Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
70


__ADS_3

Drrriririiriririririinggg......


Tak!


Andi mematikan alarm yang berdering di samping tempat tidur dengan pria itu langsung berbalik menatap perempuan yang tidur di pelukannya.


Dan untungnya bahwa perempuan itu tidak terganggu sehingga dia pun perlahan-lahan melepaskan tangannya yang menjadi bantal Liliana lalu mengganti tangannya dengan bantal asli.


Setelah selesai, pria itu turun dari tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi mencuci muka sebelum turun ke dapur untuk membuat makanan sebagai sarapan mereka.


Setelah selesai membuat sarapan, Andi kembali naik ke atas lantai 2 dan mendapati bahwa Liliana masih tertidur dengan gelap sehingga pria itu tidak tega untuk membangunkannya.


Maka sembari menunggu Liliana bangun, pria itu pun segera mandi dan dia mandi terburu-buru sebab takutnya Liliana mungkin akan terbangun dan membutuhkan sesuatu.


Clek!


Saat Andi membuka pintu kamar mandi, didapatinya Liliana telah bangun dan perempuan itu sementara duduk di tempat tidur menatap ke arahnya.


"Slamat pagi," ucap Andi menghampiri perempuan itu dengan Liliana yang menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Perempuan itu lalu menoleh ke arah kalender yang diletakkan di atas meja dan melihat bahwa itu adalah hari kerja sehingga mereka harus bekerja.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak membangunkanku?" Tanya Liliana saat ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.30 sementara Dia baru saja bangun.


"Hari ini kita tidak usah ke kantor, karena kita akan melakukan check up pada kandunganmu." Ucap Andi langsung membuat Liliana mengerutkan keningnya dan perempuan itu pun memegang perutnya Dan teringat bahwa di dalam perutnya sudah ada seorang bayi.


"Kak tunggu di sini, aku akan berpakaian dan membantumu mandi," ucap Andi sembari berjalan ke ruang ganti dengan Liliana yang memandangi pria itu dan entah kenapa hatinya menjadi agak berkecamuk melihat pria itu menjadi sangat perhatian padanya.


Namun kalau dia ingat-ingat lagi, bahwa selama mereka bersama-sama pria itu memang seringkali bersikap perhatian padanya Tetapi hanya saja Liliana tidak terlalu memperdulikannya, sebab Dia merasa sangat marah terhadap pria itu.


"Hah,,, entah apa yang harus kulakukan," ucap Liliana sembari turun dari tempat tidur dan perempuan itu benar-benar bingung harus melakukan apa menghadapi situasi yang saat ini membuatnya merasa pusing.


Dia memiliki sedikit perasaan senang, tetapi ayah dari bayi yang ada di kandungannya adalah tunangan seorang perempuan lain, dan entah kenapa juga sekarang dia mulai menyukai pria itu sehingga membuatnya merasa bahwa dia sudah benar-benar menjadi seorang pelakor sejati.


"Aku di sini," jawab Liliana dari kamar mandi langsung membuat pria itu membuka pintu kamar mandi dan melihat Liliana sedang menyikat giginya.


"Ahh,, Apakah kau perlu bantuan?" Tanya Andi.


Liliana menggelengkan kepalanya, "tidak," jawab perempuan itu sembari terus menyikat giginya tanpa memperdulikan Andi yang terus berdiri di ambang pintu seolah-olah pria itu sedang mengawasinya.


"Aku akan mandi," ucap Liliana sembari menoleh ke arah pintu langsung membuat Andi menutup pintu kamar mandi.


Setelah menutup pintu kamar mandi, Andi lalu mengerutkan keningnya tentang apa yang ia lakukan, 'kami sudah biasa mandi bersama, tapi kenapa sekarang aku menutup pintu ini?' ucap Andi dalam hati sembari mengulurkan tangannya lalu pria itu kembali membuka pintu.

__ADS_1


Dilihatnya Liliana sedang melepaskan pakaiannya hingga perempuan itu bertanya, katanya, "apakah aku perlu membantumu?"


Pertanyaan itu langsung membuat Liliana terdiam beberapa detik, tetapi kemudian dia menganggukkan kepalanya hingga membuat Andi merasa begitu senang, lalu perempuan itu pun masuk ke kamar mandi untuk membantu Liliana.


Setelah 30 menit, Liliana selesai mandi dan juga selesai berpakaian, perempuan itu duduk di depan meja rias dengan Andi yang mengeringkan rambut Liliana.


"Jam berapa kita berangkat ke rumah sakit?" Tanya Liliana sembari memperhatikan jam meja yang ada di meja riasnya.


"Setelah sarapan," jawab Andi.


"Ahh baik," jawab Liliana bersamaan dengan nada dering pansel Andi yang membuat Liliana maupun Andi menoleh ke arah ponsel Andi yang diletakkan di atas meja.


"Angkatlah," jawab Liliana mengulurkan tangannya untuk mengambil alih hair dryer dari tangan Andi ketika Andi Mala tetap memegang hair dryernya sembari mengambil ponsel miliknya.


Saat melihat nama pemanggil adalah ibunya, maka Andi dengan ragu-ragu menekan tombol terima.


"Halo Bu," jawab Andi.


"Kau tidak lupa Bukan? Hari ini adalah hari pertemuan dengan keluarga Meliana, jadi jangan terlambat datang ke restoran xx." Ucap seorang perempuan dari satu terang telepon langsung membuat Liliana terdiam di tempatnya sebab saat itu suara panggilan telepon itu tidaklah pelan.


__ADS_1


__ADS_2