Merampas Perjaka Manager Galak

Merampas Perjaka Manager Galak
71


__ADS_3

"Halo Bu," jawab Andi.


"Kau tidak lupa Bukan? Hari ini adalah hari pertemuan dengan keluarga Meliana, jadi jangan terlambat datang ke restoran xx." Ucap seorang perempuan dari satu terang telepon langsung membuat Liliana terdiam di tempatnya sebab saat itu suara panggilan telepon itu tidaklah pelan.


👭👭👭


"Maaf Bu, aku tidak bisa, kita bertemu nanti malam saja di rumah, Aku juga mau membicarakan sesuatu yang penting," ucap Andi pada ibunya membuat perempuan yang ada di seberang telepon begitu terkejut.


"Apa katamu?!! Bukankah kemarin malam kau tidak mengatakan apapun dan hanya setuju saja dengan percakapan kami? Kami sudah membicarakan ini dengan keluarga calon istrimu, dan mereka semua sudah tersetuju, kalau kita membatalkannya lagi, apa yang akan mereka katakan tentang keluarga kita?" Tanya sang Ibu dari seberang telepon benar-benar membuat Andi menghela nafas.


"Ibu, Aku akan menelponmu nanti, tapi aku tidak bisa pergi ke restoran xx!!" Ucap Andi lalu mematikan panggilan telepon itu dan dia mematikan ponselnya hingga membuat Liliana menatap pria itu dengan wajah yang bengong.


Andi yang melihat pantulan wajah Liliana di cermin kini memeluk perempuan itu dari belakang sembari berkata, "Jangan khawatir, aku tidak akan menikah dengan siapapun kalau kau juga tidak mau menikahiku."


Ucapan pria itu membuat Liliana mengepal kuat tangannya.


Pria itu tidak akan menikah jika bukan dia yang menikahinya?


Dia yang akan menikahi pria itu?

__ADS_1


Menikahi?!!!


Pikiran Andi benar-benar membuat Liliana merasa begitu konyol, tetapi perempuan itu tidak mengatakan apapun dan dia hanya menunggu sampai ke rambutnya kering lalu mereka turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama-sama.


Setelah sarapan dan meminum obat yang diberikan oleh dokter Nia, maka dua orang itu pun meninggalkan apartemen untuk berangkat ke rumah sakit.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Liliana merasakan gejolak mual dari perutnya.


"Ada apa?" Tanya Andi yang Saya dari tadi terus menoleh ke arah perempuan itu untuk memastikan kondisi perempuan itu.


Diam langsung menepihkan mobilnya saat menatap Liliana yang tampak pucat dan perempuan itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku rasa Aku mau muntah," ucap Liliana segera membuka pintu mobil, lalu perempuan itu pun keluar dari mobil dengan Andi yang mengikutinya.


Huekkk....!!!


Huekkk....!!!


"Katakan padaku jika kau membutuhkan sesuatu," kata Andi sembari menarik rambut Liliana ke belakang agar tidak terkena muntahan perempuan itu.

__ADS_1


Dan setelah cukup banyak memuntahkan isi perutnya, Liliana pun jatuh di gendongan Andi dan Andi cepat-cepat membawa perempuan itu ke dalam mobil lalu memberikan air putih pada Liliana.


"Minumlah ini," ucap Andi membantu Liliana meminum air putih tersebut sebelum dia menutup pintu mobil.


Pria itu pun pergi dan duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Kemarin menyetir, Andi sesekali menoleh ke arah Liliana dan terlihat bahwa perempuan itu sangatlah lemas dengan duduk bersandar memejamkan matanya.


Apa yang dilihatnya pada Liliana benar-benar membuat Andi khawatir sehingga dia mengulurkan tangannya memegang tangan perempuan itu dan menyadari bahwa tangan Liliyana amatlah dingin.


Bip!!! Bip!!!


"Minggir!!!" Geram Andi menekan klakson mobilnya ketika dia melihat ada banyak mobil yang menghalangi mereka, Padahal dia sudah melihat gedung Rumah sakit tinggal beberapa meter lagi lalu berbelok ke UGD.


Bip!! Bip!!!


Akhirnya setelah cukup lama menekan tombol klakson, Andi berbelok ke UGD rumah sakit dan dengan cepat pria itu membawa Liliana ke ruangan UGD.


"Dokter!!!" Teriak Andi sembari membaringkan Liliana di salah satu brankar yang kosong.

__ADS_1


Setelah dokter datang menghampiri mereka, Andi dengan cepat berkata, "Dia sedang hamil dan dalam perjalanan kemari Dia muntah terlalu banyak, dia sangat lemas dan tangannya sangat dingin!!! Tolong cepat tangani dia!!!"



__ADS_2