
Setelah berbicara dengan ibunya di balkon, maka Andi kembali ke dalam kamar dan saat itu pria tersebut bernafas dengan lega ketika Meliani sudah berpamit pada Hakim untuk meninggalkan tempat itu.
Hakim pun menatap putranya, "antarlah dia," ucap pria itu langsung dianguki oleh Andi hingga dia dan Meliani pun keluar dari ruangan VVIP.
Begitu pintu tertutup, Meliani menghentikan langkahnya lalu dia berbalik menatap Andi dengan senyum mengejek nya.
"Apa jadinya kau kalau aku tidak ada? Heh! Pria seperti mu benar-benar tidak pantas diberi hati!!" Kesal Meliani pada pria di depannya sebab ketika dia ada di dalam ruangan VIP, tempat dia duduk bisa melihat Andi yang berteleponan di balkon.
Saat itu, dia benar-benar kesal melihat pria itu dengan senang-senangnya berteleponan dengan seseorang sembari tertawa terbahak-bahak, padahal dulu ketika dia masih bertunangan dengan pria itu, pria itu bahkan tidak pernah meneleponnya.
Hal tersebut membuat Meliani semakin menjadi benci pada Andi sehingga perasaan sukanya pada pria itu telah menghilang dan kini digantikan oleh gunung dendam yang menumpuk dalam hatinya.
"Ah, itulah sebabnya aku memutuskan pertunangan kita," jawab Andi dengan santai lalu pria itu pun pergi meninggalkan Meliani hingga membuat Meliana sangat tercengang menatap punggung pria itu.
__ADS_1
Dia tidak menduga bahwa pria itu hanya dengan santai berbicara seperti itu, bahkan kembali mengungkit tentang pria itu yang memutuskan pertunangan mereka.
Saat itu, Meilani masih ingin mengejar pria itu untuk membalas ucapan pria tersebut ketika ponselnya tiba-tiba saja berdering.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Meliani mengambil ponselnya dan melihat bahwa temannya yang bekerja di bagian administrasi rumah sakit lah Yang menelponnya.
"Halo," ucap Meliani.
"Ya, aku sudah memeriksa hasil pemeriksaan yang kau berikan padaku, dan hasil pemeriksaan itu memang asli, aku akan mengalihkannya ke panggilan video untuk memperlihatkan datanya padamu," kata Sang Perempuan dari seberang telepon disambung dengan nada panggilan telepon yang diputuskan.
__ADS_1
Tut tut tut....
Meliani yang mendengarkan itu benar-benar mengepal kuat tangannya, lalu dia menurunkan ponselnya dari telinganya dan melihat sebuah panggilan video yang masuk.
Perempuan itu langsung menggerakkan jarinya menerima panggilan tersebut, lalu dia melihat temannya yang ada di seberang telepon tersenyum ke arahnya.
"Ku perlihatkan layar komputerku padamu," kata perempuan dari seberang telepon sembari mengubah kameranya dari kamera depan ke kamera belakang hingga memperlihatkan layar komputernya milik perempuan itu.
Meliani pun memperhatikan layar ponselnya sembari mendengar perempuan yang ada di seberang telepon berbicara, katanya, "kau lihat ini, di sini tertera jelas bahwa laporan pemeriksaan kesehatan ini asli, jadi aku rasa ayammu tidak membohongimu."
"Itu,," Meliani menahan ucapannya selama beberapa saat sebelum lanjut lagi berbicara, "bisakah kau melihat kapan terakhir kali pria itu melakukan pemeriksaan ke dokter yang menangani penyakitnya?" Tanya Meliani pada perempuan di seberang telepon.
"Ah, tentu saja, tunggu sebentar," jawab sang perempuan dari seberang telepon dengan Meliani yang memperhatikan layar ponselnya di mana ia melihat kursor pada layar komputer berpindah pindah di layar komputer sampai akhirnya sebuah data pun muncul.
__ADS_1
"Ini adalah riwayat pemeriksaan kesehatan Andi, dia terakhir kali melakukan pemeriksaan sekitar 1 bulan lebih, sementara pada waktu-waktu lainnya, kau bisa melihat dia selalu melakukan pemeriksaan setiap 2 minggu sekali," kata Sang Perempuan di seberang telepon menjelaskan hasil yang ditampilkan pada komputernya.
Meliani yang melihat itu benar-benar terdiam di tempatnya, perempuan itu mengingat sesuatu, 'waktunya sama dengan kedatangan perempuan bernama Liliana.' ucap perempuan itu dalam hati sembari menekan tombol reject pada ponselnya lalu perempuan itu pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.