
Dokter Nia berkata, "Sepertinya kau benar-benar menderita, Bagaimana kalau aku memberimu resep?"
Ucapan dokter itu langsung membuat Liliana menganggukkan kepalanya.
🌛🌛🌛
"Kebetulan aku membawa beberapa obat karena sebentar Aku harus tinggal ke rumah salah satu pasien, dan kebetulan obat ini cocok untukmu," ucap sang dokter kemudian memberikan resep obat pada perempuan di depannya.
"Ini akan membantumu, dan yang terakhir,, diam-diam berikan obat ini pada Andi. Jangan sampai pria itu mengetahuinya, sebab Dia sangat membenci obat, Jadi kau bisa mencampurnya dengan makanan atau minuman nya," ucap sang dokter langsung diangguki oleh Liliana sembari perempuan itu melihat-lihat obat-obatan yang ada di tangannya.
Dia jadi teringat akan resep-resep yang ada di laci kamar Andi, dan dia memang tidak pernah melihat pria itu memakan obat, juga tidak ada bungkus obat yang ada pada laci tersebut, hanya resepnya saja yang sepertinya dikumpulkan di situ.
"Terima kasih sudah bekerja sama, semoga hubunganmu dengannya bisa berjalan dengan lancar. Ahh,,, Sepertinya kau akan senang mendengar kabar ini," sang dokter tersenyum, "Andi belum pernah berhubungan badan dengan tunangannya, bahkan Andi sendiri setiap kali berkonsultasi tidak pernah memiliki niat untuk menikahi perempuan itu. Dia hanya menuruti ucapan kedua orang tuanya untuk bertunangan dengan perempuan itu, tapi dia tidak ada niat untuk menikahinya."
Ucapan dokter yang ada di depannya benar-benar membuat Liliana tertegun di tempatnya, memangnya siapa yang menyukai Andi?
__ADS_1
Tetapi baru saja berpikir seperti itu dalam hati, Liliana tiba-tiba merasakan jantungnya berdegup kencang dan hatinya berdesir tak karuan seolah-olah saja apa yang ia pikirkan telah disangkal oleh hatinya.
Benar-benar sial!
"Kalau begitu aku pamit permisi dulu, jaga dirimu baik-baik," ucap dokter Nia yang mana perempuan itu jelas tahu bagaimana sikap dari tunangan Andi yang memiliki kearoganan dan tentunya tidak mudah untuk dihadapi.
"Ya, Terima kasih Dokter," ucap Liliana sembari berdiri lalu perempuan itu pun mengantar dokter keluar dari apartemen sebelum dia kembali ke tempat duduknya menatap obat yang ada di atas meja.
Dia tertegun menatap obat itu, dan tak menyangka bahwa ternyata Andi benar-benar memiliki kelainan seksual.
Perempuan itu masih ingin memikirkannya, tetapi kita ketika dia menyadari bahwa malam semakin larut, maka perempuan itu cepat-cepat mengambil barangnya yang ada di apartemen lalu dia turun ke parkiran.
Ketika memasuki mobilnya dan hendak menyalakan mesin mobilnya, Liliyana menghentikan gerakan tangannya saat iya melihat mobil Andi telah tiba.
Maka dia yang tidak mau ketahuan datang ke tempat itu hanya bisa terdiam dalam mobil menunggu pria itu memasuki lift barulah dia akan pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Tetapi ketika dia masih terdiam di tempatnya, perempuan itu mengerutkan keningnya saat ia melihat bahwa Andi tak kunjung membuka pintu mobilnya.
'Kenapa dia lama sekali?' ucap Liliana dalam hati sembari mengerutkan keningnya terus mengawasi mobil milik Andi yang terletak tidak jauh darinya.
Ketika perempuan itu sedang mengawasi, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Liliana dengan cepat mengambil ponselnya, lalu melihat bahwa yang menelponnya ternyata Andi.
'Kenapa dia?' ucap Liliyana dalam hati sembari menekan tombol berwarna hijau pada layar ponselnya.
Setelah itu, perempuan tersebut mendekatkan ponselnya ke telinganya, 'Halo,' ucap Liliana.
__ADS_1
"Aku merindukanmu!" Ucap Andi dari seberang telepon benar-benar membuat Liliana tertegun di tempatnya dan jantungnya serta hatinya kembali bersikap ane lagi hingga perempuan itu mengepal kuat tangannya.