
Aliana dan Hakim sudah selesai menyiapkan peralatan melukis mereka dan menatap ke arah Liliana dan Andi yang saat itu berpose untuk di lukis.
Liliana sedang duduk bersandar ke dada Andi dengan Andi yang merangkul Liliana.
Sementara Andi, pria itu duduk di samping Aliana sembari memegang buku gambar dan juga pensilnya, Sebab Dia tidak terlalu suka melukis namun dia senang membuat sketsa.
Aliana pun menatap Ayah dan Ibunya, "Apakah kalian yakin posisinya sudah bagus?" Tanya Aliana sembari memegang kuasnya dengan erat.
"Tentu saja," jawab Liliana sembari melemparkan sebuah senyuman percaya dirinya pada Ketiga orang yang siap mengabadikan momen mereka dalam kanvas mereka masing-masing.
"Mungkin akan cukup lama melukisnya, jadi sebaiknya cari posisi yang lebih nyaman," ucap Hakim yang merasa cemas bahwa Andi mungkin akan cepat lelah jika terus disandari oleh istrinya.
Liliana yang mendengarkan ucapan Ayah mertuanya pun langsung mendongak menatap suaminya, "Apakah kita harus berubah posisi," tanya Liliana.
Tetapi Andi dengan cepat menggelengkan kepalanya hingga membuat lilian kembali menoleh ke arah tiga orang di depannya dan dia pun mengganggukan kepalanya.
Melihat kedua orang di depan mereka benar-benar siap, Maka Ketiga orang yang ada di sana pun mulai menggerakkan kuas dan pensil mereka sembari sesekali menatap ke arah dua orang yang tersenyum.
Set set set...
Zaskia terus menorehkan pensilnya di atas buku gambarnya sampai beberapa saat kemudian ketika dia mengangkat wajahnya, perempuan itu mengerutkan keningnya ketika melihat Liliana telah memejamkan matanya.
Aliana juga menatap ibunya, "Ibu sudah tidur, Padahal aku melukis matanya terbuka," ucap Aliana yang kini merasa bahwa gambar yang ia buat tidak sesuai lagi, sebab tadi dia juga melukis sebuah senyuman di wajah perempuan itu.
Dan sekarang, Liliana sudah tertidur, jadi postur wajahnya mengalami perubahan sehingga Jika dia terus meneruskan gambarnya, maka akan membuat gambarnya menjadi tidak enak dipandang mata.
Andi yang mendengarkan itu langsung menunduk ke bawah dan menatap bahwa istrinya benar-benar tertidur sehingga dia pun tersenyum, "aku akan memperbaiki posisi tidurnya, baru kalian melukis kami," kata Andi sembari mengangkat Liliana.
"Tolong tarik bagian bawah sofanya," ucap Andi langsung membuat Hakim dengan Zaskia berdiri lalu dia pun menarik bagian bawah sofanya dan menurunkan sandaran sofanya. Aliana pun meletakkan satu bantal di sana sebelum Andi membaringkan Liliana di sofa tersebut.
Setelah itu, Andi pun ikut berbaring di samping istrinya dan berpose seolah-olah Dia sedang menatap istrinya yang sedang tidur.
Hakim menyipitkan matanya menatap putranya, akan melelahkan bagi pria itu untuk terus tidur menyamping seperti itu dengan wajah yang ditopang menggunakan tangan.
Jangankan 5 menit, 3 menit saja akan membuat tangan menjadi kesemutan.
Oleh sebab itu, Hakim pun berkata," Apa kau baik-baik saja dengan posisimu itu?"
Andi menatap ayahnya, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucap Andi dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Meski masih merasa agak khawatir, tetapi Hakim tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya memindahkan kanvasnya supaya dia mengambil sudut terbaik untuk melukis.
Aliana dan Zaskia pun berpindah tempat untuk mengambil sudut yang bagus lalu mereka mulai melukis dan menggambar kedua orang yang berbaring di sofa.
Ketiganya melukis entah berapa lama, dan hakim yang sesekali mengangkat wajahnya untuk melihat objek yang ia lukis menatap ke arah putranya hanya untuk memastikan Apakah putranya masih kuat dalam posisinya ataukah sudah menyerah.
Dalam satu jam, Hakim mengerutkan keningnya ketika dia menatap Andi masih belum berubah posisi sedikit pun, pria itu masih setia berbaring menyamping dengan kepala di topang oleh tangannya serta tatapan yang tertuju pada Liliana.
"Kalau Ayah lelah, Ayah boleh istirahat sebentar," kata Aliana yang merasa cemas pada Andi.
Tetapi Andi kemudian menolak tawaran tersebut, "lanjutkan saja melukisnya, aku senang dengan posisi ini," ucap Andi yang memang merasa senang bisa sepuasnya menatap istrinya yang sedang terlelap.
Ketiga orang yang ada di sana pun menganggukkan kepala mereka lalu mereka pun lanjut melukis sampai akhirnya 2 jam kemudian Zaskia, Hakim Dan juga Aliana sudah menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Sudah!!" Seru Aliana hendak memutar lukisannya untuk diperlihatkan pada Andi yang masih membuka matanya, tetapi Hakim menghentikan gadis kecil itu.
"Tidak perlu diperlihatkan pada mereka, Ayo kita memberikan mereka kejutan dengan memasang semua ini di rumah baru nanti," ucap Hakim langsung membuat Aliana bersorak kegirangan.
"Tentu!!!" Kata gadis kecil itu sembari melebarkan senyuman di wajahnya dan menatap ke arah ibunya yang masih terlelap di sofa.
Dia tidak sabar mereka memasuki rumah baru mereka dan ibunya serta ayahnya bisa melihat lukisan yang ia buat.
Setelah menyimpan lukisan, Zaskia pun mengajak Aliana untuk keluar berjalan-jalan sehingga Hakim pun tidak mau ketinggalan dan ketika orang itu pun keluar dari rumah untuk berjalan-jalan.
Mereka menghabiskan beberapa jam di luar rumah sampai ketika mereka kembali mereka melihat Liliana sudah bangun dengan perempuan itu sedang meminum jus jeruk di samping suaminya yang kini menggantikan Liliana tertidur di sofa.
"Ibu!!!" Seru Aliana langsung berlari ke ibunya, gadis kecil itu menyerahkan sebuah paper bag yang berisi hadiah yang dibelikannya untuk ibunya ketika mereka berjalan-jalan di luar rumah.
"Kami membelikan hadiah untuk ibu, semoga ibu menyukainya, dan yang ini juga untuk Ayah, semoga ayah menyukainya!!!" Ucap Aliana menyerahkan sebuah paper bag berwarna hitam.
"Terima kasih sayang, terima kasih juga untuk ayah dan ibu," ucap Liliana merasa sangat senang.
"Sama-sama Bu!" Ucap Aliana segera memeluk ibunya dengan hangat.
Liliana membalas pelukan putrinya dan mencium kening gadis kecil itu dengan penuh kehangatan.
"Ibu akan ke dapur," ucap Zaskia yang mana saat mereka keluar mereka sudah membeli makan malam mereka, sekarang hanya perlu di siapkan saja di meja makan.
Hakim pun pergi ke kamarnya, Sebab Dia memiliki pekerjaan dari perusahaan yang harus ia lakukan meskipun dia tinggal di rumah.
__ADS_1
Liliana yang kini telah melepaskan pelukannya dengan Aliana, ia meletakkan paper bag milik suaminya, sementara dia pun membuka hadiah yang ada di dalam paper bag miliknya.
Setelah menarik barang yang ada di paper bag itu, Liliana segera mengukir sebuah senyum indah di wajahnya bahwa yang diberikan oleh ketiga orang itu adalah sebuah tas dari sebuah brand ternama.
"Apakah ibu suka?!" Tanya Aliana dengan mata berbinar-binarnya berharap agar ibunya menyukai tas yang ia pilih.
"Ya, ini sangat bagus, Ibu sangat menyukainya," kata Liliana memperhatikan tas di tangannya sebelum mengulurkan tangannya lalu kembali memeluk gadis kecilnya, "Terima kasih sayang, ibu sangat menyukai hadiahnya."
"Sama-sama ibuku sayang," ucap Aliana merasa sangat senang.
Andi yang tertidur kini mengerjapkan matanya dan membuka matanya ketika dia merasakan ada orang yang ribut di sekitarnya, saat pria itu ia melihat Aliana dan Liliana yang berpelukan, maka dia pun tersenyum lalu ikut duduk di samping istrinya.
"Coba peluk ayah juga," ucap Andi langsung membuat Aliana pun berpindah memeluk ayahnya dengan hangat.
"Aku bersama kakek dan nenek keluar membelikan hadiah untuk ayah, Coba lihat hadiahnya, semoga ayah menyukainya seperti ibu yang sangat menyukai hadiah dari kami!!!" Ucap Aliana sembari menunjuk paper bag yang tadi diletakkan oleh Liliana di atas meja.
"Ah,, tentu,," kata Andi pun melepaskan pelukan mereka lalu pria itu mengambil paper bag berwarna hitam yang terletak di atas meja.
Dengan hati-hati, Andi pun menarik barang yang terletak di dalam paper bag tersebut dan pria itu tersenyum ketika dia melihat bahwa barang yang ada di dalamnya adalah sebuah kotak sepatu yang berasal dari brand yang sering ia kenakan.
Setelah melepaskan kotaknya, maka Andi pun mengambil sepatu yang terletak di dalam kotak dan segera mencobanya di hadapan Liliana dan Aliana.
"Bagaiman ayah? Kakek yang mengatakan pada kami tentang ukurannya," ucap Aliana berharap sepatu itu nyaman di kaki ayahnya.
"Wah,,, ini sangat nyaman," ucap Andi sembari berdiri lalu dia melangkah beberapa kali memperlihatkan pada putrinya bahwa sepatu itu sangat nyaman ia kenakan.
"Itu sangat cocok dengan gayamu," kata Liliana mengomentari sepatu yang dikenakan oleh Andi.
"Benarkah?!" Tanya Aliana pada ibunya dengan mata berbinar-binarnya karena merasa senang bahwa hadiah yang mereka beli untuk kedua orang itu disukai dan sangat cocok digunakan oleh ayah dan ibunya.
"Tentu saja, duduklah di sini dan perhatikan dari tempat ibu melihat, Ayah sangat cocok menggunakan sepatunya," kata Liliana dijawab anggukan Aliana.
Andi pun berjalan-jalan di depan kedua orang itu sebelum dia kembali duduk di samping istrinya dan mengambil Aliana dari pangkuan istrinya.
"Ayah sangat menyukai hadiahnya, Terima kasih sayang," ucap Andi mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala Aliana.
"Sama-sama ayahku," jawab Aliana sembari mengulurkan tangan kecilnya memeluk leher pria itu.
Ketiga orang itu pun berbincang-bincang seputar hadiah yang dibawakan oleh Aliana, dan Aliana terus terpenyum-senyum sepanjang waktu karena kedua orang tuanya sangat menyukai hadiah yang ia berikan.
__ADS_1
Gadis kecil itu pun dengan antusias menceritakan perjalanan mereka di luar rumah saat tadi berjalan-jalan bersama kakek dan neneknya.