
"Tapi aku mau menikah," jawab Andi kembali membuat jantung Liliana berdegup tak karuan dan tangan perempuan itu memegang erat di tangannya.
💦💦💦
"Ooh,, Kalau begitu, menikahlah dengannya. Tidak perlu bersusah hati seperti ini," ucap Liliana sembari berdiri lalu perempuan itu pergi meninggalkan Andi tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
Saat berjalan ke atas tangga, Liliana merasakan hatinya bagai tersayat-sayat dan perempuan itu berjalan dengan pikiran melayang sebab Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Setelah tiba di lantai atas, Liliana meletakkan mug yang ia bahwa di tangannya lalu perempuan itu masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu lalu duduk bersandar pada pintu kamar mandi.
"Apa yang terjadi??" Ucap Liliana sembari memegangi dadanya yang mana jantungnya berdegup amat kencang.
Perempuan itu sama sekali tidak mengerti mengapa dia sangat tidak senang mendengar jawaban Andi.
'Aku kenapa?? Kenapa aku harus merasa seperti ini saat mengetahui pria itu mau menikah dengan tunangannya???' ucap Liliyana dalam hati sembari memegangi peraknya yang tiba-tiba saja merasa mual dan kepalanya sangatlah pusing.
Setelah beberapa saat, perempuan itu merasakan gejolak mual yang mendorong dari perutnya hingga dia berlari ke arah kloset dan memuntahkan isi perutnya.
Hueeeekkkk....!!!
__ADS_1
Hueeeekkkk....!!!
seketika, wajah perempuan itu menjadi pucat dan dengan tubuh yang agak gemetar dia menutup kloset tersebut dan menekan tombol push.
Setelah itu, Liliana berkumur dengan air hangat lalu perempuan itu terduduk di lantai sembari bersandar pada tepi bath up.
Dia tidak teringat lagi akan ucapan Andi tentang pernikahan, tetapi perempuan itu sibuk dengan rasa mualnya yang kini membuatnya keringat dingin.
'Ada apa denganku?' ucap Liliana dalam hati yang tidak mengerti dengan dirinya sendiri sembari perempuan itu meminjamkan matanya dan berusaha menenangkan dirinya.
Tok tok tok...
"Apa kau baik-baik saja?" Suara Andi dari seberang pintu langsung membuat Liliana menguatkan dirinya sendiri dan perempuan itu pun berdiri.
Liliana berjalan ke arah pintu kamar mandi dan mengulurkan tangannya membuka pintu tersebut.
Begitu pintu terbuka, dilihatnya Andi yang menatapnya dengan cemas, sementara Andi yang melihat Liliana mengerutkan keningnya saat melihat wajah perempuan itu sangatlah pucat.
"Apa kau sakit?" Tanya Andi sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh Liliana ketika Liliana menepis tangan pria itu lalu dia berjalan ke arah ranjang.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan Andi yang menatapnya, Liliana pun membungkus tubuhnya dengan selimut dan dia berharap bahwa setelah memuntahkan isi perutnya dia bisa tidur dengan nyenyak.
tetapi Baru beberapa detik memejamkan matanya, rasa mual yang tadi dirasakan oleh Liliana kini kembali lagi hingga perempuan itu dengan cepat turun dari tempat tidur lalu berlari ke kamar mandi.
Hueeeekkkk....!!!
Hueeeekkkk....!!!
Andi yang melihat itu juga menjadi panik, pria itu menghampiri Liliana lalu berusaha menenangkan perempuan itu dengan mengusap mengusap punggung Liliana.
"Apakah maag mu kambuh karena tadi kau terlambat makan?" Tanya Andi kembali mengingat bagaimana tadi malam sudah sangat larut ketika dia kembali dari rumah orang tuanya dan ternyata perempuan itu belum makan.
Sementara Liliana yang mendengarkan pertanyaan Andi, perempuan itu tidak mengatakan apapun dan dia hanya membersihkan mulutnya sembari menopang tubuhnya dengan cara berpegangan ke dinding.
Andi yang melihat bahwa perempuan itu kesusahan berdiri akhirnya mengangkat perempuan itu dan membawa Liliana ke tempat tidur.
"Tunggu sebentar, aku akan mencarianmu obat," ucap Andi segera turun ke lantai bawah untuk mencari obat, tetapi ketika dia tiba di lantai bawah, pria itu baru menyadari bahwa dia tidak pernah menyetok obat di rumah sebab Dia tidak menyukai obat.
Maka dengan begitu menyesal, Andi hanya bisa kembali ke lantai 2 mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan menelpon dokter untuk memeriksamu," ucap Andi tanpa dijawab oleh Liliana karena saat itu tubuh Liliana sudah terasa begitu lemas, bahkan untuk menggerakkan jarinya saja, perempuan itu merasa terlalu malas.