu sampai terkuak ke publik hingga akan mempermalukan keluarganya.
Yang ada di pikirannya saat ini ialah bisa bebas dari pria itu dan bisa menyingkirkan pria itu dari hidupnya supaya dia bisa kembali lagi hidup normal meski dia sendiri tidak yakin bahwa kehidupannya akan normal Setelah dia berhasil membuat Andi berakhir di jeruji besi.
__ADS_1
Setelah turun ke lantai bawah, Liliana melihat ke arah bar mini dan menemukan Andi sudah berada di sana.
Pria itu duduk sembari menatapnya dengan makanan yang tertata di atas meja.
'Apakah dia mengajakku untuk makan malam dan menaruh sesuatu di makananku?' ucap Liliana dalam hati yang kini semakin ketakutan bahwa pria itu mungkin akan membunuhnya atau mungkin memiliki sesuatu yang sangat buruk lewat makan malam mereka.
"Tunggu apa lagi?! Cepat kemari dan duduk!" Suara dingin Andi benar-benar menghipnotis Liliana yang ketakutan hingga perempuan itu kemudian cepat-cepat duduk di hadapan Andi.
'Apakah makanan ini mengandung racun?' ucap Liliana dalam hati sembari terus memperhatikan makanan yang terlihat enak tersaji di depannya.
Andi tidak mengatakan apapun, tetapi pria itu mengambil sendok dan garpunya lalu dia mulai makan dengan tenang.
Andi yang selesai memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya kini mengangkat wajahnya dan menatap perempuan di depannya.
"Kenapa kau tidak makan? Apakah makanan ini tidak sesuai dengan seleramu?" Tanya Andi langsung membuat Liliana tersentak kaget hingga perempuan itu kemudian menatap pria depannya dan mengangkat tangannya untuk mengambil sendok.
__ADS_1
Tangan Liliana gemeter memegang sendok, dan dia benar-benar takut untuk memakan makanan yang diberikan oleh Andi.