
Setelah cukup lama memperlihatkan keromantisannya pada semua orang, akhirnya pernikahan Liliana dan Andi kini selesai.
Satu persatu keluarga pun berpamit untuk pulang karena saat itu sudah malam dan tentunya mereka memiliki kegiatan masing-masing di rumah.
Masih ada beberapa yang tinggal, tetapi mereka hanya keluarga yang sangat dekat saja hingga mereka membantu membersihkan dengan orang tua Andi juga telah kembali ke rumahnya.
Dika yang baru selesai membantu istrinya berberes-beres pun menghampiri sepasang pengantin yang saat itu berada di dapur tengah menikmati makan mereka.
Saat tiba di dapur, Dika langsung menatap dua orang di depannya yang mana Andi sedang menyuapi Liliyana.
"Ayah baru saja berteleponan dengan Hakim, dia bertanya Kalian mau tinggal di sini atau mau tinggal di rumah di sana?" Tanya Dika.
Andi menatap Ayah mertuanya, "Tidak adakah tradisi keluarga yang mengatur tentang hal itu?" Tanya Andi yang jelas tahu bahwa setelah pernikahan maka mempelai pria akan membawa mempelai wanita ke rumah keluarganya dan setelah 3 hari barulah kembali mengunjungi rumah mempelai wanita.
Tetapi dia masih menanyakannya karena dia merasa bahwa istrinya mungkin kelelahan, jadi bila mereka harus berkendara lagi ke rumah orang tuanya, mungkin Liliana akan semakin lelah.
Andi berharap mereka masih bisa tinggal di rumah ini saja.
"Kalau seharusnya, setelah pernikahan, maka mempelai akan tinggal di rumah keluarga mempelai pria, Baru 3 hari pergi ke rumah mempelai perempuan, tapi kalau kalian mau tinggal di sini juga tidak apa-apa, tidak masalah dengan hal itu yang penting kalian senang," ucap Dika.
"Ahh,, kalau begitu kami tinggal di sini saja, Liliana juga sudah lelah, aku tidak mau dia semakin kelelahan," jawab Andi.
Dika mengganggukan kepalanya dan hendak berbicara, tetapi kemudian dia didahului oleh putrinya yang langsung berbicara.
"aku rasa kita ke rumahmu saja, aku tidak mau nanti orang tuamu berkata macam-macam jika kita tidak mengikuti tradisi keluarga, lagi pula sekarang aku baik-baik saja," ucap Liliana.
"Kau yakin?" Tanya Andi.
"Ya," jawab Liliana akhirnya membuat Andi menganggukkan kepalanya, lalu kedua orang itu pun meneruskan makan malam mereka.
Setelah selesai makan malam, keduanya pun bersiap-siap untuk pergi ke kediaman orang tua Andi, tak lupa pula Aliana juga bersiap-siap dan gadis kecil itu pun ikut bersama-sama dengan ayah dan ibunya.
Setelah perjalanan belasan menit, akhirnya Ketiga orang itu tiba di kediaman keluarga Andi, lalu ketiganya memasuki rumah.
"Cucuku!!" Seru Zaskia langsung menyambut Aliana dan menggendong gadis kecil itu dengan perasaan bahagianya.
"Nenek," Aliana memeluk Zaskia dengan erat hingga Zaskia langsung membawa gadis kecil itu ke depan TV dan hakim yang sudah duduk di depan TV langsung mengambil remote.
Channel TV yang tadinya Mereka nonton memperlihatkan berita yang membahas tentang bisnis langsung diganti menjadi film kartun hingga Aliana pun duduk di samping neneknya sembari memperhatikan TV dengan seksama.
Sementara Andi yang datang bersama Liliana, pria itu menatap Ketiga orang yang sangat akrab duduk di depan TV, "kalian menonton lah, kami akan segera beristirahat," ucap Andi langsung diangguki oleh ketiga orang yang ada di sana sehingga Andi pun membawa istrinya ke kamarnya.
__ADS_1
Begitu tiba di kamar, Andi langsung mendudukkan Liliana di tepi ranjang, lalu pria itu berlutut memperhatikan kaki Liliana yang terluka.
"Kakimu pasti sakit," ucap Andi sembari mendongak menatap Liliana dengan Liliana yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Jangan khawatir, Itu tidak terlalu sakit, sekarang aku hanya mau berbaring," ucap Liliana yang sudah merasa begitu sakit pada punggungnya yang sedari tadi sore terus saja berdiri.
Ucapan istrinya langsung membuat Andi membantu perempuan itu untuk berbaring, lalu dia pun menyelimuti Liliana, "kau tidurlah lebih dulu, aku akan mengambil air putih untukmu," ucap Andi.
"Baiklah, Tapi nanti kalau pulang langsung tidur di sampingku," ucap Liliana.
"Tentu," ucap Andi lalu pria itu pun berjalan keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk mendapatkan air putih.
Saat dia melewati ruang keluarga, dilihatnya 3 orang yang sedang menonton film kartun sedang tertawa terbahak-bahak karena kelucuan yang disuguhkan oleh film kartun itu.
Andi tidak mengatakan apapun dan hanya terus berjalan ke dapur mendapatkan air putih lalu pria itu kembali lagi ke kamar.
Saat tiba di kamar, Andi melihat Liliana Sudah terlelap, sehingga pria itu langsung bergabung dengan Liliana dan tidur bersama-sama dengan Liliana.
Dia tidur sembari memeluk perempuan itu dengan erat dan tak lupa pula menempelkan bibirnya ke pipi perempuan itu serta menikmati aroma tubuh Liliana yang terus ia rindukan selama satu minggu terakhir.
Pada keesokan paginya, Liliana terbangun oleh sebuah ketukan pintu yang mengganggu telinganya.
Tok tok tok...
Oleh karena itu, dia pun mengulurkan tangannya menarik-narik telinga Andi yang sedang memeluknya agar pria itu terbangun.
Gerakan yang dilakukan oleh Liliana benar-benar membuat Andi terbangun hingga pria itu pun menatap istrinya yang sudah bersikap nakal.
Tok tok tok...
"Ayah!! Ibu!! Sekarang saatnya makan siang!!" Suara Aliana dari seberang pintu langsung membuat Andi terbangun dan menatap ke arah jam yang diletakkan di atas meja samping tempat tidur.
"Kami akan segera datang!" Jawab Andi pada gadis kecil yang ada di seberang pintu sembari pria itu kembali menatap istrinya yang saat itu menatapnya dengan wajah yang masih mengantuk.
"Selamat pagi istriku yang paling cantik," kata Andi sembari mendaratkan sebuah ciuman di bibir Liliana hingga membuat Liliana mengukir sebuah senyuman indah di wajahnya.
Meski tenggorokannya masih begitu serak, tetapi Liliyana dan memaksakan diri untuk berkata, "Selamat pagi sayang, bantu aku duduk, aku haus sekali."
"Baiklah," kata Andi segera mengulurkan tangannya pada tubuh Liliana dan membantu perempuan itu bangun.
Setelah Liliana duduk bersandar, maka Andi pun mengambil air putih yang ia letakkan di meja dan memberikannya pada Liliana.
__ADS_1
Setelah meneguk habis minumannya, Liliana pun mengembalikan gelasnya pada Andi, "sekarang aku lapar, bolehkah kita makan terlebih dahulu baru mandi?" Tanya Liliana langsung dijawab anggukan Andi.
Maka kedua orang itu pun pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan mengikat gigi sebelum turun ke lantai bawah.
Begitu tiba di lantai bawa, mereka mendapati Aliana yang saat itu melukis bersama-sama dengan hakim.
Kedua orang itu sedang melukis Zaskia yang duduk di sebuah kursi sembari memegang sebuah keranjang berisi buah-buahan yang ditata dengan rapi.
"Kalian akhirnya bangun, ini sudah hampir jam makan siang," kata Zaskia begitu melihat dua orang yang menuruni tangga, dia benar-benar sudah cemas pada kedua orang itu, sebab Sejak dari pagi mereka berusaha membangunkan kedua orang itu dengan mengetuk pintu, namun tidak ada satupun dari mereka yang menyahut dari dalam kamar.
"Kami kelelahan," ucap Andi sembari menuntun Liliana ke dapur meninggalkan tiga orang yang masih sementara sibuk dengan pekerjaan mereka.
Sementara Aliana yang menatap kedua orang itu, dia pun berbalik menatap kakeknya yang duduk di sampingnya, "Bagaimana nanti kalau ayah dan ibuku selesai makan lalu mereka yang kita lukis?" Tanya Aliana langsung membuat Hakim menganggukkan kepalanya.
"Itu ide yang sangat bagus, tapi kakek cemas Ibumu mungkin akan kelelahan karena harus menahan satu posisi untuk dilukis," ucap Hakim yang tidak mau membuat menantunya kelelahan, apalagi perempuan itu sedang mengandung, sangat tidak baik untuk kesehatannya.
"Ahh,, sayang sekali," Aliana menghela nafas dengan kecewa, lalu gadis kecil itu kembali mencelup kuasnya pada cat minyak yang ada di hadapannya dan melanjutkan lukisannya.
Sedikit demi sedikit, lukisan dua orang itu pun selesai hingga Zaskia yang sedari tadi sudah pegal memegang keranjang buah di tangannya kini langsung meletakkan keranjang buahnya dan menghampiri kedua orang yang masih merapikan lukisannya.
"Bagaimana menurut nenek?" Tanya Aliana sembari mendongak menatap Neneknya yang sementara melihat lukisan nya.
Wajah gadis kecil itu berbinar-binar mengharapkan pujian dari neneknya hingga membuat Zaskia tersenyum dengan kelakuan Aliana.
Apalagi, dia melihat bahwa lukisan garis kecil itu memang sangat bagus, apalagi untuk umur seusia Aliana sehingga membuat Zaskia tersenyum.
"Lukisanmu sangat bagus, nenek sangat senang kau bisa melukis nenek. Lukisanmu membuat nenek mau memajangnya di rumah, Apakah kau setuju kalau nenek membingkainya dan memajangnyan di dinding rumah kita?" Tanya Zaskia dengan wajah penuh harapnya menatap cucunya.
"Tentu!!!" Seru Aliana yang merasa senang bahwa ternyata neneknya sampai mau memajang lukisannya di rumah jadi itu menandakan bahwa lukisannya sangatlah bagus dan disukai oleh perempuan itu.
"Lalu bagaimana dengan lukisanku?" Tanya Hakim pada istrinya sembari memutar sedikit lukisannya agar bisa dilihat oleh istrinya.
Zaskia pun menatap lukisan suaminya, dan perempuan itu menyipitkan matanya memperhatikannya, lalu menatap lagi ke arah lukisan Aliana dan entah kenapa dalam hatinya Dia merasa bahwa lukisan Aliana jauh lebih bagus dari lukisan suaminya.
Meski begitu, Zaskia tidak mau membandingkan lukisan kedua orang itu, karena setiap mata punya penilaian mereka masing-masing sehingga Zaskia pun berkata, "sangat bagus, kau melukis keranjang buahnya dengan sangat detail."
Ucapan istrinya langsung membuat Hak mengirimkan keningnya, perempuan itu hanya memuji lukisan keranjang buahnya, Bukankah berarti bahwa lukisan wajah dan tubuh istrinya tidak seperti yang diharapkan oleh istrinya?
Namun, Hakim belum berkata apapun ketika Aliana sudah lebih dulu berbicara, katanya, "ya!! Lukisan Kakek sangat bagus!!!"
Mendengar pujian dari cucunya, maka Hakim pun tidak lagi menghiraukan apa yang tadi dikatakan oleh istrinya, pria itu langsung tersenyum dan memeluk Aliana dengan hangat.
__ADS_1