
Saat mendekati pulang, Michelle yang tidak tahan untuk bertanya kemudian mendekati Liliana dan berkata, "Apakah manajer sudah memperlakukanmu dengan baik?"
🌄🌄🌄
Beberapa orang yang berada di dekat kedua perempuan itu mendengarkan pertanyaan Michelle sehingga suara ketikan yang tadinya memenuhi sekitar Michelle dan Liliana langsung terhenti karena tentunya mereka ingin mendengar jawaban Liliana.
"Hm, mulai sekarang aku mati rasa," ucap Liliana dengan tenang benar-benar mengejutkan semua orang.
"Apa maksudmu dengan mati rasa?" Tanya Michelle.
Liliana menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi menekan-rekan mouse lalu dia menatap Michelle dengan tatapan yang kosong sembari berkata, "Apa kau lihat aku sekarang? Apakah aku sedih atau senang? Apakah aku marah atau kesal? Apakah aku memperlihatkan sebuah ekspresi?"
Pertanyaan Liliana benar-benar membuat Michelle terdiam di tempatnya.
Semua orang yang mendengar itu juga terdiam dan mereka semua tak menyangka bahwa Liliana kini tampak seperti orang gila yang tidak peduli dengan apapun.
__ADS_1
Apalagi ketika Michelle melihat Liliana kembali berputar menatap komputernya, Michelle dan semua orang yang ada di sana bisa melihat bahwa perempuan itu memang tidak memperlihatkan ekspresi apapun, perempuan itu seperti cangkang kosong!
"Astaga, dia baik-baik saja kan?" Tanya Salah seorang perempuan pada perempuan lainnya.
"Mana aku tahu? Sepertinya Dia mendapat tekanan yang begitu besar dari manajer sehingga dia jadi seperti itu."
"Kasihan sekali," jawab perempuan yang lain.
Semua orang merasa prihatin pada Liliana, sampai pada jam kerja Liliana akhirnya meninggalkan kantor dan perempuan itu bisa kembali ke rumah.
Gadis kecil itu langsung menghampiri Liliana dan memeluk Liliana dengan erat.
Liliana membalas pelukan gadis kecil itu selama beberapa saat sebelum merogoh tasnya dan mengambil gue dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Aliana.
"Wah!! Kue!! Terima kasih kakakku sayang!!" Ucap Aliana kembali memeluk Liliana sebelum gadis kecil itu pergi meninggalkan Liliana untuk membagi kuenya bersama-sama dengan Tiara.
__ADS_1
Liliana terdiam di tempatnya memandangi gadis kecil yang pergi meninggalkannya, beberapa saat kemudian perempuan itu meneteskan air matanya Karena rasa sedih dan rasa bersalahnya pada gadis kecil itu.
'Tidak mungkin aku membuat gadis kecil itu terluka,' ucap Liliana dalam hati yang kini merasa bahwa dia akan mengorbankan dirinya melakukan apapun yang diinginkan oleh Andi asalkan dia bisa melindungi keluarganya.
Maka perempuan itu kemudian naik ke kamarnya lalu langsung duduk di meja kerjanya menyalakan komputernya untuk mengecek sesuatu.
"Aku harus mencari informasi tentang Andi," ucap Liliana segera membuka komputernya lalu dia kemudian berusaha mencari informasi apapun tentang manajernya yang mungkin bisa membantunya.
Tetapi, cukup lama mencari di internet, Dia tidak menemukan informasi apapun tentang pria itu, atasannya tidak memiliki akun media sosial dan tidak ada satupun postingan yang menyangkut Andi di internet.
'Bagaimana bisa ada orang seperti dia?' ucap Liliana dalam hati yang merasa begitu aneh pada pria yang sudah membuatnya menjadi babu.
Tetapi kemudian, Liliana kembali mengingat apartemen pria itu Dan Dia benar-benar mengerutkan keningnya saat ia mengingat bahwa di apartemen pria itu tidak ada satupun foto Andi dan bahkan foto keluarganya pun tidak ada di sana.
"Bagaimana bisa ada seseorang yang seperti itu?" Ucap Liliana yang kini merasa begitu aneh dengan manajernya.
__ADS_1