Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
134


__ADS_3

Setelah dikerjai oleh ayahnya, Andi benar-benar kesal hingga pria itu memilih pergi ke tempat tidur dan memasang alarm agar dia bisa melepaskan perasaan rindunya terhadap Liliana.


Andi berpikir jika dia tertidur maka dia tidak akan mengingat lagi rindunya pada perempuan itu, namun pria itu tidak menduga bahwa ketika dia berusaha untuk tidur, ternyata matanya sangat sulit untuk dipejamkan.


Meski dia merasa mengantuk dan tubuhnya lelah setelah seharian terus duduk mengingat Liliyana, tetapi saat ini pikirannya tidak dapat bekerja sama, pikirannya selalu tertuju pada Liliana hingga membuatnya benar-benar tidak bisa memejamkan matanya.


Pria itu berguling-guling di tempat tidur, menghadap ke kiri, menghadap ke kanan menghadap ke atas, dan ke bawah, segala posisi tidur telah dicoba oleh Andi, tapi tidak ada satupun yang membuahkan hasil, dia sama sekali tidak bisa tidur!


Hal itu membuat Andi merasa sangat kesal sehingga dia menyibak selimutnya dengan kasar, lalu pria itu pun turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya.


Begitu turun ke lantai 1, Andi melihat para keluarganya berbincang-bincang di ruang tamu membicarakan berbagai hal.


Andi sama sekali tidak peduli karena pria itu memilih pergi keluar rumah dan berjalan-jalan di taman rumahnya berusaha melakukan sesuatu yang membuatnya melupakan kerinduannya terhadap Liliana.


"Hah,, Kenapa begitu sulit?" Kesel Andi sembari mematahkan ranting pohon yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"Paman tidak boleh sembarang mematahkan ranting pohon!!" Ucap salah seorang anak kecil langsung membuat Andi menoleh ke arah sumber suara dan melihat anak laki-laki dengan tubuh gembul menatapnya dengan sorot mata memperingatkan Andi.


Hal itu membuat Andi mengangkat sebelah alisnya, lalu dia pun mendekati anak kecil itu sembari berkata, "kau berani berbicara padaku dan bahkan berani melarangku melakukan sesuatu?!!"


Suara Andi yang tegas dan tatapan Andi yang menakutkan langsung membuat anak kecil itu mengerutkan keningnya dan air mata pun segera berkumpul di kelopak matanya karena merasa takut pada Andi.


Ekspresi pria kecil di depannya langsung membuat Andi teringat akan ekspresi Liliana ketika mereka baru saja bertemu sehingga membuat pria itu menjadi merasa iba dan secara spontan mengulurkan tangannya membawa pria kecil itu ke gendongannya.


"Paman minta maaf, Paman hanya bercanda saja," ucap Andi berusaha menenangkan anak kecil itu, tetapi bukannya menenangkan, malah ucapan Andi membuat anak kecil itu menangis dengan keras.


Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk membujuk anak kecil itu sampai ia merogoh sakunya dan menemukan sebuah uang di dalam sakunya.


"Jangan menangis, Jangan menangis dan ambil uang paman," kata Andi memperlihatkan uang tersebut di depan pria kecil itu.


Pria kecil itu menghentikan tangisannya lalu mengambil uang dari tangan Andi, Hal itu membuat Andi merasa legah bahwa ternyata hanya dengan beberapa lembar uang, dia langsung bisa menenangkan anak kecil itu.

__ADS_1


Tetapi siapa sangka, setelah anak kecil itu mengambil uang milik Andi, dia kembali lagi menangis dengan keras.


"Huwaa...!! Ibu!! Ibu! Huwaa ibu!!" Isakan pria kecil itu benar-benar membuat Andi merasa kesal dan apalagi pria kecil itu berusaha merenta-rontak untuk diturunkan hingga membuat Andi menggertakan giginya.


Dia hendak memarahi anak kecil itu ketika tiba-tiba saja dia melihat seorang perempuan berlari ke arah mereka yang merupakan sepupu Andi.


"Astaga Roni!!!" Ucap perempuan itu langsung mengambil pria kecil yang ada di gendongan Andi dan menenangkan nya.


Andi langsung mengerutkan keningnya ketika hanya dengan dua kata yang keluar dari mulut perempuan itu dan pria kecil itu langsung berhenti menangis.


"Maaf, dia memang sangat nakal, aku akan membawanya pergi," kata Sang Perempuan langsung membawa anaknya pergi meninggalkan Andi, Sebab Dia tahu bahwasa dari dulu Andi bukanlah pria yang mudah didekati dan merupakan pria yang tidak menyukai anak-anak.


Setelah kedua orang itu pergi, maka Andi menghela nafas saat dia kembali mengingat Liliana lalu pria itu pun berjalan ke arah kursi taman dan sekarang berada dalam mode sedihnya lagi.


Andi menatap jam tangannya, tetapi saat itu masih beberapa jam sebelum mereka berangkat ke rumah Liliana hingga membuatnya semakin kesal saja.

__ADS_1



__ADS_2